Oleh : Hartono, M.Pd. (Tutor PKBM Al Zaytun)
Usia boleh menua, tetapi harapan tak pernah mengenal senja
lognews.co.id - Di sebuah ruang belajar sederhana di PKBM Al-Zaytun, suara lembaran buku dibalik perlahan. Di antara para peserta didik, duduk seorang ibu dengan sorot mata yang tidak biasa, penuh tekad, penuh keyakinan. Namanya Ibu Djumirah. Di usia yang bagi sebagian orang adalah masa beristirahat, ia justru memilih memulai kembali.
Bukan sekadar belajar, tetapi menggenggam kembali asa yang sempat tertunda
Bagi banyak orang, pendidikan adalah lintasan lurus: sekolah, lulus, selesai. Namun hidup tidak selalu berjalan sesuai garis itu. Ibu Djumirah hanya sempat menamatkan pendidikan hingga Sekolah Dasar. Waktu, keadaan, dan tanggung jawab sebagai ibu dari empat anak membuat mimpinya harus berhenti di tengah jalan.
Namun ternyata, mimpi itu tidak pernah benar-benar padam.

Ketika kesempatan datang melalui PKBM Al-Zaytun, ia melihatnya bukan sebagai pilihan, melainkan panggilan. Sebuah peluang yang ia ibaratkan seperti oase di tengah perjalanan panjang yang kering.
“Kesempatan ini sangat berarti dalam hidup saya,” tuturnya lirih, namun sarat makna.
Perjalanan itu tentu tidak mudah. Kembali duduk di bangku belajar setelah puluhan tahun bukan perkara sederhana. Ada rasa ragu, ada keterbatasan, bahkan ada rasa takut tertinggal.
Namun di PKBM Al-Zaytun, ia tidak berjalan sendiri.
Para tutor hadir bukan sekadar sebagai pengajar, tetapi sebagai penuntun. Dengan kesabaran yang nyaris tak berbatas, mereka membimbing setiap langkah tanpa membedakan usia, tanpa menghakimi latar belakang.
Di ruang itu, belajar bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang mau terus melangkah.
Dukungan moral mengalir seperti energi yang tak pernah habis. Setiap kesulitan dijawab dengan semangat, setiap keraguan dilawan dengan keyakinan. Ilmu yang diberikan pun tidak berhenti di teori, tetapi menyentuh kehidupan nyata: membekali peserta didik untuk tumbuh, bukan sekadar lulus. Yang membuat perjalanan Ibu Djumirah semakin berarti adalah suasana yang ia temukan di PKBM Al-Zaytun, ia menemukan keluarga baru.
Tidak ada kompetisi yang menjatuhkan. Yang ada adalah tangan-tangan yang saling menguatkan. Sesama siswa saling menyemangati, saling mengingatkan bahwa mereka berada di jalan yang sama: memperbaiki masa depan.
Di sana, usia bukan pembatas. Justru menjadi cerita yang memperkaya. Hari itu akhirnya tiba, Ibu Djumirah resmi menuntaskan Program Paket C. Sebuah capaian yang bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi dirinya adalah kemenangan besar, yaitu kemenangan atas keraguan, keterbatasan, dan waktu yang pernah ia lewatkan.

Lebih dari sekadar ijazah, itu adalah bukti bahwa harapan selalu punya jalan. Ia pun tak lupa menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Syaykh A.S. Panji Gumilang, M.P. yang telah membuka jalan bagi masyarakat untuk kembali mengakses pendidikan. Visi besar yang menghadirkan ruang bagi mereka yang sempat tertinggal, untuk kembali berdiri dan melangkah.
Kini, langkah Ibu Djumirah tidak berhenti di sini.
Di balik kelulusannya, tumbuh mimpi baru: melanjutkan pendidikan ke IAI AL-AZIS. Sebuah harapan yang dulu mungkin terasa jauh, kini menjadi sesuatu yang berani ia genggam.
Melalui kisahnya, ia menitipkan pesan sederhana namun kuat:
“Jangan pernah ragu untuk belajar. Tidak ada kata terlambat untuk berubah.”
Kisah Ibu Djumirah adalah pengingat bahwa pendidikan bukan soal usia, tetapi keberanian. Bahwa mimpi tidak pernah benar-benar hilang, ia hanya menunggu untuk diperjuangkan kembali.
Seperti kata Nelson Mandela, pendidikan adalah senjata paling kuat untuk mengubah dunia.
Dan bagi Ibu Djumirah, perubahan itu dimulai dari satu langkah kecil: kembali duduk, kembali belajar, dan kembali percaya. (Amri-untuk Indonesia)



