INDRAMAYU, Lognews.co.id - Perubahan dunia yang berlangsung cepat menuntut lembaga pendidikan tidak hanya menghasilkan manusia yang memiliki kemampuan akademik, tetapi juga pribadi yang memiliki kesadaran diri, kekuatan spiritual, serta kemampuan untuk hidup mandiri.
Gagasan tersebut menjadi salah satu pesan yang mengemuka dalam Qobliyah Jumat Syaykh Al Zaytun pada 2 Oktober 2026. Pembahasan yang disampaikan mencakup berbagai isu, mulai dari pengembangan pendidikan dan politeknik, perkembangan geopolitik global, ketahanan energi dan air, hingga masa depan pesantren.
Berbagai persoalan tersebut bermuara pada satu gagasan utama, yakni pentingnya membangun manusia yang memiliki kesadaran diri sekaligus kemampuan untuk berdiri secara mandiri di tengah perubahan zaman.
Pembahasan diawali dari rencana Al Zaytun menggelar lokakarya bersama tim dari IPB Bogor untuk pengembangan politeknik. Kegiatan tersebut direncanakan bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda.
Namun, lokakarya tersebut tidak hanya diarahkan pada pengembangan aspek akademik dan kelembagaan. Ada dimensi spiritual yang juga menjadi perhatian.
Dalam pandangan yang disampaikan Syaykh, pendidikan tidak cukup hanya memberikan keterampilan dan pengetahuan. Pendidikan juga harus menyentuh kesadaran manusia mengenai dirinya sendiri.
Pertanyaan mengenai siapa diri manusia, apa kelebihan dan kekurangannya, serta untuk apa manusia hidup menjadi bagian dari proses refleksi tersebut.
Kesadaran terhadap diri kemudian dipertautkan dengan kesadaran kepada Tuhan atau hablum minallah. Hubungan tersebut tidak berhenti pada praktik ritual secara individual, tetapi diharapkan tercermin dalam hubungan manusia dengan sesama.
Empati, solidaritas, kepedulian, dan kesediaan untuk hidup bersama menjadi bagian dari konsekuensi spiritualitas yang dibangun.
"Pembangunan spiritual adalah membangun kesadaran diri."
Pesan tersebut menempatkan spiritualitas sebagai salah satu fondasi penting dalam pendidikan. Sekolah, kampus, politeknik, maupun pesantren tidak hanya dituntut menghasilkan manusia yang mampu menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, tetapi juga manusia yang memahami dirinya, tujuan hidupnya, serta tanggung jawabnya terhadap lingkungan sosial.
Pendidikan Menghadapi Perubahan Dunia
Perubahan global juga menjadi bagian dari pembahasan. Dalam Qobliyah Jumat tersebut, dunia digambarkan sedang memasuki fase ketika negara-negara kembali memperkuat ketahanan nasional masing-masing.
Perubahan arah geopolitik membuat kepentingan nasional kembali menjadi perhatian. Negara tidak hanya berusaha memperkuat posisi politik, tetapi juga memastikan ketersediaan sumber daya strategis bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat.
Salah satu yang menjadi sorotan adalah energi.
Minyak tidak hanya berkaitan dengan kebutuhan transportasi, tetapi juga menjadi bagian penting dari industri, ekonomi, hingga pertahanan. Penguasaan produksi dan jalur distribusi energi memiliki konsekuensi strategis bagi sebuah negara.
Namun, terdapat sumber daya lain yang tidak kalah penting, yaitu air.
Air merupakan kebutuhan mendasar manusia dan salah satu penentu keberlangsungan kehidupan. Sejarah peradaban menunjukkan bahwa banyak pusat kehidupan manusia berkembang di sekitar sumber air.
Pertanian, peternakan, industri, hingga kehidupan masyarakat sangat bergantung pada ketersediaan air.
Karena itu, pembicaraan mengenai air tidak semata-mata persoalan teknis, tetapi berkaitan dengan keberlanjutan kehidupan dan peradaban.
Al Zaytun dan Gagasan Ketahanan Air
Dalam konteks tersebut, Al Zaytun disebut telah menggagas sumber air yang dinamakan Hammayim.
Gagasan tersebut ditempatkan dalam visi jangka panjang untuk mempersiapkan kebutuhan air bagi kehidupan di masa mendatang.
Pesan yang hendak disampaikan adalah bahwa masa depan tidak cukup hanya diprediksi. Masa depan perlu dipersiapkan sejak sekarang.
Persiapan tersebut dapat dilakukan melalui pendidikan, pengembangan teknologi, penguatan energi, maupun pengelolaan sumber daya alam secara berkelanjutan.
Kemampuan membaca kebutuhan dalam jangka panjang kemudian menjadi bagian dari mentalitas kemandirian.
Spirit Pesantren Adalah Kemandirian
Kemandirian menjadi salah satu tema penting dalam Qobliyah Jumat tersebut.
Syaykh menggunakan istilah pesantren spirit untuk menggambarkan semangat yang seharusnya dimiliki sebuah lembaga pendidikan pesantren.
Spirit pesantren, dalam pandangan tersebut, tidak hanya ditentukan oleh bangunan, pakaian, nama institusi, maupun jumlah santri. Lebih jauh, hakikatnya adalah kemampuan untuk berdiri secara mandiri.
Mandiri berarti memiliki kemampuan untuk memenuhi kebutuhan sendiri dan tidak selalu bergantung kepada pihak lain.
