INDRAMAYU, LogNews.co.id – Mahad Al Zaytun tidak hanya memanen padi premium asal Jepang, Koshihikari, tetapi juga mulai menyiapkan hasil panen tersebut sebagai benih unggulan untuk mendukung pengembangan ketahanan pangan di Kabupaten Indramayu. Berbeda dari musim panen sebelumnya, panen keenam yang digelar Sabtu (19/9/2026) difokuskan pada produksi benih, bukan untuk konsumsi.
Langkah tersebut dilakukan setelah proses budidaya Koshihikari dinilai menunjukkan hasil yang baik di lahan pertanian Mahad Al Zaytun. Varietas padi asal Jepang itu dikenal memiliki kualitas premium, cita rasa khas, serta kandungan gula yang lebih rendah dibanding sejumlah varietas padi lainnya.
Guru Pembimbing Ekstrakurikuler Pertanian Mahad Al Zaytun, Harianto Mardhoni, mengatakan seluruh hasil panen tahun ini akan melalui proses seleksi ketat untuk mendapatkan benih dengan kualitas terbaik.
"Panen kali ini memang berbeda dengan sebelumnya. Hasil panennya kami siapkan untuk dijadikan benih, sehingga proses pengawasannya lebih khusus dan lebih ketat," ujar Harianto.
Menurutnya, benih yang dihasilkan akan menjadi sumber tanam pada musim berikutnya di lahan pertanian Al Zaytun yang bekerja sama dengan Paguyuban Petani Ketahanan Pangan Indonesia (P3KPI).
Dipilih dari Tanaman Berkualitas Terbaik
Tidak semua tanaman hasil panen akan dijadikan benih. Tim pembimbing bersama pelajar melakukan seleksi berdasarkan sejumlah indikator, mulai dari kesehatan tanaman, bentuk malai, kualitas genetika, hingga kadar air gabah.
Tanaman yang memenuhi kriteria akan diberi tanda sebelum dipisahkan dari hasil panen lainnya. Proses tersebut menjadi bagian penting untuk menjaga mutu benih agar tetap stabil pada musim tanam berikutnya.
Harianto menjelaskan bahwa pemilihan benih dilakukan ketika tanaman telah mencapai kematangan fisiologis sehingga memiliki daya tumbuh yang lebih baik.
"Kami memilih tanaman yang benar-benar sehat dan memiliki karakter unggul. Setelah itu dilakukan seleksi lagi sebelum dijadikan benih untuk penanaman berikutnya," katanya.
Koshihikari Dinilai Memiliki Keunggulan Nutrisi
Selain dikembangkan karena kualitas berasnya, Koshihikari juga menarik perhatian karena memiliki kandungan gula yang relatif lebih rendah dibanding beberapa varietas padi lain.
Menurut Harianto, karakter tersebut menjadi salah satu alasan Al Zaytun terus mengembangkan budidaya Koshihikari sebagai alternatif beras premium yang memiliki nilai tambah, baik dari sisi kualitas maupun ekonomi.
Ia mengatakan harga Koshihikari di pasaran juga cenderung lebih tinggi dibanding varietas padi biasa sehingga memiliki peluang ekonomi yang lebih baik apabila dibudidayakan secara luas.
Benih Akan Dikembangkan di Lahan Pertanian Al Zaytun
Benih hasil panen keenam nantinya tidak langsung dipasarkan. Prioritas utama adalah memperbanyak populasi Koshihikari melalui penanaman kembali di lahan pertanian yang dikelola Mahad Al Zaytun bersama P3KP.
Program tersebut diharapkan mampu meningkatkan produksi benih sekaligus memperluas area budidaya Koshihikari di Indramayu.
Harianto menyebut tujuan akhirnya adalah menghasilkan produksi beras Koshihikari yang dapat dimanfaatkan oleh lingkungan Al Zaytun hingga masyarakat luas.
"Harapannya nanti benih ini berkembang menjadi produksi yang lebih besar sehingga hasilnya bisa dikonsumsi santri, wali santri, dan ke depan juga masyarakat umum," jelasnya.
Ketahanan Pangan Dimulai dari Kualitas Benih
Bagi Mahad Al Zaytun, pengembangan benih menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan pangan. Menurut Harianto, kualitas benih akan menentukan kualitas hasil panen pada musim berikutnya.
Karena itu, pelajar tidak hanya diajarkan cara memanen, tetapi juga memahami bagaimana memilih benih unggul sebagai fondasi produksi pertanian yang berkelanjutan.
Proses tersebut menjadi pembelajaran langsung mengenai pentingnya menjaga kualitas tanaman sejak awal budidaya hingga panen.
Pelajar Terlibat Langsung dalam Seleksi Benih
Kegiatan seleksi benih juga menjadi bagian dari praktik ekstrakurikuler pertanian. Pelajar kelas XI dan XII dilibatkan untuk mengenali ciri-ciri tanaman yang layak dijadikan benih unggulan.
Mereka belajar mengamati kondisi tanaman di lapangan, membedakan kualitas malai, hingga memahami standar kadar air gabah sebelum memasuki tahap penyimpanan.
Melalui praktik tersebut, pelajar memperoleh pengalaman yang tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga keterampilan teknis dalam budidaya padi.
Menyiapkan Regenerasi Pertanian Sejak Dini
Mahad Al Zaytun menjadikan pengembangan padi Koshihikari sebagai bagian dari pendidikan pertanian yang berorientasi pada masa depan. Pelajar dikenalkan pada proses produksi benih, teknologi budidaya, hingga pentingnya menjaga keberlanjutan pangan.
Dengan panen keenam ini, Al Zaytun tidak hanya menghasilkan gabah, tetapi juga mulai membangun siklus produksi benih unggulan yang diproyeksikan menjadi modal pengembangan varietas Koshihikari di lahan pertanian Indramayu.
Program tersebut diharapkan menjadi salah satu kontribusi dalam memperkuat ketahanan pangan melalui penyediaan benih berkualitas yang dikembangkan langsung di lingkungan Mahad Al Zaytun. (Saheel untuk Indonesia)



