Lognews.co.id – Upaya menjaga kelestarian lingkungan pesisir tidak hanya dilakukan melalui kegiatan pemerintah maupun komunitas lingkungan. Di Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, para pelajar SMAN 1 Tanjung Harapan turut mengambil peran melalui gerakan pelestarian mangrove yang terintegrasi dengan kegiatan pembelajaran di sekolah.
Hal tersebut terungkap dalam Talkshow BN PPN 1011 di Radio Prima 95,8 FM, yang digelar pada Rabu, 30 September 2026. Dalam talkshow tersebut, Radio Prima 95,8 FM terhubung langsung dengan Ghoma Dian Sahara, Kepala SMAN 1 Tanjung Harapan, Kabupaten Paser, Kalimantan Timur, untuk membahas gerakan pelajar dalam menjaga ekosistem mangrove di wilayah pesisir.
Ghoma mengatakan, gerakan tersebut berangkat dari kepedulian sekolah terhadap kondisi ekosistem mangrove di wilayah pesisir Tanjung Harapan.
Menurutnya, sekolah menjadikan mangrove sebagai bagian dari pembelajaran berbasis kearifan lokal. Pendekatan tersebut diterapkan melalui kegiatan kokurikuler, intrakurikuler, hingga ekstrakurikuler.
"Karena kita berada di lingkungan pesisir, sehingga tema kokurikuler kita adalah mangrove," ujar Ghoma dalam Talkshow BN PPN 1011 di Radio Prima 95,8 FM.
Ia menjelaskan, materi mengenai mangrove juga dimasukkan ke dalam pembelajaran sejumlah mata pelajaran. Misalnya, pada mata pelajaran biologi, mangrove digunakan sebagai salah satu objek pembelajaran ketika siswa mempelajari tumbuhan.
Sementara dalam pembelajaran matematika, siswa dapat mempelajari pengukuran dengan menggunakan objek mangrove, seperti menghitung diameter batang.
"Jadi kita pendekatan dengan alam. Kearifan lokal pendekatan dengan alam," katanya.
Berawal dari Kepedulian Guru dan Pelajar
Ghoma mengungkapkan, gerakan tersebut muncul dari inisiatif guru dan siswa yang ingin memberikan kontribusi nyata terhadap lingkungan, khususnya karena kerusakan ekosistem mangrove di wilayah tersebut dinilai cukup masif.
Untuk mengetahui kondisi kawasan secara lebih jelas, pihak sekolah juga melakukan pemetaan dan survei terhadap sejumlah titik yang dianggap membutuhkan penanaman mangrove.
"Kita survei dulu titik-titik yang memang bisa kita lakukan penanaman. Kemudian kita coba trial and error," jelasnya.
Menurut Ghoma, proses tersebut penting karena tidak semua lokasi memiliki tingkat keberhasilan penanaman yang sama. Para siswa bersama guru kemudian melakukan sejumlah eksperimen untuk mengetahui metode dan lokasi penanaman yang dapat membuat mangrove bertahan hidup.
Green Mangrove Generation Libatkan Siswa dan Guru
Untuk memperkuat gerakan tersebut, SMAN 1 Tanjung Harapan juga memiliki komunitas yang melibatkan siswa dan guru bernama Green Mangrove Generation (GMG).
Komunitas tersebut menjadi wadah bagi para pelajar untuk terlibat langsung dalam berbagai kegiatan pelestarian mangrove.
Ghoma menjelaskan, kegiatan GMG diawali dengan memberikan pemahaman kepada para siswa mengenai pentingnya menjaga lingkungan dan ekosistem mangrove.
Tahap berikutnya dilakukan melalui pembibitan mangrove. Bibit diambil dari alam, kemudian dibesarkan hingga mencapai kondisi yang cukup untuk dipindahkan kembali ke habitatnya.
"Gerakan kami salah satunya adalah sosialisasi pemahaman terhadap anak dulu. Kemudian kita mulai melakukan pembibitan, mengambil bibit dari alam dan kita besarkan. Setelah cukup umur, kita pindahkan ke habitatnya," ungkapnya.
Pembelajaran Tidak Berhenti di Ruang Kelas
Kegiatan tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai lingkungan tidak hanya dilakukan melalui teori di ruang kelas. Para siswa mendapatkan pengalaman langsung melalui kegiatan pembibitan, survei lokasi hingga penanaman mangrove.
Bagi sekolah, keterlibatan pelajar dalam pelestarian lingkungan sekaligus menjadi bagian dari pendidikan karakter. Siswa tidak hanya memahami pentingnya ekosistem pesisir, tetapi juga belajar mengenai tanggung jawab dan kontribusi terhadap lingkungan di sekitar mereka.
Ghoma mengatakan, kegiatan tersebut masih terus dikembangkan. Sekolah melakukan evaluasi terhadap lokasi penanaman dan mencoba berbagai metode untuk mengetahui tingkat keberhasilan pertumbuhan mangrove.
"Kita coba trial and error dengan anak-anak," katanya.
Gerakan yang dilakukan SMAN 1 Tanjung Harapan menjadi contoh bagaimana kearifan lokal dapat diintegrasikan ke dalam proses pendidikan. Mangrove tidak hanya dipelajari sebagai materi di sekolah, tetapi juga dijadikan objek pembelajaran sekaligus bagian dari aksi nyata pelajar dalam menjaga lingkungan.
Pembahasan mengenai gerakan tersebut menjadi salah satu topik dalam Talkshow BN PPN 1011 Radio Prima 95,8 FM pada Rabu, 30 September 2026, yang menghadirkan langsung pihak sekolah dari Kabupaten Paser, Kalimantan Timur.
Melalui keterlibatan guru dan pelajar, upaya pelestarian mangrove diharapkan tidak berhenti pada kegiatan penanaman, tetapi berkembang menjadi kesadaran lingkungan yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. (Saheel untuk Indonesia)




