Indramayu, lognews.co.id - Permasalahan besar seperti sektor pertanian tidak dapat dipahami secara parsial, melainkan harus dilihat sebagai sistem yang saling terhubung. Hal tersebut disampaikan Prof. Hanif dalam kegiatan Pekan ke-36 Pelatihan Pelaku Didik yang membahas pemanfaatan teknologi, pendidikan, serta arah pembangunan bangsa berbasis sains dan kecerdasan buatan (AI).

Menurutnya, terdapat tiga sistem utama yang perlu diintegrasikan, yaitu sistem pengetahuan, sistem sosial-teknis, dan sistem rekayasa (engineering). Pendekatan ini menjadi penting agar berbagai persoalan nasional dapat diselesaikan secara komprehensif dan berkelanjutan.
Sistem Pengetahuan: Dari Feeling Menuju Pertanian Berbasis Data
Dalam sistem pengetahuan, Prof. Hanif menyoroti bahwa praktik pertanian di Indonesia masih banyak bergantung pada pengalaman subjektif dan tradisi turun-temurun. Cara tersebut dinilai semakin kurang memadai di tengah perubahan iklim yang sulit diprediksi.
Ia menjelaskan bahwa data cuaca, kondisi tanah, serta produktivitas pertanian belum dikelola secara optimal, sehingga kalender tanam sering meleset dan meningkatkan risiko gagal panen. Oleh karena itu, integrasi teknologi menjadi kebutuhan mendesak.
Kecerdasan buatan yang dipadukan dengan Internet of Things (IoT) dinilai mampu membantu petani melalui rekomendasi berbasis data ilmiah dan pemantauan lapangan secara real time, sekaligus memperkuat pengalaman praktis yang telah dimiliki petani.
Sistem Sosial-Teknis: Krisis Regenerasi Petani dan Struktur Pasar
Selain aspek teknologi, Prof. Hanif juga menyoroti persoalan sosial-teknis, terutama menurunnya jumlah sumber daya manusia di sektor pertanian. Dalam dialog bersama pelajar kelas XII MA Al-Zaytun, dibahas fenomena rendahnya minat generasi muda menjadi petani.
Pertanyaan dari peserta bernama Chandra Fahrizan membuka diskusi mengenai kesejahteraan petani dan solusi berbasis teknologi. Prof. Hanif menjelaskan bahwa masalah tidak hanya berada pada individu petani, tetapi juga pada struktur distribusi dan dominasi tengkulak yang sering kali menyebabkan ketimpangan ekonomi.
Ia mengusulkan pemanfaatan marketplace berbasis teknologi sebagai solusi untuk memperpendek rantai distribusi, meningkatkan transparansi harga, serta menciptakan pasar yang lebih adil.
Kesalahan Fatal Memahami AI dan Pentingnya Berpikir Kritis
Prof. Hanif mengkritisi pemahaman umum tentang AI yang sering disempitkan hanya pada penggunaan aplikasi generatif. Menurutnya, kesalahan terbesar adalah menjadikan AI sebagai sumber kebenaran tanpa proses analisis dan verifikasi.
Ia menekankan pentingnya literasi digital dan kemampuan berpikir kritis agar peserta didik tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu memahami dan mengembangkan gagasan di baliknya.
Pendekatan L-STEAMS: Integrasi Multidisiplin dalam Pendidikan
Dalam konteks pendidikan, dibahas pula konsep L-STEAMS yang mengintegrasikan hukum, sains, teknologi, rekayasa, seni, matematika, dan spiritualitas. Pendekatan multidisiplin ini dinilai menjadi fondasi penting bagi pembangunan negara maju.
Prof. Hanif menegaskan bahwa keberhasilan implementasi teknologi tidak hanya bergantung pada kecanggihan alat, tetapi pada kesiapan manusia, budaya, etika, dan sistem sosial yang melingkupinya.
Sains dan Filosofi: Fondasi Berpikir untuk Bangsa Maju
Pandangan mengenai pembangunan bangsa juga diperkuat oleh Prof. Mahyuni yang menekankan pentingnya integrasi sains dan filosofi. Ia mencontohkan kisah Newton yang tidak sekadar melihat apel jatuh, tetapi mempertanyakan fenomena tersebut hingga melahirkan pemahaman ilmiah.
Menurutnya, banyak pelajar Indonesia memiliki kemampuan teknis yang baik, namun inovasi belum berkembang optimal karena kurangnya penguatan pemikiran filosofis dalam pendidikan.
Model Pendidikan Terpadu Al-Zaytun: Dari Teori ke Praktik Nyata
Prof. Hanif menilai implementasi pendidikan di Mahad Al-Zaytun sebagai contoh transformasi nyata melalui sistem pendidikan terpadu atau one pipe education system yang berkelanjutan dari tingkat dasar hingga perguruan tinggi.
Sistem ini mengintegrasikan pembelajaran teori dengan praktik langsung, mulai dari pertanian, peternakan, perikanan, hingga proses produksi dan distribusi. Model tersebut dinilai mampu membangun kemandirian peserta didik serta pemahaman sistemik tentang ekonomi, teknologi, dan kehidupan sosial.
Konsep “tanah air” juga diperkenalkan sebagai representasi green economy melalui pengelolaan tanah dan blue economy melalui pemanfaatan sumber daya air.
Menuju Indonesia Emas Berbasis Sains dan Peradaban
Sebagai penutup, Prof. Hanif menegaskan bahwa Indonesia Emas hanya dapat dicapai melalui fondasi sains yang kuat, pemikiran filosofis yang mendalam, serta pemahaman lintas disiplin.
Ia berharap transformasi pendidikan yang visioner terus berkembang dan menjadi kontribusi nyata dalam membangun bangsa yang mandiri, beradab, dan siap menghadapi tantangan masa depan. (Sahil untuk Indonesia)


