Indramayu, lognews.co.id – Perguruan tinggi tidak cukup hanya mencetak lulusan yang terampil memasuki dunia kerja. Pendidikan harus mampu membangun kemandirian berpikir, mengembangkan potensi manusia, dan melahirkan inovasi yang memberikan dampak nyata bagi masyarakat.
Gagasan tersebut disampaikan Prof. Ir. Muhammad Iqbal Djawad, M.Sc., Ph.D., dalam kuliah umum pada peringatan 98 Tahun Hari Sumpah Pemuda di Grand Musholla Rahmatan lil Alamin, Kampus Ma’had Al-Zaytun, Indramayu, Rabu (28/10/2026). Kegiatan ini mengusung tema “Menyongsong 100 Tahun Kelahiran Indonesia Raya”.
Dalam pemaparannya yang bertajuk Point of No Return, Prof. Iqbal menegaskan bahwa pendidikan tinggi harus berani melakukan transformasi mendasar. Menurutnya, perguruan tinggi tidak boleh berhenti pada pewarisan pengetahuan dan pembentukan keterampilan profesional, tetapi juga harus mengembangkan kemampuan mahasiswa untuk berpikir kritis, mandiri, dan menghadapi perubahan.
“Al-Zaytun tidak akan mengikuti perubahan, tapi sejatinya harus menciptakan perubahan,” tegas Prof. Iqbal.
Pernyataan tersebut menjadi penekanan utama dalam gagasannya mengenai masa depan pendidikan tinggi. Institusi pendidikan dituntut tidak hanya menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman, tetapi juga mengambil peran dalam menciptakan arah baru bagi masyarakat dan peradaban.
Point of No Return: Pendidikan Tinggi Harus Bertransformasi
Prof. Iqbal menggunakan istilah point of no return untuk menggambarkan bahwa pendidikan tinggi telah berada pada titik ketika perubahan menjadi keniscayaan.
Ia menilai bahwa selama ini perguruan tinggi cenderung menitikberatkan proses pendidikan pada pembentukan kompetensi yang dibutuhkan dunia kerja. Padahal, mahasiswa sebagai orang dewasa juga membutuhkan ruang untuk mengembangkan potensi, kemandirian, dan kemampuan berpikir kritis.
Dalam pemaparannya, ia membedakan dua orientasi pendidikan yang disebutnya sebagai EduCare dan EduShare. Keduanya digunakan untuk menjelaskan pentingnya memperhatikan kemampuan profesional sekaligus pengembangan potensi manusia.
Orientasi EduCare berkaitan dengan pembekalan pengetahuan dan keterampilan agar mahasiswa mampu menghadapi kebutuhan kehidupan profesional. Sementara itu, EduShare menekankan pengembangan potensi, kemandirian berpikir, dan kemampuan melampaui batasan yang ada dalam menghadapi perubahan.
Menurut Prof. Iqbal, pendidikan tidak cukup hanya mewariskan budaya belajar dari generasi sebelumnya. Generasi masa kini menghadapi lingkungan dan tantangan yang berbeda sehingga membutuhkan kemampuan untuk mengembangkan pemikiran secara mandiri.
Ia juga mengingatkan bahwa Tridharma Perguruan Tinggi, yang mencakup pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, harus dimaknai lebih jauh daripada sekadar pemenuhan kewajiban akademik.
Ketiga pilar tersebut perlu mendukung sistem pendidikan yang relevan, fleksibel, dan inklusif, sekaligus mempersiapkan mahasiswa menghadapi tantangan karier, kehidupan sosial, dan persoalan personal.
Pendidikan Harus Membangun Peradaban, Bukan Sekadar Menghasilkan Lulusan
Dalam pandangan Prof. Iqbal, aset pendidikan dan fasilitas yang dimiliki suatu institusi tidak akan memberikan arti maksimal apabila tidak diarahkan untuk membangun peradaban manusia.
Ia menekankan pentingnya budaya akademik yang mendorong kebebasan berpikir kritis dan kemandirian di lingkungan sivitas akademika Al-Zaytun.
“Segala aset pendidikan dan semua sarana dan prasarana yang ada di sini, di Al-Zaytun, tidak akan bermakna apa pun, bahkan menjadi sekarat bila tidak ditujukan untuk membangun peradaban manusia,” ungkapnya.
Pembangunan peradaban yang dimaksud mencakup kontribusi pada tingkat lokal, nasional, regional, hingga global. Karena itu, keberhasilan perguruan tinggi tidak semata-mata diukur dari tersedianya fasilitas atau jumlah lulusan, tetapi juga dari kemampuan institusi menghasilkan pengetahuan, inovasi, dan dampak sosial.
Prof. Iqbal turut menyoroti visi Al-Zaytun sebagai pusat pendidikan dan pengembangan budaya toleransi serta perdamaian menuju masyarakat yang sehat dan cerdas. Ia menilai visi tersebut memiliki relevansi strategis dengan kondisi dan lingkungan geopolitik Indonesia.
Dalam konteks pendidikan tinggi, visi tersebut perlu diterjemahkan menjadi program nyata yang mendorong kepemimpinan, tanggung jawab sosial, penelitian, dan kolaborasi lintas disiplin.
Politeknik Al-Zaytun dan Pengembangan Human Capital
Prof. Iqbal juga menekankan pentingnya memandang manusia bukan semata-mata sebagai sumber daya yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan ekonomi, melainkan sebagai modal manusia atau *human capital* yang memiliki potensi untuk dikembangkan.
Menurutnya, pendidikan tinggi harus mampu mengembangkan potensi tersebut agar lulusan tidak hanya memiliki kompetensi profesional, tetapi juga kepemimpinan dan tanggung jawab sosial.
Ia menyoroti pentingnya keberlanjutan dan dampak sosial pendidikan, termasuk kontribusi terhadap pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) 2030.
Dalam pemaparannya, Prof. Iqbal mengapresiasi gagasan pembangunan Al-Zaytun yang berorientasi hingga 2050. Ia menyampaikan ketertarikannya untuk mempelajari lebih jauh gagasan tersebut karena dinilainya memiliki arah strategis dalam pengembangan pendidikan.
“Al-Zaytun harus menjadi pusat inovasi sosial yang menghasilkan lulusan dengan jiwa kepemimpinan dan bertanggung jawab secara sosial,” ujarnya.
Ia berharap Politeknik Al-Zaytun dapat memperkuat jejaring dengan pemerintah, industri, masyarakat, dan komunitas internasional. Kolaborasi tersebut diperlukan agar pendidikan tinggi memberikan manfaat yang berkelanjutan bagi pembangunan di berbagai tingkatan.
Communiversity: Menyatukan Kampus, Industri, dan Masyarakat
Salah satu gagasan strategis yang disampaikan Prof. Iqbal adalah konsep *communiversity*, yakni pendekatan yang menghubungkan perguruan tinggi dengan masyarakat dan industri dalam ekosistem kolaborasi serta inovasi.
Menurutnya, atmosfer akademik dan kemitraan industri perlu dibangun melalui prinsip *co-creation*, yaitu proses menciptakan pengetahuan dan inovasi secara bersama.
Ia menggunakan istilah knowledge server untuk menggambarkan peran perguruan tinggi sebagai penyelia ilmu pengetahuan yang dapat diakses, dikembangkan, dan dimanfaatkan bagi kepentingan masyarakat.
Dalam kerangka communiversity, lingkungan masyarakat dan industri tidak hanya menjadi pihak yang menerima hasil pendidikan, tetapi juga menjadi bagian dari proses pembelajaran, penelitian, dan pengembangan inovasi.
Prof. Iqbal menjelaskan bahwa lingkungan di sekitar perguruan tinggi dapat berfungsi sebagai laboratorium hidup yang menyediakan ruang praktik, infrastruktur, dan peluang hilirisasi hasil penelitian.
Pendekatan tersebut membuka kesempatan bagi perguruan tinggi untuk menghubungkan kegiatan akademik dengan persoalan nyata masyarakat. Hasil penelitian dapat dikembangkan menjadi inovasi yang memiliki nilai guna, sekaligus berpotensi mendukung keberlanjutan pendanaan institusi.
Ia juga menyoroti hubungan antara pendidikan, ekonomi, dan kesejahteraan masyarakat. Pendidikan, menurut perspektif yang disampaikannya, harus memberikan kontribusi terhadap peningkatan kesejahteraan, sementara kondisi masyarakat yang lebih baik turut mendukung kualitas pendidikan.
Dengan demikian, kampus tidak seharusnya berdiri terpisah dari kehidupan masyarakat, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pembangunan.
