Thursday, 12 February 2026

Dari Desa Sukajati, Mahasiswa IAI Al-Azis Menanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id - Dari Desa Sukajati, Mahasiswa IAI Al-Azis Menanamkan Kesadaran Lingkungan Sejak Dini. Mahasiswa IAI Al-Azis tahun akademik 2025–2026 mengadakan Kuliah Kerja Nyata (KKN), salah satunya di Desa Sukajati, Kecamatan Haurgeulis. Di antara beragam program pengabdian yang digelar, ada satu yang menyentuh akar persoalan bangsa: edukasi sadar lingkungan tentang sampah.

Di tangan para mahasiswa, sampah tak lagi sekadar sisa buangan. Ia menjadi pintu masuk untuk berbicara tentang peradaban.

Peradaban Diukur dari Cara Mengelola Sampah

Salah satu ciri peradaban manusia modern adalah bagaimana mereka menangani sampah. Di permukaan, sampah terlihat sederhana: akrab dalam keseharian, hadir di dapur, di halaman rumah, di sudut-sudut jalan. Namun ketika tak dikelola dengan baik, ia berubah menjadi ancaman: banjir, pencemaran tanah, rusaknya ekosistem, hingga gangguan kesehatan.

IAIAZIS

Sebaliknya, sampah bisa menjadi berkah ketika dikelola dengan bijak. Negara-negara maju dan berperadaban tinggi dinilai bukan hanya dari gedung-gedung pencakar langitnya, tetapi dari sistem pengelolaan sampah yang rapi, tertib, dan berbasis kesadaran kolektif.

Akar persoalannya bukan semata pada teknologi, melainkan pada kesadaran masyarakat. Bahwa sampah adalah masalah bersama. Dan kesadaran itu tidak lahir tiba-tiba. Ia harus ditanamkan sejak dini.

Poster yang Berbicara: Edukasi Sederhana yang Menggugah

Di Desa Sukajati, mahasiswa KKN IAI Al-Azis memilih pendekatan yang sederhana namun mengena. Mereka tidak hanya menyampaikan materi melalui sosialisasi, tetapi juga menghadirkan pesan visual yang langsung menyentuh kesadaran warga.

Mahasiswa membuat poster dari papan kayu yang dituliskan informasi tentang berapa lama tanah mengurai berbagai jenis sampah. Dengan huruf tegas dan kalimat yang mudah dipahami, papan-papan itu memuat data yang menggugah:

- Botol plastik membutuhkan waktu hingga 500 tahun untuk terurai.
- Kaleng memerlukan sekitar 200 tahun.
- Kemasan susu kotak butuh sekitar 20 tahun.
- Sementara sampah organik, seperti sisa makanan dan daun-daunan, hanya membutuhkan waktu sekitar 1 bulan untuk terurai secara alami.

Poster-poster tersebut kemudian dipasang di papan dekat lokasi masyarakat biasa membuang sampah. Strateginya sederhana: setiap orang yang hendak membuang sampah akan membaca informasi itu. Mereka diajak berhenti sejenak, berpikir, dan menyadari dampak dari tindakan kecil yang dilakukan setiap hari.

Langkah ini bukan sekadar tempelan papan. Ia adalah pesan moral yang berdiri tegak di ruang publik. Sebuah pengingat bahwa satu botol plastik yang dibuang hari ini akan tetap ada hingga ratusan tahun mendatang.

Melalui diskusi ringan, simulasi pemilahan sampah, serta pemasangan poster edukatif di titik-titik strategis, mahasiswa berupaya menanamkan pemahaman bahwa perubahan besar selalu dimulai dari langkah kecil: memilah, mengurangi, dan tidak membuang sembarangan.

Edukasi tentang sampah sejatinya adalah tanggung jawab masyarakat terdidik. Mahasiswa, sebagai agen perubahan, tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga peka terhadap persoalan sosial dan lingkungan.

Dari Desa Sukajati, pesan itu mengalir pelan namun pasti: peradaban tidak dibangun dari hal-hal besar saja. Ia dimulai dari kesadaran sederhana, bahwa selembar plastik yang kita buang hari ini adalah warisan bagi generasi esok.

Dan KKN bukan sekadar program kampus. Ia adalah ruang belajar paling nyata tentang bagaimana ilmu bertemu dengan tanggung jawab, dan bagaimana sebuah papan kecil bisa menyalakan kesadaran besar. (Oleh ust Ali Aminulloh)