Tuesday, 17 February 2026

Seni, Asrama, dan Masa Depan Manusia

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh

lognews.co.id - Dari Semiotika hingga L-STEMS: Merawat Humanisme di Era AI melalui Pendidikan Seni

Di tengah laju kecerdasan buatan yang mampu menulis, melukis, bahkan menggubah musik dalam hitungan detik, satu pertanyaan besar muncul: apa yang tersisa dari manusia?

Jawabannya, menurut Prof. Dr. Drs. Nur Sahid, M.Hum., bukan sekadar kecerdasan logis atau hafalan panjang yang pernah menjadi kebanggaan pendidikan masa lalu. Yang tersisa dan justru semakin penting adalah empati, kreativitas, kelenturan berpikir, dan daya tahan menghadapi perubahan. Semua itu, tegasnya, berakar pada seni.

profnursahid

Dalam Pelatihan Pelaku Didik AL-Zaytun ke-37 di Mahad Al-Zaytun, beliau tidak hanya berbicara tentang seni sebagai hiburan. Prof. Nur Sahid membingkainya sebagai mesin pembentuk manusia abad ke-21 .

Semioti​ka: Membaca Dunia Lewat Tanda

Sebelum masuk pada tema besar pendidikan seni, Prof. Nur Sahid membuka dengan bidang keilmuannya: semiotika, yaitu ilmu tentang tanda dan produksi makna dalam masyarakat.

Lampu merah berarti berhenti. Janur di depan rumah berarti pesta pernikahan. Bendera kecil putih di tepi jalan menandakan duka cita. Semua itu adalah praktik semiotika dalam kehidupan sehari-hari. Kita hidup dalam dunia tanda, dan tanpa sadar terus-menerus menafsirkan makna.

Beliau merujuk pada gagasan tokoh seperti Charles Sanders Peirce dan Ferdinand de Saussure tentang ikon, indeks, dan simbol. Bahwa makna tidak pernah hadir begitu saja, melainkan diproduksi dalam kesepakatan sosial .

Dari sinilah seni menjadi penting: ia adalah arena produksi makna paling intens dalam kehidupan manusia.

Seni sebagai Laboratorium Kecerdasan

Memasuki abad ke-21, pendidikan berbasis hafalan tidak lagi memadai. Dunia bergerak cepat, kompleks, dan penuh ambiguitas. Maka pendidikan harus melatih apa yang tidak bisa digantikan mesin: kreativitas, empati, dan kemampuan beradaptasi.

Menurut Prof. Nur Sahid, seni bekerja pada level terdalam kemanusiaan:

- Teater melatih fokus, empati, dan konsentrasi tinggi.
- Musik dan karawitan menyinkronkan otak kanan (emosi, kreativitas) dan otak kiri (logika, analisis).

Seni rupa mengasah kecerdasan spasial yang penting dalam desain dan rekayasa teknologi.

Beliau mengaitkan ini dengan pendekatan STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics), bahkan mengapresiasi pengembangan L-STEMS (Law-Science-Technology-Engineering-Mathematics-Spiritual) yang mengintegrasikan norma dan hukum dalam pendidikan .

Seni, dalam konteks ini, bukan pelengkap kurikulum. Ia adalah fondasi inovasi.

Kritik, Demokrasi, dan Etika dalam Seni

Dalam sesi tanya jawab, seorang pelajar bertanya: jika seni bisa menumbuhkan empati, mengapa ia juga sering menjadi alat sindiran dan konflik?

Jawaban Prof. Nur Sahid lugas: dalam demokrasi, seni adalah medium kritik sosial. Ia menyebut karya-karya kritik dari musisi seperti Iwan Fals dan Rhoma Irama sebagai contoh seni yang menyuarakan keresahan masyarakat .

Namun ia menegaskan satu batas etis: seni tidak boleh mengandung unsur SARA atau menebar kebencian. Kritik yang berbasis fakta dan moral justru menumbuhkan empati publik.

Seni, dalam posisi ini, adalah suara nurani sosial.

Tradisi di Tengah Modernitas

Pertanyaan lain menyentuh isu klasik: mengapa generasi muda lebih menyukai alat musik modern dibandingkan tradisional?

Prof. Nur Sahid menyebutnya sebagai gejala psikologis bangsa bekas jajahan. Mereka kecenderungan mengagungkan yang dianggap “modern” dan “Barat” .

Padahal, di Amerika dan Eropa, gamelan Jawa dan Sunda justru dipelajari secara serius di universitas-universitas besar. Musik tradisi Indonesia dianggap memiliki kekayaan harmoni dan kedalaman filosofis yang luar biasa.

Ironisnya, yang asing menghargai, yang memiliki justru menjauh.

Prof. Nur Sahid mengingatkan: belajar karawitan bukan kemunduran, melainkan kebanggaan kultural.

Sekolah Berasrama sebagai Inkubator Karakter

Lingkungan berasrama memiliki keunggulan yang tidak dimiliki sekolah reguler. Waktu belajar tidak terbatas jam kelas. Latihan seni dapat berlangsung sore dan malam hari. Interaksi sosial lebih intens.

Dalam konteks ini, seni menjadi:

- Media kohesi sosial antar santri dari latar budaya berbeda
- Ruang ekspresi emosi bagi siswa yang rindu rumah
- Laboratorium kepemimpinan melalui pementasan dan manajemen acara
- Arena pembentukan disiplin dan ketahanan mental

Beliau menyebut asrama sebagai “padepokan modern” sebagai ruang pembentukan karakter utuh .

Seni Melampaui AI

Di era kecerdasan buatan, seni mengalami pergeseran makna. Jika mesin bisa menghasilkan gambar dan teks, maka nilai seni manusia terletak pada pengalaman merasakan dan memaknai.

AI bekerja dengan data pasti. Sedangkan seni bekerja dalam wilayah abu-abu: ambigu, emosional, dan kontekstual.

Manusia yang terlatih dalam seni akan mampu menjadi penafsir nilai, penyuntik etika, dan penjaga kemanusiaan dalam sistem teknologi masa depan.

Inilah yang tidak bisa direplikasi algoritma.

Membangun Manusia Paripurna

Pada akhirnya, pendidikan seni di sekolah berasrama bukan sekadar urusan estetika panggung. Ia adalah pembangunan ekosistem manusia utuh: cerdas secara intelektual, halus secara moral, tangguh secara sosial.

Pendidikan berbasis L-STEMS yang menyertakan seni akan melahirkan generasi:

- Adaptif dalam disrupsi
- Humanis dalam kepemimpinan
- Kreatif dalam inovasi
- Resilien dalam perubahan

Di tengah dunia yang semakin mekanis, seni adalah napas yang menjaga manusia tetap manusia.

Dan mungkin, di situlah letak harapan masa depan pendidikan Indonesia.