Kepemimpinan Visioner dan Budaya Inovasi
Transformasi pendidikan tinggi, menurut Prof. Iqbal, tidak cukup dilakukan melalui perubahan dokumen atau pemenuhan standar administratif. Perubahan harus menyentuh budaya organisasi dan tercermin dalam tindakan nyata.
Ia menekankan pentingnya keteladanan kepemimpinan sebagai penggerak perubahan budaya.
“Kita boleh radikal, tetapi dalam bentuk keteladanan. Tanpa keteladanan, transformasi budaya hanya menjadi catatan administrasi yang tidak membuat perubahan apa pun,” ungkapnya.
Pernyataan tersebut menekankan bahwa visi institusi harus diikuti konsistensi antara cita-cita dan tindakan. Pemimpin perlu memberikan contoh nyata sekaligus membuka ruang bagi sivitas akademika untuk berpartisipasi dalam proses transformasi.
Selain kepemimpinan, Prof. Iqbal menyoroti pentingnya pengembangan inkubator inovasi, pusat riset terintegrasi, serta ruang kerja kolaboratif. Fasilitas tersebut diharapkan dapat mempercepat pengembangan gagasan dan mendorong lahirnya inovasi baru.
Ia juga menekankan perlunya saluran komunikasi yang efektif dan terbuka agar seluruh sivitas akademika dapat menyampaikan ide serta masukan terkait perubahan budaya organisasi.
Dengan lingkungan akademik yang kolaboratif, inovasi tidak hanya menjadi tanggung jawab individu atau kelompok tertentu, tetapi menjadi bagian dari budaya institusi.
Agrokompleks dan Maritim sebagai Arah Strategis Al-Zaytun
Pada bagian akhir pemaparannya, Prof. Iqbal menegaskan bahwa arah pengembangan Politeknik Al-Zaytun perlu selaras dengan kapasitas dan keunikan geopolitik Indonesia, khususnya di bidang agrokompleks dan maritim.
Kedua bidang tersebut memiliki peran penting dalam pembangunan nasional karena berkaitan dengan ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya alam, pengembangan ekonomi, serta kesejahteraan masyarakat.
Penguatan pendidikan, penelitian terapan, dan kolaborasi industri di bidang agrokompleks dan maritim dapat membuka peluang bagi Al-Zaytun untuk berkontribusi dalam pengembangan pengetahuan dan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan Indonesia.
Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, perguruan tinggi perlu membangun kemitraan yang luas dan tidak bekerja secara terisolasi.
“Politeknik Tanah Air Indonesia Raya tidak boleh berada di ruang hampa menara gading dan merasa mampu berjalan sendiri, melainkan harus hadir bersama di ruang-ruang rumah besar, memberi gagasan inovatif, kolaborasi lintas disiplin, dan membangun jejaring global,” tutur Prof. Iqbal.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya keterlibatan berbagai pihak, termasuk alumni, mitra industri, masyarakat, dan sivitas akademika, dalam mendukung transformasi institusi.
Menatap Masa Depan Pendidikan Indonesia
Kuliah umum Prof. Iqbal Djawad memberikan penekanan bahwa tantangan pendidikan tinggi tidak berhenti pada kemampuan menghasilkan lulusan yang siap bekerja. Perguruan tinggi juga dituntut membangun manusia yang mandiri, mampu berpikir kritis, dan dapat memberikan kontribusi bagi pembangunan masyarakat.
Gagasan EduCare dan EduShare, pengembangan human capital, konsep communiversity, serta penguatan inovasi agrokompleks dan maritim menjadi bagian dari perspektif yang disampaikan dalam kuliah umum tersebut.
Bagi Al-Zaytun, tantangan berikutnya adalah menerjemahkan visi tersebut ke dalam ekosistem pendidikan yang terintegrasi, kolaboratif, dan mampu menghasilkan dampak yang terukur.
Prof. Iqbal menutup pemaparannya dengan kembali menegaskan gagasan utama yang menjadi judul kuliah umumnya, *point of no return*. Pendidikan tinggi harus terus bergerak maju untuk menjawab tantangan perubahan dan mengambil peran dalam pembangunan peradaban.
Dengan demikian, perguruan tinggi tidak cukup hanya mengikuti perkembangan zaman. Institusi pendidikan harus berani mengembangkan gagasan baru, membangun kolaborasi, dan menciptakan inovasi yang memberikan manfaat bagi masyarakat Indonesia maupun dunia. (Nimas Untuk Indonesia)



