Saturday, 19 September 2026

Pelajar Al Zaytun Belajar Menanam hingga Menggiling Beras Lewat Ekstrakurikuler Pertanian

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, LogNews.co.id – Hamparan sawah di Lahan Praktikum Pelajar Mahad Al Zaytun, Kabupaten Indramayu, menjadi ruang belajar yang berbeda bagi puluhan pelajar Madrasah Aliyah (MA) Al Zaytun pada Sabtu (19/9/2026). Mereka tidak duduk di dalam kelas, melainkan memegang arit, memanen padi Koshihikari, mengangkut gabah, hingga mengikuti proses perontokan hasil panen secara langsung.

Kegiatan panen padi varietas premium asal Jepang itu menjadi bagian dari pembelajaran ekstrakurikuler pertanian yang diterapkan Mahad Al Zaytun. Melalui program ini, pelajar tidak hanya mempelajari teori pertanian, tetapi menjalani seluruh proses budidaya dari awal hingga menghasilkan beras.

Guru Pembimbing Ekstrakurikuler Pertanian Mahad Al Zaytun, Harianto Mardhoni, mengatakan konsep pembelajaran tersebut dirancang agar pelajar memperoleh pengalaman nyata di lapangan.

"Ekstrakurikuler pertanian ini bukan hanya belajar cara menanam padi. Pelajar mengikuti seluruh proses, mulai dari menanam, merawat, memanen, sampai menggiling gabah menjadi beras," ujarnya.

Sawah Menjadi Laboratorium Pembelajaran

Berbeda dengan praktik pertanian yang hanya dilakukan sesekali, ekstrakurikuler pertanian di Al Zaytun berlangsung selama satu musim tanam. Pelajar kelas XI dan XII terlibat sejak pengolahan lahan hingga panen padi Koshihikari yang membutuhkan waktu sekitar 122 hari.

Harianto menjelaskan lahan pertanian dijadikan laboratorium terbuka untuk menghubungkan materi pelajaran di kelas dengan praktik di lapangan.

Menurutnya, pelajar belajar menghitung kebutuhan benih, mengenali pertumbuhan tanaman, mengendalikan hama, hingga memahami waktu panen berdasarkan kondisi tanaman.

"Harapannya mereka tidak hanya tahu teori di buku, tetapi benar-benar memahami bagaimana proses budidaya pertanian berlangsung," katanya.

Ilmu Kelas Langsung Dipraktikkan

Harianto menuturkan kegiatan pertanian memiliki keterkaitan dengan berbagai mata pelajaran yang dipelajari di sekolah.

Dalam praktik budidaya padi, pelajar menerapkan ilmu biologi untuk mengenali penyakit tanaman, matematika untuk menghitung populasi dan kebutuhan tanam, kimia untuk memahami unsur hara, serta fisika untuk mempelajari pengairan dan kondisi lahan.

Ekstrakurikuler tersebut juga mendukung mata pelajaran Pendidikan Kewirausahaan (PKWU) melalui pengalaman mengelola proses produksi pertanian secara langsung.

"Semua mata pelajaran itu menjadi lebih mudah dipahami ketika pelajar melihat dan mempraktikkannya sendiri di lapangan," jelas Harianto.

Belajar Bertani Tidak Berhenti di Masa Panen

Panen menjadi salah satu tahapan penting dalam pembelajaran, tetapi bukan tahap terakhir. Setelah gabah dipanen, pelajar juga mengikuti proses perontokan dan pengolahan hasil panen sebelum menjadi beras.

Melalui tahapan tersebut, pelajar memahami bahwa pertanian merupakan rangkaian proses yang saling berkaitan, mulai dari produksi hingga menghasilkan pangan siap konsumsi.

Harianto menyebut pengalaman itu diharapkan membentuk pemahaman yang lebih utuh tentang dunia pertanian modern.

Menumbuhkan Ketertarikan Generasi Muda pada Pertanian

Kegiatan panen juga memberikan pengalaman berbeda bagi para pelajar. Salah seorang pelajar kelas XII, Fathur Rahman Al-Sidqi, mengaku kegiatan turun langsung ke sawah membuat dirinya melihat pertanian sebagai bidang yang memiliki peran penting bagi masa depan Indonesia.

Menurutnya, anak muda perlu lebih mengenal dunia pertanian karena pangan menjadi kebutuhan dasar yang akan selalu dibutuhkan masyarakat.

"Kami belajar bagaimana proses menghasilkan beras itu tidak sederhana. Dari sini kami jadi memahami pentingnya pertanian untuk kehidupan masyarakat," katanya.

Sementara itu, pelajar lainnya, Ayunik Nuri Salma, berharap semakin banyak generasi muda yang tertarik mempelajari pertanian dan ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan petani di Indonesia.

Pendidikan yang Dekat dengan Kehidupan Sehari-hari

Mahad Al Zaytun menjadikan ekstrakurikuler pertanian sebagai salah satu media pembelajaran berbasis praktik. Melalui kegiatan tersebut, pelajar tidak hanya memperoleh keterampilan bertani, tetapi juga belajar tentang tanggung jawab, kerja sama, dan proses menghasilkan pangan.

Panen padi Koshihikari menjadi bukti bahwa proses belajar dapat berlangsung di luar ruang kelas dengan memanfaatkan lingkungan sekitar sebagai sarana pendidikan.

Dengan melibatkan pelajar dalam setiap tahapan budidaya, Mahad Al Zaytun berupaya menghadirkan pendidikan yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari sekaligus memperkenalkan sektor pertanian kepada generasi muda sejak usia sekolah. (Saheel untuk Indonesia)