Oleh : Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indonesia - Sawah itu sunyi. Namun di balik sunyi, ia menyimpan pertanyaan paling mendasar tentang peradaban manusia: siapa yang akan memberi kita makan di masa depan?
Pertanyaan itulah yang mengalir kuat dalam Kuliah Umum Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun ke-35, ketika ribuan civitas Al Zaytun berkumpul untuk mendengar paparan seorang ilmuwan dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Hanif Fakhurroja, S.Si. MT.
Di forum itu, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) tidak dibicarakan sebagai teknologi abstrak, melainkan sebagai alat peradaban alat untuk menjawab krisis pangan, krisis regenerasi petani, dan krisis makna dalam pembangunan pertanian modern.

Dari Ruang Kuliah ke Lahan Nyata
Dalam pemaparannya, Prof. Hanif tidak memulai dari algoritma atau kode pemrograman. Ia justru memulai dari jalan kaki pagi hari menyusuri lahan Al-Zaytun: melihat sawah yang dipetak rapi, industri pengolahan hasil tani, peternakan, perikanan, hingga sistem pasca-panen yang terintegrasi.
“Di banyak tempat, riset berhenti di jurnal. Di sini, saya melihat riset sudah hidup,” ungkapnya.
Pengalaman lapangan itu menjadi pintu masuk untuk menjelaskan bagaimana AI dalam pertanian presisi hanya akan bermakna jika berpijak pada realitas. Bukan sekadar simulasi laboratorium, tetapi living lab: tempat pendidikan, riset, dan praktik menyatu.
AI, Data, dan Masa Depan Petani
Secara global, dunia sedang menghadapi paradoks besar. Data Organisasi Perburuhan Internasional (ILO) menunjukkan bahwa jumlah orang yang mau bekerja di sektor pertanian terus menurun, sementara populasi dunia justru bergerak menuju kota. Pada 2050, lebih dari 65 persen manusia diprediksi hidup di wilayah urban.

Pertanyaannya sederhana, tapi mengguncang:
jika semua orang ke kota, siapa yang menanam pangan?
Di Indonesia, ironi itu semakin terasa. Negara agraris dengan lahan subur justru memiliki indeks ketahanan pangan yang rapuh, terutama di kawasan timur. Masalahnya bukan karena petani malas atau tidak bekerja keras, melainkan karena keputusan pertanian masih berbasis intuisi, bukan data prediktif.
Di sinilah AI hadir bukan sebagai pengganti petani, tetapi sebagai sistem pendukung keputusan.
Dengan memanfaatkan Internet of Things (IoT), sensor tanah, sensor iklim, data satelit, dan analitik berbasis AI, pertanian dapat bertransformasi dari sistem reaktif menjadi pertanian prediktif:
- Kapan waktu tanam terbaik
- Tanaman apa yang paling sesuai
- Berapa kebutuhan air dan nutrisi
- Risiko gagal panen sejak dini
LSTEAMS: Sains yang Bertemu Nurani
Yang membedakan kuliah umum ini dari diskursus teknologi pada umumnya adalah pendekatan LSTEAMS: Law, Science, Technology, Engineering, Art, Mathematics, dan Spiritual.
Pendekatan ini, sebagaimana dipadukan Prof. Hanif dengan visi Al-Zaytun, membagi ekosistem AI pertanian ke dalam tiga sistem besar:
1. Knowledge System
Berbasis sains dan matematika.
AI mengubah “kira-kira” menjadi probabilitas, intuisi menjadi evidence-based agriculture.
2. Socio-Technical System
Berbasis hukum, seni, dan spiritualitas.
Teknologi tidak boleh menindas petani, tidak boleh menciptakan ketimpangan baru. AI harus:
- adil secara hukum, mudah dipahami (desain visual dan bahasa petani)
- selaras dengan nilai spiritual dan etika lingkungan
3. Engineering System
Berbasis rekayasa dan teknologi. Bukan teknologi yang rumit, tetapi tangguh, terintegrasi dari hulu ke hilir, dan mampu hidup di kondisi lapangan nyata.
Di sinilah AI menemukan jiwanya, bukan sekadar cerdas, tetapi bermakna.
Al-Zaytun sebagai Living Lab Peradaban
Apa yang membuat gagasan ini terasa nyata adalah konteks Al-Zaytun itu sendiri. Pendidikan di Al-Zaytun tidak berhenti di kelas. Dari PAUD hingga perguruan tinggi, dari sawah hingga silo penyimpanan, semua menjadi ruang belajar yang utuh.
Al-Zaytun menghadirkan rantai nilai pertanian lengkap:
tanam → panen → olah → simpan → konsumsi.
Bahkan, sebagaimana diamati Prof. Hanif, sistem pasca-panen yang dimiliki Al-Zaytun melampaui banyak institusi pendidikan tinggi. Inilah contoh bagaimana pendidikan, riset, dan hilirisasi berjalan serentak.
Menuju Pertanian yang Cerdas, Adil, dan Manusiawi
Di akhir paparannya, Prof. Hanif menegaskan satu hal penting: AI bukan tujuan, melainkan alat
Tujuannya tetap manusia, yaitu petani yang sejahtera, pangan yang berkelanjutan, dan peradaban yang berakar pada nilai.
Apa yang berlangsung dalam Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun ke-35 ini bukan sekadar kuliah umum. Ia adalah penanda arah: bahwa masa depan pertanian Indonesia tidak harus memilih antara tradisi atau teknologi, antara iman atau sains. Di Al-Zaytun, keduanya dipertemukan. Dan dari sawah yang sunyi itu, masa depan perlahan disemai. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


