lognews.co.id, Indramayu — Potensi bisnis minyak biji randu mulai kembali dilirik di tengah meningkatnya kebutuhan bahan baku industri berbasis nabati dan tren pemanfaatan produk ramah lingkungan. Selama ini, pohon randu atau kapuk lebih dikenal sebagai penghasil serat untuk isi kasur, bantal, hingga jok. Namun di balik itu, biji randu atau yang dikenal masyarakat sebagai kelenteng ternyata menyimpan nilai ekonomi tinggi karena dapat diolah menjadi minyak nabati berkualitas. (14/5/26).
Minyak biji randu dihasilkan melalui proses pemecahan biji, penumbukan, hingga pengempaan untuk memisahkan minyak dari bungkil. Dari proses tersebut dihasilkan minyak berwarna keemasan transparan dengan kandungan protein lebih dari 30 persen. Kandungan lemaknya yang tinggi membuat minyak ini memiliki peluang besar dimanfaatkan sebagai bahan baku industri sabun, kosmetik, pelumas nabati, hingga produk turunan lainnya.
Sejumlah pelaku usaha pengolahan minyak randu di Jawa Timur menyebutkan, proses produksi relatif sederhana dan dapat dikembangkan dalam skala kecil maupun menengah. Tahapan awal dilakukan dengan memisahkan biji randu dari serat menggunakan sistem pengembus udara agar tidak terjadi kontaminasi kapuk. Setelah itu, biji dimasukkan ke mesin penumbuk hingga lumat sebelum akhirnya diproses melalui pengempa ulir untuk menghasilkan minyak dan bungkil secara terpisah.
Bungkil hasil pengempaan juga masih memiliki nilai ekonomi karena dapat dimanfaatkan sebagai bahan campuran pakan ternak maupun pupuk organik setelah melalui pengolahan tertentu. Dengan demikian, hampir seluruh bagian biji randu memiliki potensi komersial sehingga limbah produksi dapat ditekan seminimal mungkin.
Secara bisnis, minyak biji randu memiliki peluang pasar yang cukup terbuka karena masuk dalam kategori minyak nabati alternatif. Di tengah meningkatnya kampanye energi hijau dan bahan baku berkelanjutan, produk-produk berbasis tumbuhan mulai banyak dibutuhkan industri. Indonesia yang berada di wilayah tropis dan khatulistiwa dinilai memiliki keunggulan iklim untuk pengembangan tanaman randu secara massal.
Selain itu, pohon randu tergolong tanaman tahunan yang relatif tahan terhadap kondisi lahan kering dan tidak membutuhkan perawatan intensif seperti komoditas perkebunan lain. Hal tersebut membuka peluang pengembangan randu di lahan marginal maupun kawasan hutan rakyat yang selama ini belum produktif secara optimal.
Meski demikian, tantangan utama pengembangan bisnis minyak biji randu terletak pada ketersediaan bahan baku. Populasi pohon randu dalam beberapa tahun terakhir terus menurun akibat merosotnya permintaan serat kapuk. Masyarakat kini lebih banyak menggunakan bahan sintetis seperti dakron dan busa untuk kebutuhan rumah tangga maupun industri furnitur.
Kondisi itu menyebabkan banyak pohon randu ditebang atau tidak lagi dirawat secara serius oleh petani. Padahal, jika pengolahan biji randu dikembangkan secara modern dan terintegrasi, komoditas tersebut berpotensi menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat pedesaan.
Periset Balai Pengujian Standar Instrumen Tanaman Pemanis dan Serat, Dr. Drs. Marjani, M.P., menilai selama ini perhatian terhadap tanaman randu cenderung terbatas hanya sebagai penghasil kapuk. Padahal, bagian bijinya memiliki potensi ekonomi yang cukup besar apabila dikelola dengan pendekatan industri hilir.
Selain minyak dan bungkil, pohon randu juga memiliki potensi tambahan dari produksi madu saat musim berbunga. Hal ini membuat randu dapat dikembangkan sebagai komoditas multiproduk yang mampu meningkatkan nilai ekonomi tanaman secara keseluruhan.
Dari sisi investasi, bisnis minyak biji randu dinilai masih memiliki peluang besar karena belum banyak pemain yang menggarap sektor tersebut secara serius. Pasar domestik maupun ekspor untuk produk minyak nabati alternatif diperkirakan terus tumbuh seiring meningkatnya kebutuhan industri terhadap bahan baku alami dan berkelanjutan.
Jika didukung penguatan budidaya, teknologi pengolahan, serta kepastian pasar, minyak biji randu berpotensi menjadi komoditas agroindustri baru yang mampu menggerakkan ekonomi masyarakat sekaligus mendukung diversifikasi produk perkebunan nasional. (Amri-untuk Indonesia)