Sebuah lembaga pendidikan bahkan diharapkan mampu memberikan kontribusi kepada masyarakat.
Prinsip tersebut dikaitkan dengan nilai al yad al ulya khairun min al yad al sufla, yang secara umum dimaknai bahwa tangan yang di atas lebih baik daripada tangan yang di bawah.
Pesantren diharapkan mampu membangun sistem ekonomi, mengembangkan sumber daya manusia, serta memiliki kemampuan mengambil keputusan dan menghadapi berbagai tantangan.
Kemandirian tersebut bukan berarti memutus hubungan dengan negara atau pihak lain. Sebaliknya, lembaga tetap dapat bekerja sama dengan berbagai pihak tanpa kehilangan independensinya.
Kemandirian Diuji dalam Kondisi Sulit
Dalam Qobliyah Jumat tersebut juga disampaikan pengalaman Al Zaytun dalam menghadapi persoalan sumber daya.
Syaykh menyampaikan bahwa Al Zaytun pernah memilih mengembalikan dana Bantuan Operasional Sekolah atau BOS. Selain itu, disebutkan pula bahwa dana yang dimiliki Al Zaytun pernah mengalami pembekuan selama sekitar tiga tahun.
Meski demikian, kegiatan institusi disebut tetap berjalan.
Pengalaman tersebut kemudian dipandang sebagai salah satu bentuk pengujian terhadap prinsip kemandirian.
Kemandirian tidak berhenti sebagai gagasan atau slogan. Kemandirian diuji ketika sumber daya terbatas, dukungan berkurang, dan institusi harus mencari jalan untuk tetap menjalankan aktivitasnya.
Dalam konteks pendidikan, kemampuan bertahan tersebut menjadi bagian dari daya hidup sebuah lembaga.
Pendidikan Tidak Cukup Mengejar Kemajuan Teknologi
Gagasan yang disampaikan dalam Qobliyah Jumat tersebut pada akhirnya tidak hanya berbicara mengenai Al Zaytun, tetapi juga menyentuh tantangan pendidikan secara lebih luas.
Lembaga pendidikan tidak cukup hanya mengejar akreditasi, membangun fasilitas modern, atau mengadopsi teknologi terbaru.
Semua hal tersebut penting, tetapi belum cukup untuk membentuk manusia yang mampu menghadapi perubahan zaman.
Pendidikan juga perlu menghasilkan manusia yang memiliki kesadaran diri, memahami tanggung jawab kepada Tuhan dan sesama, serta memiliki kemampuan untuk berdiri secara mandiri.
Kecanggihan teknologi tanpa kesadaran dapat kehilangan arah. Ilmu pengetahuan tanpa integritas berpotensi kehilangan makna. Sementara kemajuan tanpa solidaritas dapat menciptakan jarak sosial.
Sebaliknya, spiritualitas yang diterjemahkan dalam ilmu pengetahuan, kerja, kemandirian ekonomi, kepedulian sosial, dan perencanaan masa depan dapat menjadi kekuatan bagi kehidupan masyarakat.
Karena itu, pendidikan dan pembangunan spiritual dipandang tidak seharusnya dipisahkan.
Menjaga Integritas dan Nalar Kritis
Dalam pembahasan mengenai kondisi sosial umat, Syaykh juga menyampaikan kritik terhadap sejumlah persoalan integritas yang menurut pandangannya terjadi di sebagian lingkungan organisasi keagamaan.
Sejumlah klaim dan pandangan yang muncul dalam pembahasan tersebut tentunya memerlukan verifikasi tersendiri. Namun, dari sisi pesan moral, terdapat penekanan mengenai pentingnya menjaga integritas, nalar kritis, serta kewaspadaan terhadap informasi yang beredar di ruang publik.
Masyarakat yang kuat bukan hanya masyarakat yang aktif berbicara, tetapi juga masyarakat yang mampu berpikir, memeriksa informasi, mengendalikan diri, serta membangun sesuatu yang memiliki keberlanjutan.
Memaknai Sumpah Pemuda di Era Baru
Rencana lokakarya pengembangan politeknik yang dikaitkan dengan momentum Sumpah Pemuda juga memberikan konteks tersendiri.
Hampir satu abad setelah pemuda Indonesia mengikrarkan satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa, tantangan generasi saat ini telah berkembang.
Generasi muda tidak hanya dituntut menjaga persatuan bangsa, tetapi juga menghadapi tantangan ketahanan pangan, energi, air, pendidikan, ekonomi, hingga ketahanan mental dan spiritual.
Sebuah bangsa pada akhirnya tidak hanya dibangun melalui infrastruktur, teknologi, jalan raya, jaringan digital, maupun mesin.
Bangsa dibangun oleh manusia.
Manusia yang memahami dari mana ia berpijak dan ke mana hendak berjalan. Manusia yang tidak mudah kehilangan arah ketika dunia berubah. Manusia yang mampu memberi ketika orang lain membutuhkan. Serta manusia yang memahami bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari seberapa tinggi seseorang berdiri, tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada kehidupan.
Dari Qobliyah Jumat pada awal Oktober tersebut, pesan yang disampaikan bermuara pada satu gagasan besar: membangun spiritualitas, memperkuat ilmu pengetahuan, mempersiapkan sumber daya, dan menegakkan kemandirian.
Sebab masa depan tidak datang dengan sendirinya. Masa depan perlu dipersiapkan sejak hari ini. (Ali Aminulloh)


