Sunday, 15 February 2026

Ramadan, Belajar di Masyarakat, dan Kurikulum Merdeka: Novelty Angkatan ke-23 Wajah Baru OPMAZ

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

 Oleh: Ali Aminulloh

(Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun oleh Ali Aminulloh)

lognews.co.id, Indramayu - Ramadan belum tiba, tetapi denyut perubahan sudah terasa di kampus. Di tengah suasana pasca pemilihan raya pelajar, sebuah gagasan besar lahir: bukan sekadar menyusun kepengurusan baru, melainkan merombak cara pelajar berorganisasi dan bahkan menentukan kurikulumnya sendiri. Angkatan ke-23 bukan hanya melanjutkan estafet, tetapi menorehkan novelty atau kebaruan yang memberi ruang suara bagi semua tingkatan dan kemerdekaan belajar di bulan suci.

Estafet Kepemimpinan yang Lebih Inklusif

Pemilihan raya pelajar telah usai. Kepengurusan lama telah menuntaskan dharma baktinya. Kini tongkat estafet berada di tangan Presiden Santri Angkatan ke-23.

Namun, kali ini ada yang berbeda.

Kepengurusan tidak lagi hanya berisi kelas 11 yang naik ke kelas 12. Sebuah pembaruan digagas: kepengurusan yang melibatkan perwakilan dari seluruh tingkatan. Dari sekolah dasar hingga menengah atas, masing-masing tingkat akan diwakili tiga orang. dipilih langsung oleh Presiden Santri.

Maknanya jelas: keputusan tidak lagi berdiri di satu jenjang, tetapi lahir dari suara bersama. Sidang paripurna nanti bukan hanya ruang formalitas, melainkan forum yang benar-benar mencerminkan aspirasi seluruh pelajar.

Organisasi tingkatan tidak perlu lagi berdiri sendiri. Semua terhimpun dalam satu kepemimpinan terpusat, tetapi tetap representatif. Inilah kebaruan pertama Angkatan ke-23, sebuah langkah menuju kepengurusan yang inklusif dan menyeluruh.

Ramadan: Belajar di Masyarakat atau Mukim?

 Lalu datang pertanyaan yang menggantung di benak pelajar: Ramadan belajar di masyarakat atau tidak?

Keputusan pun ditetapkan. Mulai 11 Ramadan, pelajar diperbolehkan cuti selama 30 hari. Namun sebelum itu, Presiden Santri akan terlebih dahulu menjalankan programnya di awal Ramadan.

Yang menarik bukan sekadar jadwal liburnya. Tetapi pilihan yang ditawarkan.

Bagi yang ingin belajar di masyarakat, silakan pulang.

Bagi yang ingin tinggal, pintu tetap terbuka.

Dan di sinilah kebaruan kedua dimulai.

 Kurikulum Buatan Pelajar: Merdeka yang Sebenarnya

 Bagi pelajar yang memilih mukim di kampus selama Ramadan, mereka tidak sekadar tinggal. Mereka diberi kesempatan menyusun kurikulum sendiri.

Ya, kurikulum buatan pelajar.

 Ingin mendalami tiga bidang tertentu? Ajukan.

Ingin belajar bahasa asing? Boleh.

Ingin penelitian pupuk? Silakan.

Ingin memperdalam kajian tertentu? Tersedia guru pendamping.

Cukup tiga fokus pembelajaran. Disepakati bersama. Diajukan ke kepala sekolah. Guru disiapkan untuk membimbing.

Jika ada seratus pelajar yang tinggal, mereka bisa membentuk kelompok-kelompok minat. Dari sepuluh gagasan, diringkas menjadi tiga fokus utama. Belajar bukan lagi sekadar mengikuti arus, tetapi memilih arah.

Dan yang paling istimewa: akan ada sertifikat Ramadan.

Selama ini mungkin tidak ada sertifikat tambahan. Tahun ini berbeda. Siapa pun yang mengikuti kurikulum Ramadan akan mendapatkan sertifikat resmi yang dapat dilampirkan dalam ijazah. Jika tiga Ramadan berturut-turut mengikuti program, maka capaian itu bisa masuk dalam kurikulum pribadi, sebagai bukti penguasaan kompetensi tertentu.

Inilah yang disebut sebagai “kurikulum merdeka” dalam makna yang sesungguhnya: murid memilih, guru membimbing.

Ramadan yang Tidak Hanya Sunyi

Ramadan sering identik dengan jeda. Tetapi di sini, Ramadan justru menjadi ruang pilihan.

Pulang untuk belajar di masyarakat, atau tinggal untuk mengembangkan diri.

Libur sebagai istirahat, atau libur sebagai kesempatan tumbuh.

Semua diberi ruang. Semua dihargai.

Kebaruan Angkatan ke-23 bukan hanya pada struktur kepengurusan, tetapi pada cara berpikir: bahwa organisasi harus mewakili, bahwa belajar harus memerdekakan, dan bahwa Ramadan bisa menjadi momentum transformasi.

Sebelum bulan suci tiba, kepengurusan ditargetkan sudah terbentuk dan dilantik. Agar ketika Ramadan datang, program sudah berjalan, arah sudah jelas, dan semangat sudah menyala.

Epilog: Ramadan dan Kemerdekaan Belajar

Angkatan ke-23 memulai langkahnya dengan keberanian membuat perubahan. Kepengurusan yang inklusif dan kurikulum yang lahir dari keinginan pelajar sendiri adalah dua pijakan awal.

Ramadan tahun ini bukan hanya soal puasa.

Ia menjadi ruang latihan kepemimpinan, kemandirian, dan kemerdekaan belajar.

Sebuah langkah kecil, tetapi mungkin menjadi sejarah baru. (Amri-untuk Indonesia) 

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah