Sunday, 12 April 2026

Sholat Da’im dan Revolusi Pendidikan: Seruan dari Dalam Kampus

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

(Disarikan dari Taushiyah Syaykh Al Zaytun)

Oleh : Ali Aminulloh

lognews.co.id, Indramayu - Setiap Jumat pagi, pukul 10.00 hingga 11.00, sebuah tradisi intelektual dan spiritual berlangsung di lingkungan pendidikan Al Zaytun. Forum itu dikenal sebagai Qabliyah Jumat, sebuah ruang di mana Syaykh menyampaikan pesan, arahan, sekaligus refleksi kepada para pelaku didik.

Setelah jeda liburan, pada Jumat pagi, 10 April 2026, forum ini kembali digelar. Bukan sekadar rutinitas, melainkan momentum penyegaran kesadaran: tentang pendidikan, tanggung jawab, dan masa depan.

Di tengah hiruk-pikuk dunia pendidikan yang sering terjebak pada angka, ijazah, dan administrasi, sebuah suara lantang menggugat: pendidikan bukan sekadar mengajar, melainkan mendidik, dan itu harus berlangsung sepanjang hayat.

lognews.co.id foto 2026 04 11T064420.967 ruang seminar

Suara itu tidak datang dari ruang seminar internasional, melainkan dari sebuah ruang sederhana di lingkungan pendidikan. Namun isinya mengguncang: mengajak kembali pada hakikat pendidikan sebagai proses yang hidup, menyatu, dan berkelanjutan.

“Siapa yang ingin mencapai tujuan jangka pendek (dunia) harus dengan ilmu. Jangka panjang (akhirat) juga dengan ilmu. Bahkan keduanya sekaligus, tetap dengan ilmu,” demikian ditegaskan dalam paparan tersebut.

Namun, ilmu yang dimaksud bukan sekadar diajarkan. Ia harus dididikkan.

lognews.co.id foto 2026 04 11T064246.277 dhaim

Di sinilah konsep besar itu muncul: sholat da’im.

Bukan sekadar ritual, bukan hanya rukuk dan sujud, tetapi sebuah kesadaran hidup yang terus menyala: dalam belajar, mengajar, membimbing, hingga mengawasi. Pendidikan yang “da’im” berarti pendidikan yang tidak pernah berhenti, bahkan di luar kelas sekalipun.

lognews.co.id foto 2026 04 11T064556.518 syaykh mimbar

Pendidikan yang Tidak Boleh Terputus

Dalam praktiknya, kritik tajam diarahkan pada realitas yang terjadi di lapangan. Banyak pendidik yang berhenti pada batas jam pelajaran. Setelah itu, siswa seolah berjalan sendiri tanpa pendampingan.

Padahal, justru di luar kelaslah karakter terbentuk.

Ruang-ruang kosong, waktu istirahat, hingga kehidupan di asrama, semua adalah bagian dari pendidikan. Namun, seringkali luput dari perhatian. Di sanalah muncul celah: perilaku menyimpang, kebiasaan buruk, hingga infiltrasi yang lebih berbahaya seperti rokok elektrik dan narkoba.

“Kalau ini dibiarkan, hancur,” menjadi peringatan keras yang disampaikan.

Pendidikan tidak boleh pecah. Tidak boleh ada sekat antara sekolah dan asrama, antara guru dan kehidupan siswa.

Retaknya Sistem: Ketika Pendidikan Terpecah

Salah satu kritik paling tajam adalah tentang “pecahnya” sistem pendidikan.

Sekolah berjalan sendiri. Asrama berjalan sendiri. Perguruan tinggi merasa lebih tinggi dan tidak menyatu dengan yang di bawah.

Diibaratkan, hubungan itu seperti dua negara yang tidak saling mengenal.

Padahal, pendidikan seharusnya seperti satu tubuh. Saling terhubung, saling menguatkan, tanpa sekat.

Solusi yang ditawarkan pun tidak biasa: nanomisasi pendidikan.

Sebuah konsep yang menggambarkan bagaimana semua elemen, baik besar maupun kecil, melebur menjadi satu kesatuan utuh, tanpa perbedaan yang terasa. Sebuah sistem yang hidup, menyatu, dan bergerak bersama.

Dari Kampus ke Indonesia

Gagasan ini tidak berhenti pada lingkup sekolah atau kampus. Ia meluas menjadi visi besar: transformasi pendidikan nasional.

Bayangannya jelas: 500 pusat pendidikan di seluruh Indonesia, masing-masing menjadi pusat pertumbuhan ilmu, ekonomi, dan peradaban.

Dalam skema ini:
- Pendidikan menggerakkan ekonomi lokal
- Kampus menjadi pusat produksi dan distribusi
- Sumber daya manusia dibangun sejak dini secara terpadu

Jika dijalankan dengan serius, dalam 20 tahun Indonesia diyakini bisa berubah drastis.

“Kalau akal sehat bangsa ini diarahkan pada pendidikan, semua akan tertangani: korupsi, narkoba, kemiskinan.”

Pendidikan, Moral, dan Masa Depan Bangsa

Di balik semua gagasan besar itu, ada satu benang merah yang kuat: pendidikan adalah fondasi peradaban.

Bukan administrasi. Bukan laporan. Bukan sekadar formalitas.

Pendidikan adalah tentang manusia.

Tentang bagaimana guru hadir, bukan hanya mengajar.
Tentang bagaimana siswa dibimbing, bukan hanya dinilai.
Dan tentang bagaimana sistem menyatu, bukan terpecah.

Seruan yang Tak Bisa Diabaikan

Paparan ini bukan sekadar evaluasi. Ia adalah peringatan.

Bahwa di tengah segala keunggulan fasilitas dan konsep, bahaya terbesar justru datang dari kelengahan. Dari kebiasaan kecil yang dibiarkan. Dari sistem yang perlahan retak.

Dan di atas semuanya, ada satu pertanyaan yang menggantung:

Apakah pendidikan kita masih hidup… atau hanya berjalan?

(Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah