Monday, 09 February 2026

Dari Sawah yang Sunyi Menuju Bangsa yang Berdaulat

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

Oleh : Ali Aminulloh

AI, Energi Terbarukan, dan Pendidikan sebagai Jalan Baru Indonesia

Di saat dunia gaduh berebut energi, teknologi, dan pengaruh global, sebuah forum pendidikan justru mengajak untuk diam sejenak untuk merenung. Dari Al-Zaytun, Indramayu, lahir sebuah tawaran pemikiran: masa depan bangsa tidak ditentukan oleh seberapa kaya sumber daya alamnya, melainkan oleh seberapa cerdas manusia yang mengelolanya.

AI, Pertanian Presisi, dan Peta Riset Masa Depan

Kuliah Umum Pelatihan Pelaku Didik Al-Zaytun ke-35 menghadirkan Prof. Dr. Hanif Fakhurroja, S.Si., MT dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Ia mengurai masa depan pertanian presisi berbasis Artificial Intelligence (AI) dengan pendekatan LSTEAMS (Law, Science, Technology, Engineering, Arts, Mathematics, and Spiritual) sebagai kerangka riset, inovasi, dan hilirisasi.

Dalam paparannya, Prof. Hanif menegaskan bahwa AI tidak semestinya berhenti di laboratorium atau industri digital. Teknologi ini justru harus turun ke sawah: membaca karakter tanah, mengelola air, memprediksi cuaca, hingga meningkatkan produktivitas secara presisi dan berkelanjutan. Pertanian, dalam perspektif ini, bukan sektor tertinggal, melainkan pusat inovasi strategis yang menentukan ketahanan pangan dan kedaulatan bangsa.

lognews 19 syaykh bersama prof ai

Manusia sebagai Inti Kekuatan Bangsa

Usai pemaparan tersebut, Syaykh A.S. Panji Gumilang menggulung seluruh gagasan ke dalam refleksi besar tentang kekuatan negara. Menurutnya, tema transformasi revolusioner pendidikan berasrama bukan isu sektoral, melainkan jembatan untuk memantapkan national power.

Syaykh Panji menegaskan, sumber daya alam adalah karunia ilahi, tetapi sumber daya manusia adalah hasil kesadaran peradaban. Dari manusialah kekuatan negara bermula. Ia memetakan tiga pilar utama: sumber daya manusia, diplomasi, dan energi. Dari ketiganya tumbuh kekuatan militer dan ekonomi, hingga akhirnya berwujud dalam kekuatan kultural. Tiga berkembang menjadi enam.

Sejarah menjadi cermin. Indonesia, katanya, adalah pelopor energi fosil dunia sejak 1850, lebih awal dari Amerika Serikat. Dari Batavia lahir industri minyak dunia, bahkan kekayaan Indonesia turut membangun kota-kota besar global seperti New York. Namun ironi terjadi: bangsa yang lebih dulu menemukan justru menjadi yang lebih dulu kehilangan. Penyebabnya bukan alam, melainkan kegagalan menata manusia dan pendidikannya.

lognews.co.id foto 38 syaykh petani symposium

Energi Senyap, Sawah Masa Depan, dan Revolusi Pendidikan

Dunia kini bergerak dari energi fosil yang “ribut” menuju energi terbarukan yang senyap. Mesin listrik tanpa deru, teknologi bersih tanpa asap, dan sistem produksi yang ramah lingkungan. Indonesia, yang berada di garis khatulistiwa dengan sinar matahari hampir 12 jam sepanjang tahun, memiliki posisi strategis yang tak tergantikan.

Transformasi ini, menurut Syaykh Panji, harus dimulai dari pertanian. Traktor listrik, mesin pengolah padi berbasis energi surya, pengering gabah tanpa bahan bakar minyak, hingga pemanfaatan sekam sebagai sumber energi semuanya memungkinkan. Sawah masa depan akan kembali hening. Tidak ada lagi raungan mesin diesel. Yang terdengar justru nyanyian manusia yang bekerja selaras dengan alam.

Di titik inilah pendidikan mengambil peran kunci. Petani tidak boleh berhenti belajar. SMA tidak cukup. Harus ada S1, S2, bahkan S3, bukan demi gelar, melainkan demi kemampuan memanajemen hasil dan teknologi. Keluhan bahwa generasi muda enggan bertani dianggap keliru. Bertani adalah profesi gagah, sehat, dan menjanjikan, jika didukung pendidikan dan inovasi.

Semua ini dimulai dari kiriwian, aliran kecil yang ditata sungguh-sungguh. Dari Al-Zaytun, dari pendidikan berasrama, dari sawah, dari laboratorium. Jika dirawat, kiriwian itu akan menjadi kerocokan, arus besar perubahan yang mengantarkan Indonesia pada peradaban baru.(Amri-untuk Indonesia) Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah. (Amri-untuk Indonesia)

Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah