Oleh: Mochamad Iqbal Aulia, S.Sos.
lognews.co.id, Indonesia - Kamis, 5 Februari 2026, Darma Bakti 23 menjadi ruang yang hidup. Sepuluh besar Calon Presiden Organisasi Pelajar Ma'had Al Zaytun (OPMAZ) berdiri, berbicara, dan menawarkan arah. Di hadapan pelajar, mereka tidak sekadar berorasi—mereka sedang belajar memikul tanggung jawab gagasan. Inilah kampanye dalam makna sejatinya: bukan panggung janji, melainkan kelas praktik kepemimpinan.
Di Al Zaytun, kampanye bukan tradisi kosong yang diwarisi tanpa makna. Ia adalah alat pedagogis. Sebuah metode pembelajaran yang sengaja dirancang agar pelajar memahami demokrasi bukan sebagai slogan, tetapi sebagai proses berpikir, menyusun visi, menyampaikan ide, dan menerima kritik secara beradab.
Kampanye sebagai Pembelajaran Demokrasi yang Hidup
Demokrasi tidak lahir dari hafalan definisi, tetapi dari pengalaman langsung. Kampanye OPMAZ mengajarkan bahwa: kepemimpinan harus berbasis gagasan, bukan popularitas, kekuasaan dimulai dari kepercayaan, bukan paksaan, dan perbedaan pandangan bukan ancaman, melainkan kekayaan berpikir.
Para calon Presiden OPMAZ belajar bahwa suara publik tidak bisa diraih dengan retorika kosong. Mereka dituntut menjelaskan visi, misi, strategi, dan program unggulan secara rasional. Ini adalah pendidikan demokrasi yang tidak reaktif, tetapi reflektif—demokrasi yang mendidik manusia, bukan membelahnya.
Menanam Kesadaran, Menumbuhkan Kemanusiaan
Lebih dalam dari sekadar mekanisme pemilihan, kampanye OPMAZ adalah proses menanam kesadaran kemanusiaan. Setiap calon belajar bahwa memimpin berarti: mendengar sebelum memutuskan, memahami sebelum menilai, dan melayani sebelum dilayani.
Inilah makna kemanusiaan yang tumbuh melalui praktik, bukan ceramah. Demokrasi di Al Zaytun tidak diarahkan untuk melahirkan pemenang semata, tetapi manusia yang matang secara moral, sosial, dan intelektual.
Kampanye dalam Kerangka Transformasi Revolusioner Pendidikan
Apa yang terjadi di Darma Bakti 23 hari ini sejatinya adalah bagian dari transformasi revolusioner pendidikan. Pendidikan tidak lagi berhenti di ruang kelas, tetapi bergerak ke ruang publik, ke mimbar, ke forum, ke dinamika nyata kehidupan.
Di sinilah semangat LSTEAMS bekerja secara utuh:
- Law: memahami aturan dan etika demokrasi,
- Science: berpikir logis dan berbasis data,
- Technology: memanfaatkan media dan komunikasi,
- Engineering: merancang program dan strategi,
- Art: menyampaikan ide dengan estetika dan empati,
- Mathematics: menyusun prioritas dan perhitungan,
- Spiritual: menjaga niat dan tanggung jawab moral.
Kampanye menjadi ruang integratif, bukan parsial. Pelajar tidak hanya diuji kecerdasannya, tetapi kelengkapan kemanusiaannya.

Dari Janji ke Gagasan Besar
Yang membedakan kampanye OPMAZ dengan praktik politik pragmatis adalah satu hal penting: yang dijual bukan janji, melainkan gagasan. Para calon tidak sekadar menjanjikan program, tetapi menawarkan ide besar tentang arah organisasi, budaya pelajar, dan masa depan komunitas.
Ini adalah pelajaran krusial bagi generasi muda: bahwa kepemimpinan sejati tidak diukur dari seberapa banyak yang dijanjikan, melainkan seberapa dalam gagasan dan seberapa jujur visi yang ditawarkan.
Penutup: Menyiapkan Pemimpin untuk Indonesia Abadi
Kampanye tahunan dalam Pemilihan Raya Presiden OPMAZ bukan agenda seremonial. Ia adalah tradisi peradaban Al Zaytun—sebuah proses panjang menyiapkan generasi pemimpin Indonesia dan dunia masa depan.
Dari mimbar kecil Darma Bakti 23 hari ini, sedang disemai benih besar:
pemimpin yang berpikir global, berjiwa kemanusiaan, berakar pada nilai, dan siap mengabdi untuk Indonesia Abadi. Dan pendidikan, ketika mencapai titik ini, tidak lagi sekadar mengajar, ia sedang membentuk peradaban.
(Amri-untuk Indonesia)
Mendidik dan membangun semata mata hanya untuk beribadah kepada Allah


