Oleh: Ali Aminulloh
lognews.co.id, Indramayu - Suara derit sepatu karet yang beradu dengan lantai kayu GOR Dharma Ayu Indramayu, Sabtu malam itu, bukanlah sekadar bunyi kompetisi biasa. Di tengah riuh rendah teriakan suporter dan dentuman bola basket, terselip sebuah ritme yang lebih besar: ritme kemandirian dan ketangguhan mental. Saat lagu Indonesia Raya berkumandang khidmat mengawali partai puncak, ada getaran filosofis yang merayap di dada para atlet muda Al-Zaytun. Bagi mereka, pertandingan ini bukan sekadar upaya memasukkan bola ke dalam ring, melainkan sebuah panggung pembuktian atas visi pendidikan yang selama ini mereka jalani.

Keberhasilan kontingen Al-Zaytun dalam menyapu bersih kemenangan di ajang Perbasi Cup Indramayu 2026 Season #1 merupakan manifestasi nyata dari Trilogi Kesadaran yang dicanangkan oleh Syaykh Al-Zaytun, A.S. Panji Gumilang. Kesadaran pertama, yakni Kesadaran Filosofis, terlihat jelas dari cara anak-anak MA Al-Zaytun menguasai emosi di lapangan. Sejak tip-off dimulai, mereka bertanding dengan ketenangan seorang pendekar. Semboyan "Hustle, Humble, Win, Merdeka!" yang mereka gaungkan bukan sekadar yel-yel, melainkan refleksi jati diri bahwa kemenangan sejati dimulai dari kerja keras yang tuntas dan kerendahan hati untuk tetap membumi.
Aspek kedua, Kesadaran Ekologis, terpancar dari stamina prima yang ditunjukkan para atlet sepanjang turnamen. Kemenangan telak tim putra MTs Al-Zaytun atas SMPN 1 Balongan dengan skor telak 52-21, serta ketangguhan stamina MA Al-Zaytun saat menundukkan SMAN 1 Sindang 35-26, adalah buah dari pemeliharaan "ekosistem tubuh" yang disiplin. Dengan dukungan lingkungan pendidikan yang asri dan asupan gizi yang mandiri, para atlet memiliki energi yang selaras dengan alam, memungkinkan mereka tetap bertenaga hingga detik terakhir saat lawan mulai kelelahan.

Puncaknya adalah Kesadaran Sosial, yang mewujud dalam bentuk kerja sama tim yang solid dan kedisiplinan bertahan. Dalam partai final SMA Putra Divisi 1 yang paling bergengsi, MA Al-Zaytun menunjukkan bahwa basket adalah seni gotong royong. Tidak ada satu pemain pun yang merasa lebih besar dari timnya. Setiap operan dan pertahanan yang rapat adalah pesan sosial bahwa tujuan kolektif jauh lebih mulia daripada sekadar statistik pribadi. Semangat ini pula yang membawa tim putra MTs Al-Zaytun merengkuh Juara 1, sementara tim putri MTs Al-Zaytun tetap berdiri tegak sebagai Runner-up yang membanggakan setelah memberikan perlawanan gigih melawan SMPN 2 Sindang A dengan skor akhir 13-28.

Raihan piala bergilir, medali emas, dan sertifikat penghargaan ini hanyalah simbol dari proses panjang yang telah dilalui. Bagi civitas akademika Al-Zaytun, hasil gemilang ini dijadikan bahan evaluasi untuk terus memoles potensi para atlet di masa hadapan. Kemenangan ini adalah sebuah deklarasi bahwa dari rahim Al-Zaytun, semangat "Merdeka" itu nyata, berdenyut dalam strategi, mengalir dalam peluh, dan bermuara pada lahirnya karakter manusia yang unggul di segala bidang kehidupan. (Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


