Saturday, 19 September 2026

Al Zaytun Rawat Tebu Ratun Usai Panen Perdana, Target Panen Kedua Naik Dua Kali Lipat

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

 

INDRAMAYU, LogNews.co.id – Setelah sukses melaksanakan panen perdana tebu di Lahan Praktikum Pelajar Mahad Al Zaytun, kegiatan pertanian kini memasuki tahap perawatan tebu ratun sebagai persiapan menuju panen kedua. Melalui sistem ratun, Mahad Al Zaytun menargetkan hasil panen berikutnya meningkat hingga dua kali lipat dengan masa panen yang lebih singkat.

Pembimbing Praktikum Lahan Tebu Mahad Al Zaytun, Ustaz Widodo, menjelaskan bahwa panen perdana dari lahan seluas 1 hektare menghasilkan total 87 ton tebu varietas Pasuruan.

"Dari total 87 ton tersebut, sebanyak 80 ton diolah menjadi gula pasir, sedangkan 7 ton digunakan untuk pembuatan gula merah," ujar Ustaz Widodo saat live report LogNews.co.id di Lahan Praktikum Pelajar Mahad Al Zaytun, Sabtu (19/9/2026).

Hasil pengolahan tebu tersebut menghasilkan sekitar 4,6 ton gula pasir, 2,4 ton molasses (gula tetes), serta 4 kuintal gula merah.

Menurutnya, gula merah hasil produksi pelajar langsung dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur atau kitchen Mahad Al Zaytun sebagai bahan baku pengolahan makanan sehari-hari.

"Setelah gula merah diproduksi, langsung kami setorkan ke kitchen untuk kebutuhan produksi makanan di lingkungan Mahad Al Zaytun," katanya.

Perawatan Ratun Jadi Kunci Panen Kedua

Usai panen pertama, batang tebu tidak dicabut seluruhnya. Sistem ratun memanfaatkan tunas baru yang tumbuh dari tunggak tebu untuk menghasilkan panen berikutnya tanpa perlu menanam ulang.

Ustaz Widodo menjelaskan, perawatan ratun dimulai dengan membersihkan serasah, yaitu daun-daun tebu yang tersisa setelah panen. Serasah tersebut kemudian disusun di sisi tanaman untuk dijadikan bahan kompos alami.

Tahap berikutnya adalah memotong tunggak tebu hingga mendekati permukaan tanah agar pertumbuhan anakan menjadi lebih banyak dan lebih seragam.

"Kami targetkan panen kedua ini hasilnya bisa dua kali lipat dibanding panen pertama karena jumlah anakan yang tumbuh lebih banyak," jelasnya.

Hemat Bibit dan Biaya Produksi

Sistem ratun dipilih karena dinilai lebih efisien dibanding menanam tebu dari awal. Dalam praktik budidaya tebu, satu kali penanaman dapat menghasilkan panen hingga dua, tiga, bahkan lima kali.

Melalui metode ini, petani dapat menghemat penggunaan bibit, biaya pengolahan lahan, hingga biaya penanaman.

"Keuntungan ratun adalah tidak perlu membeli bibit lagi dan biaya produksi menjadi lebih ringan," ujar Ustaz Widodo.

Target Panen Lebih Cepat, Hanya 9 Bulan

Jika panen pertama membutuhkan waktu sekitar 11 bulan, Mahad Al Zaytun kini menargetkan panen kedua dapat dilakukan hanya dalam waktu 9 bulan.

Saat panen pertama, rata-rata tinggi tanaman mencapai 2,2 meter dan sudah memenuhi kriteria untuk dipanen.

"Kami berharap dengan perawatan yang lebih baik, panen kedua bisa lebih cepat tanpa mengurangi kualitas hasil," katanya.

Praktikum Pertanian 70 Persen di Lahan

Perawatan tebu ratun menjadi bagian dari pendidikan kewirausahaan yang diterapkan di MA School Pertanian Mahad Al Zaytun. Para pelajar tidak hanya mempelajari teori, tetapi juga terlibat langsung dalam seluruh proses budidaya hingga pengolahan hasil panen.

Menurut Ustaz Widodo, komposisi pembelajaran di sekolah tersebut terdiri dari 70 persen praktik di lahan dan 30 persen teori.

"Pelajar belajar mulai dari menghitung biaya tanam, merawat tanaman, panen, hingga mengolah hasil menjadi gula pasir, gula merah, dan molasses. Mereka memahami proses pertanian dari hulu sampai hilir," ujarnya.

Ia menambahkan, pengalaman praktik tersebut diharapkan membentuk karakter pelajar sebagai calon wirausahawan di bidang pertanian sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap sektor pertanian sejak usia sekolah.

 

"Kami ingin anak-anak memiliki keterampilan nyata yang nantinya bisa diterapkan di tengah masyarakat dan menjadi bagian dari pengembangan pertanian berkelanjutan atau green economy," pungkasnya. (saheel untuk Indonesia)