Oleh : Sri Wahyuni, S.Pd. (Tutor PKBM)
lognews.co.id - Pagi itu terasa berbeda di Blok Gabel, Gantar, Indramayu. Ahad, 5 April 2026, matahari belum terlalu tinggi, tetapi semangat sudah lebih dulu menghangatkan suasana. Di halaman rumah Bu Lusinah,alumni PKBM Al Zaytun, tampak pelaminan berdiri megah, dihiasi warna-warna lembut yang memancarkan aura romantisme. Hari itu bukan sekadar resepsi, melainkan perayaan kebersamaan yang hidup.

Sejak pagi, warga belajar (WB), alumni, tutor PKBM Al Zaytun, hingga tetangga sekitar bahu-membahu menyiapkan acara. Tidak ada sekat antara “penyelenggara” dan “tamu”. Semuanya larut dalam satu rasa: ikut memiliki kebahagiaan keluarga Bu Lusinah, yang tengah menikahkan putrinya, Sifa Aulia, dengan Dadan Daniar dari Blok Balir.
Di balik kesibukan, tampak wajah-wajah yang berseri. Nur Rohmah, Sri Wahyuni, Siti Rohmah, Suwandi, Sukino, dan lainnya. Mereka bergerak lincah: ada yang menata hidangan, ada yang mengatur tamu, ada pula yang memastikan setiap detail berjalan sempurna. Ini bukan sekadar kerja panitia, tetapi kerja hati.

Tepat pukul 08.30 WIB, rombongan keluarga mempelai pria tiba, disambut hangat dalam balutan seremoni yang khidmat. Sekitar 200 tamu hadir, membawa doa dan restu. Acara dipandu dengan penuh kehangatan oleh Nur Rohmah, membuka rangkaian demi rangkaian prosesi: dari pembacaan ayat suci oleh Ustadz Yusuf Irfan, lantunan Asmaul Husna, hingga nyanyian Indonesia Raya tiga stanza yang menggugah rasa kebangsaan.

Namun, momen yang paling membekas adalah saat Suwandi, S.Pd. (tutor PKBM Al Zaytun) menyampaikan nasihat pernikahan. Dengan gaya khasnya, ia membuka dengan pantun yang mengundang tawa, lalu mengajak hadirin merenung lewat tema yang sederhana namun dalam: “Taqwa sebagai Pakaian Terindah dalam Kehidupan.”
Ia mengingatkan bahwa rumah tangga bukan tentang kesempurnaan, melainkan tentang keteguhan menghadapi ujian bersama. Bahwa cinta perlu dirawat dengan nilai, dan nilai itu bernama taqwa. Nasihat yang tidak menggurui, tetapi mengalir, seolah menjadi bekal sunyi bagi perjalanan panjang kedua mempelai.
Setelah seremoni ditutup sekitar pukul 10.15 WIB, suasana berubah lebih cair. Tradisi saweran, lempar bunga, hingga ramah tamah menjadi panggung kebersamaan. Dapur pun tetap hidup, dikelola oleh para WB seperti Ira Kasiroh, Sarmi, dan Tuti, yang memasak dengan penuh dedikasi.
Menjelang siang, acara kirab menjadi puncak visual yang memikat. Pengantin putri diarak perlahan menuju pelaminan, diiringi bridesmaid. Setibanya di pelaminan, ia disambut sang suami, sebuah simbol pertemuan dua perjalanan hidup. Taburan bunga, langkah perlahan, dan iringan musik menghadirkan nuansa sakral sekaligus hangat.
Suasana mencapai titik haru saat adik pengantin membacakan puisi karya Sri Wahyuni berjudul “Kakakku Tersayang.” Suaranya bergetar, air mata tak terbendung. Hadirin pun larut. Sebagian menunduk, sebagian mengusap mata. Namun, momen itu ditutup dengan senyum ketika sang kakak meyakinkan bahwa cinta keluarga tak akan pernah berkurang.
Menariknya, pesta ini juga menjadi panggung ekspresi. Para tutor dan warga belajar tampil bernyanyi: Sri Wahyuni, Nur Rohmah, Nurhasanah, Sartinah, Karsini, hingga alumni seperti Nuriyati. Suara mereka mungkin tak semuanya sempurna, tetapi keberanian mereka adalah keindahan itu sendiri.
Terdengar celetukan ringan dari tamu, “Ibu-ibu sekarang sudah berani tampil ya, semenjak pada sekolah.” Kalimat sederhana, tetapi menyimpan makna besar: pendidikan telah menumbuhkan rasa percaya diri, membuka ruang ekspresi, dan menghadirkan keberanian yang sebelumnya tersembunyi.
Malam pun datang, namun semangat tak surut. Tamu undangan ikut bernyanyi, suasana semakin akrab. Hingga akhirnya, tepat pukul 22.00 WIB, acara ditutup dengan hamdalah, sebuah penutup yang syahdu untuk hari yang panjang dan penuh makna.
Resepsi ini bukan hanya tentang pernikahan Sifa dan Dadan. Ia adalah cermin dari nilai yang hidup di PKBM Al Zaytun: kebersamaan, gotong royong, dan pemberdayaan. Dari ruang belajar, tumbuh keberanian. Dari komunitas, lahir kehangatan.
Dan dari sebuah pelaminan sederhana di Blok Gabel, tersiar pesan yang lebih luas bahwa pendidikan sejatinya bukan hanya mencerdaskan, tetapi juga memanusiakan.
(Amri-untuk Indonesia)



