Sunday, 03 May 2026

Prof Rokhmin Dahuri: Al-Zaytun Difitnah, Pemerintah Harus Jadi Wasit

User Rating: 4 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Inactive
 

Indramayu, lognews.co.id — Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, MS. Hadir sebagai narasumber dalam kegiatan pelatihan pelaku didik, Pelatihan Pelaku Didik yang digelar di Kampus Al-Zaytun, Ahad, 3 Mei 2026. Prof memaparkan pentingnya perubahan sistem pendidikan sebagai fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Ia menegaskan bahwa masa depan bangsa tidak hanya ditentukan oleh kekayaan sumber daya alam, tetapi oleh kualitas manusia yang mampu mengelolanya secara cerdas, berintegritas, dan berdaya saing global.

Dalam pemaparannya, Prof. Rokhmin menjelaskan bahwa Indonesia memiliki modal besar, seperti bonus demografi, kekayaan alam, serta posisi strategis dalam jalur perdagangan dunia. Namun, potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal akibat berbagai persoalan, mulai dari rendahnya kualitas pendidikan, ketimpangan sosial, hingga lemahnya integrasi antara ilmu pengetahuan dan nilai moral. Kondisi ini menunjukkan bahwa tantangan utama pembangunan Indonesia terletak pada kualitas sumber daya manusia.

Transformasi Pendidikan sebagai Kebutuhan Mendesak

Transformasi pendidikan menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda dalam menghadapi kompleksitas pembangunan nasional. Sistem pendidikan yang berjalan saat ini dinilai masih bersifat parsial dan belum sepenuhnya mampu membentuk manusia yang utuh, baik dari aspek intelektual maupun karakter. Hal ini tercermin dari rendahnya capaian literasi, numerasi, serta daya saing global pelajar Indonesia.

Kondisi tersebut mengindikasikan adanya kesenjangan antara tujuan pendidikan nasional dengan implementasi di lapangan. Pendidikan belum sepenuhnya menjadi alat pembebasan dan pemberdayaan, melainkan masih berorientasi pada capaian administratif semata.

Model Pendidikan Berasrama dan Integrasi IMTAQ-IPTEK

Dalam konteks tersebut, Mahad Al-Zaytun menghadirkan model pendidikan berasrama yang mengintegrasikan IMTAQ dan IPTEK secara sistematis. Pendekatan ini tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kedisiplinan, serta kepemimpinan.

Lingkungan asrama memungkinkan proses pendidikan berlangsung secara menyeluruh dan berkelanjutan. Nilai-nilai yang diajarkan tidak berhenti pada tataran teori, tetapi dipraktikkan langsung dalam kehidupan sehari-hari pelajar.

Penguatan Kompetensi Global Pelajar

Selain pembentukan karakter, sistem pendidikan di Al-Zaytun juga diarahkan pada penguatan kapasitas global pelajar. Hal ini dilakukan melalui penguasaan bahasa asing, literasi teknologi, serta pengembangan keterampilan kewirausahaan.

Pendekatan ini relevan dengan tuntutan globalisasi yang menuntut generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif, kreatif, dan inovatif.

Implikasi terhadap Pembangunan Nasional

Model pendidikan terintegrasi ini memiliki implikasi luas terhadap pembangunan nasional. Pendidikan berbasis nilai dan kompetensi diyakini mampu menciptakan efek pengganda, mulai dari peningkatan kualitas individu hingga penguatan ketahanan nasional.

Kualitas Pendidikan dalam Struktur Kebijakan Publik

Di sisi lain, tantangan juga muncul dalam struktur pengambilan kebijakan nasional. Komposisi tingkat pendidikan para pembuat undang-undang masih menunjukkan ketimpangan. Sebagian besar berada pada tingkat pendidikan menengah, sementara lulusan sarjana hanya sekitar seperempat dari total. Tingkat magister berada pada kisaran seperlima, dan doktoral hanya sebagian kecil, bahkan terdapat porsi signifikan yang tidak mencantumkan latar belakang pendidikan secara jelas.

Kondisi ini berimplikasi pada kualitas kebijakan yang dihasilkan dan menjadi tantangan serius dalam mewujudkan tata kelola negara berbasis ilmu pengetahuan.

