Friday, 06 February 2026

Menata Sejak Tunas: Ma’had Al Zaytun Merealisasikan L-STEAMS dari Pendidikan Paling Dini

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh: Ali Aminulloh 

lognews.co.id, Indonesia - Sejak awal berdirinya, Ma'had Al Zaytun tak pernah menempatkan pendidikan sekadar sebagai proses transfer ilmu. Pendidikan, bagi Al Zaytun, adalah jalan memanusiakan manusia. Kesadaran inilah yang kembali ditegaskan dalam Diskusi Kurikulum L-STEAMS yang digelar Kamis, 5 Februari 2026, sebuah forum penting yang menandai langkah strategis Al Zaytun menata ulang kurikulum sejak tingkat paling dasar: Pendidikan - Anak Usia Dini. Anak Usia Dini bahkan diberi nomenklatur unik, yaitu "Tunas".

Diskusi yang berlangsung di Mihrab Masjid Rahmatan Lil Alamin Al Zaytun itu menjadi ruang perumusan serius bagaimana nilai Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual (L-STEAMS) tidak berhenti sebagai jargon, tetapi benar-benar hidup dalam praksis pendidikan. Bahkan, konsep tersebut hendak ditanamkan sejak “tunas” pertama pertumbuhan manusia.

Kurikulum sebagai Jalan Kemanusiaan

Diskusi dibuka pada pukul 10.56 WIB dan dipimpin langsung oleh Syaykh Ma’had Al Zaytun. Dalam pengantarnya, Syaykh mengajak peserta keluar dari cara pandang pendidikan yang sempit. Pendidikan yang hanya mengejar peringkat, nilai, dan prestise akademik.

“Hakikat pendidikan adalah kemanusiaan yang adil dan beradab,” tegasnya. Menurut Syaykh, pendidikan yang hanya melahirkan anak cerdas namun kehilangan jatidiri, justru berbahaya. Ia menyinggung fenomena di berbagai negara maju, di mana tekanan prestasi sering berujung pada krisis mental bahkan bunuh diri di kalangan pelajar.

Bagi Al Zaytun, tujuan akhir pendidikan adalah manusia yang sehat, cerdas, dan manusiawi. Manusia yang mampu tersenyum dan tenang dalam kondisi apa pun. Senyum, kata Syaykh, bukan sekadar ekspresi, melainkan tanda jiwa yang sehat. Dari sinilah kurikulum harus dibangun: menghadirkan kebahagiaan dalam belajar.

Menyempurnakan Kurikulum Negara

Dalam konteks itulah Al Zaytun berani menyempurnakan kurikulum nasional. Bukan menolak, tetapi memperkaya. Unsur Law, Art, dan Spiritual ditambahkan agar pendidikan tidak kering nilai dan tidak kaku aturan. Semua unsur dalam L-STEAMS diposisikan setara dan saling menjiwai, bukan saling mendominasi.

“Kalau hukum berdiri sendiri, ia bisa menjadi kaku. Tapi ketika hukum dijiwai sains, seni, dan spiritualitas, ia menjadi hidup,” jelas Syaykh. Ia mengibaratkan L-STEAMS sebagai mata rantai yang saling terhubung, tidak terputus satu sama lain.

Dari PAUD ke “Tunas”

Salah satu keputusan penting dalam diskusi ini adalah penataan nomenklatur Pendidikan Anak Usia Dini. Al Zaytun memperkenalkan istilah “Tunas” sebagai padanan Anak Usia Dini. Istilah ini tidak dimaksudkan untuk menghapus PAUD, melainkan memberi makna filosofis yang lebih hidup.

“Tunas bukan sekadar istilah. Ia melambangkan awal pertumbuhan manusia yang harus diperlakukan dengan kesadaran,” ujar Syaykh. Anak usia dini, menurutnya, tidak boleh “ujug-ujug” dibebani target, tetapi dituntun secara bertahap sesuai fitrahnya.

Dalam konteks ini, kurikulum P-AUD/Tunas berbasis LSTEAMS disusun bukan untuk membebani anak, melainkan sebagai panduan bagi guru. Anak belajar terutama dari apa yang ia lihat dan dengar. Karena itu, peran guru sebagai murabbi menjadi kunci. Metode dan materi penting, tetapi kehadiran guru jauh lebih menentukan.

Kurikulum untuk Guru, Bukan Sekadar Anak

Syaykh menegaskan, kurikulum hakikatnya adalah alat membimbing pendidik. Anak usia dini tidak belajar dari teori abstrak, tetapi dari keteladanan. Maka, LSTEAMS harus hidup di kelas dan asrama, menjadi pegangan dalam setiap proses bimbingan.

Diskusi ini juga mencerminkan pendekatan terbuka Al Zaytun terhadap teknologi. Pemanfaatan kecerdasan buatan (AI) disebut sebagai bagian dari ikhtiar memahami dan menyempurnakan konsep, selama digunakan dengan kesadaran dan tujuan yang jelas.

WhatsApp Image 2026 02 05 at 19.21.03

Ketetapan Akademik Ramadhan

Selain membahas kurikulum, forum ini juga menetapkan kebijakan akademik Ramadhan 1447 H. Diputuskan bahwa pembelajaran di kampus berlangsung selama 1–10 Ramadhan (18–27 Februari 2026). Selanjutnya, peserta didik menjalani pembelajaran di masyarakat bersama keluarga selama 30 hari, mulai 28 Februari hingga 30 Maret 2026. Kegiatan belajar di kampus kembali efektif pada 31 Maret 2026.

Kebijakan ini diambil dengan pertimbangan psikologis, spiritual, dan akademik, sekaligus menjaga keseimbangan antara pendidikan formal dan pembinaan keluarga.

Menanam Kesadaran Sejak Awal

Diskusi Kurikulum L-STEAMS ini ditutup pada pukul 12.56 WIB dengan hamdalah. Namun substansinya jauh melampaui sebuah forum internal. Ia menegaskan arah besar Ma’had Al Zaytun: menanam kesadaran sejak tunas, membangun pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan akal, tetapi juga menenangkan jiwa dan memuliakan manusia.

Di tengah dunia pendidikan yang kerap terjebak angka dan peringkat, Al Zaytun menawarkan satu pesan sederhana namun mendasar: pendidikan harus memanusiakan manusia. (Amri-untuk Idonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah