Friday, 17 April 2026

Membangun Peradaban Melalui Pendidikan Kontemporer: Bimbingan Terpadu Angkatan XXII Aventador di Al-Zaytun  

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

Indramayu, lognews.co.id — Kegiatan Bimbingan Terpadu bagi pelajar Madrasah Aliyah Kelas XII Angkatan XXII Aventador resmi dimulai di lingkungan Ma’had Al-Zaytun. Mengusung tema “Transformasi Pendidikan Al-Zaytun Berbasis LSTEAMS demi Terwujudnya Pendidikan Kontemporer dengan Perspektif Keindonesiaan Berdasar Pancasila”, kegiatan ini menjadi fondasi strategis dalam membentuk generasi berilmu, berkarakter, dan berorientasi pada pembangunan peradaban.

Rangkaian kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 13 hingga 16 April 2026, dengan penyampaian materi yang disusun secara terstruktur dan berkelanjutan bagi para peserta.

Menggali Akar Kemanusiaan dan Piagam Madinah

Pada sesi kedua yang berlangsung Selasa, 14 April 2026, sebanyak 552 peserta tampak antusias menyimak dan mencatat pembekalan di ruang Auditorium Mini Zeteso, Gedung Ali Ibnu Abi Thalib. Materi yang diangkat berfokus pada pengertian dan dasar pembentukan Piagam Madinah, prinsip-prinsip umumnya, hingga pemahaman mendalam mengenai Hak Asasi Manusia (HAM) serta Declaration of Human Rights.

Dalam sesi ini, terungkap rentetan sejarah dunia mengenai bagaimana nilai-masyarakat plural dapat menjemput kehidupan yang penuh toleransi dan damai. Kemanusiaan yang melekat dengan hak-hak yang dijunjung tinggi disepakati sebagai jalan satu-satunya bagi manusia untuk membangun sebuah peradaban.

Ketua Yayasan Pesantren Indonesia, Datuk Sir Imam Prawoto, KRSS., M.B.A., C.R.B.C., mentransfer keilmuannya melalui penjelasan sistematis tentang awal mula terbentuknya peradaban yang dibawakan oleh Rasulullah SAW saat hijrah dari Mekkah ke Madinah pada tahun 622 M.

Beliau memaparkan bahwa kondisi Mekkah saat itu belum mencapai kesejahteraan yang adil dan makmur. Oleh karena itu, Rasulullah mewujudkan cita-cita peradaban dengan menyatukan kaum Anshor dan Muhajirin, serta merangkul berbagai ras, suku, dan agama. Peradaban muncul ditandai dengan terjaganya masyarakat yang damai tanpa perang, meskipun saat itu praktik jahiliah masih sulit ditinggalkan oleh sebagian golongan.

Din sebagai Peradaban yang Melampaui Ritual

Lebih lanjut, Datuk Sir Imam Prawoto memberikan tajaman kritis dengan memahami Din sebagai peradaban yang kedudukannya melampaui ritual semata. Penekanan penting diberikan pada pemaknaan Din yang tidak terbatas pada agama dalam arti sempit, melainkan diposisikan sebagai sistem peradaban yang mencakup nilai, cara berpikir, pola hidup, serta struktur sosial.

Pandangan ini mendorong peserta agar tidak terjebak dalam simbolisme dan ritual saja, tetapi mampu menghadirkan nilai-nilai keagamaan dalam praktik kehidupan nyata. Dengan demikian, agama menjadi kekuatan transformatif yang membangun peradaban yang berkeadaban.

Hal ini didasari oleh Surat Asy-Syura ayat 13, yang menggambarkan ajakan para Rasul untuk beribadah kepada Tuhan Yang Maha Esa dan menegakkan peradaban tanpa saling bertengkar. Hal tersebut hanya dapat dicapai jika mampu memaknai Islam pada level yang lebih tinggi, yaitu sebagai sebuah peradaban.

Kontemporerisasi: Klasik yang Menjadi Kekinian

Dalam implementasinya, Piagam Madinah yang diawali dengan Bismillah dan mukadimahnya telah dikontemporerisasikan oleh Syaykh Al-Zaytun melalui praktik nyata, seperti membacakan basmalah di setiap awal pembelajaran.

Istilah "Kontemporer" di sini dimaknai sebagai upaya menjadikan "barang klasik" menjadi kekinian. Sesuatu yang dianggap langka dan luar biasa (amazing) ini menjadi sarana untuk mencetak pelajar unggul. Kesadaran ini menempatkan Al-Qur'an sebagai akar pohon, dengan Piagam Madinah sebagai buah turunannya.

Ma’had Al-Zaytun telah mewujudkan kontemporerisasi dari sunnah Rasulullah melalui pembacaan Sapta Janji yang menjadi akar komitmen para pelajar. Poin-poin ini ditegaskan perlu dipelajari dengan sungguh-sungguh oleh seluruh Angkatan XXII Aventador sebagai bekal melanjutkan estafet pembangunan peradaban di masa depan.

(Amri-untuk Indonesia)