Pendalaman Wawancara: Perspektif Prof. Rokhmin Dahuri terhadap Al-Zaytun dan Indonesia

Kontribusi Pendidikan dan Sikap Pemerintah

Menanggapi kontribusi panjang pendidikan berbasis asrama yang telah berjalan mandiri, Prof. Rokhmin menegaskan pentingnya pengakuan dan dukungan negara terhadap lembaga pendidikan yang telah terbukti.

 “Kontribusi pendidikan berbasis asrama termasuk pondok pesantren, khususnya Ma’had Al-Zaytun, itu sudah terbukti memberikan kontribusi yang signifikan bagi pengembangan sumber daya manusia, baik kualitas maupun kuantitas. Sistem ini tidak hanya menempa IPTEK, yaitu hard skill, tetapi juga soft skill dan spiritual cohesion.”

Ia juga menambahkan bahwa sistem pendidikan tersebut layak dijadikan rujukan nasional.

 “Al-Zaytun bisa dijadikan role model lembaga pusat pendidikan berbasis asrama yang mengintegrasikan antara IPTEK dan IMTAK. Di dunia pendidikan kita terjadi semacam split personality, ada yang kuat IPTEK-nya tetapi lemah IMTAK-nya, dan sebaliknya. Di Al-Zaytun itu terintegrasi.”

Terkait polemik yang muncul, ia menegaskan peran pemerintah sebagai penengah.

 “Kalau ada perlakuan dari pihak-pihak tertentu yang tanpa dasar yang jelas, pemerintah harus bisa menjadi wasit. Ini lembaga pendidikan yang mandiri dan sudah banyak kontribusinya, seharusnya diapresiasi. Nanti di DPR kami akan mencoba menjernihkan model sistem pendidikan Al-Zaytun yang bisa direplikasi di seluruh Indonesia.”

Penyampaian ke Komisi X DPR RI

Prof. Rokhmin juga memastikan bahwa hasil kunjungannya akan disampaikan dalam forum resmi di tingkat nasional.

 “Bahwa Al-Zaytun itu sebenarnya seperti ini, di luar berbagai fitnah yang menyimpang.”

Pendidikan dan Kemandirian Ekonomi Alumni

Dalam pandangannya, pendidikan harus mampu menciptakan kemandirian ekonomi bagi lulusan.

“Sejak mahasiswa, saya selalu berpikir bahwa lulusan, termasuk santri, harus bisa bekerja dan menciptakan lapangan pekerjaan. Stigma bahwa lulusan pesantren sulit bekerja itu muncul karena adanya pemisahan antara ilmu dunia dan akhirat.”

Ia menilai konsep pengembangan ekonomi berbasis pendidikan perlu terus diperkuat.

Kedaulatan Pangan dan Kesejahteraan

Terkait konsep kedaulatan pangan, Prof. Rokhmin menekankan bahwa keberhasilan tidak hanya diukur dari produksi.

“Swasembada itu bukan hanya soal produksi. Yang penting adalah kesejahteraan petani dan nelayan. Kalau mereka tetap miskin, berarti sistemnya gagal.”

Ia juga menyoroti pentingnya menarik minat generasi muda ke sektor pertanian.

> “Kalau kesejahteraan rendah, generasi muda tidak akan tertarik masuk ke sektor pertanian.”

Pembangunan 500 Titik Pusat Pendidikan

Gagasan pembangunan 500 titik pusat pendidikan dinilai sebagai inisiatif strategis yang harus didukung.

 “Itu prakarsa swadaya masyarakat yang harus diapresiasi. Di tengah kondisi ketenagakerjaan yang berat, banyak PHK dan penutupan pabrik, kalau ada yang menciptakan lapangan kerja melalui pendidikan atau usaha produktif, pemerintah harus memberikan dukungan.”

Nasionalisme dan Nilai Kebangsaan

Prof. Rokhmin juga menyoroti kuatnya nilai kebangsaan yang ia lihat secara langsung.

 “Saya jujur, baru tahu bahwa Syaykh sangat Soekarnois, dalam arti sangat menjiwai nilai kebangsaan. Itu hal yang menarik.”

Tanggapan terhadap Isu dan Penegasan Sikap

Menanggapi berbagai isu yang berkembang, ia memberikan penilaian tegas.

 “Itu fitnah, yang menyimpang.”

Menutup wawancara, ia menyampaikan dukungan terhadap pengembangan pendidikan berbasis nilai.

 “Maju terus dengan Islam rahmatan lil alamin.”

(Sahil untuk Indonesia)