Semangat Maju Nelayan Indonesia Menggema dalam Tradisi Nadran Eretan Kulon

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id - Tradisi Nadran atau sedekah laut kembali digelar masyarakat nelayan Eretan Kulon, Kecamatan Kandanghaur, Kabupaten Indramayu, Minggu (4/10/2026). Kegiatan yang dipusatkan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Eretan Kulon tersebut menjadi momentum masyarakat untuk mengungkapkan rasa syukur atas limpahan rahmat Allah SWT serta hasil tangkapan ikan para nelayan.

Ketua Panitia Pesta Nadran Eretan Kulon, Rosimin, mengatakan Nadran merupakan bagian dari adat istiadat masyarakat setempat yang dilaksanakan secara rutin setiap tahun.

"Agendanya merupakan adat istiadat Eretan Kulon, di samping ungkapan rasa syukur atas limpahan rahmat dari Allah untuk hasil tangkapan ikan Eretan Kulon," ujar Rosimin.

Menurut Rosimin, pelaksanaan Pesta Nadran di kawasan Eretan dilakukan secara bergilir antara Eretan Kulon dan Eretan Wetan. Pergiliran tersebut berkaitan dengan keberadaan dua koperasi dalam satu alur kawasan perikanan.

"Tahun ini Eretan Kulon, untuk tahun berikutnya Eretan Wetan. Memang karena pada satu alur ini ada dua koperasi, sehingga setiap tahun bergilir antara Eretan Kulon dan Eretan Wetan untuk pelaksanaan Pesta Nadran," jelasnya.

Kegiatan Nadran tahun ini turut melibatkan berbagai unsur masyarakat dan pemangku kepentingan. Sejumlah tokoh masyarakat, tokoh ulama, pejabat pemerintah, unsur keamanan, serta instansi terkait hadir dalam rangkaian kegiatan tersebut.

Salah satu agenda utama dalam Pesta Nadran adalah prosesi pelarungan replika kapal ke laut. Replika kapal bernama Mina Bahari tersebut dihias dengan tulisan "Sedekah Laut 2026", bendera Merah Putih, serta sejumlah atribut nelayan.

Rosimin menjelaskan, prosesi pelarungan merupakan bagian dari tradisi masyarakat Eretan Kulon yang diwariskan secara turun-temurun. Secara filosofis, tradisi tersebut dimaknai sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus simbol memberi makan ikan.

"Intinya kita hanya ada kepala kerbau dan lainnya, itu hanya sekadar memberi makan ikan. Tidak ada indikasi lain yang mengarah ke agama, seperti musyrik," katanya.

Prosesi pelarungan tersebut mendapat pengawalan dari puluhan kapal nelayan. Sekitar 30 kapal besar dan 100 kapal kecil ikut mengiringi replika kapal menuju perairan.

Antusiasme masyarakat juga terlihat dalam kegiatan tersebut. Warga diperbolehkan ikut naik ke kapal untuk menyaksikan prosesi secara langsung tanpa dipungut biaya.

Replika kapal yang dilarung bukan merupakan kapal nelayan sebenarnya, melainkan dibuat menyerupai bentuk kapal yang biasa digunakan para nelayan. Pada bagian bawah replika kapal dipasang alas dari batang pisang agar dapat tetap mengapung saat dibawa menuju perairan.

Selain replika kapal, sejumlah perlengkapan turut menjadi bagian dari prosesi. Di bagian depan kapal terdapat kelapa yang nantinya dipecahkan sebagai bagian dari rangkaian kegiatan. Setelah sampai di perairan, replika kapal kemudian dilarung dan masyarakat turut menyaksikan prosesi tersebut.

Kemeriahan juga terlihat ketika warga mengikuti prosesi pelarungan dan berebut sejumlah perlengkapan yang ikut dilarung ke laut.

Rosimin berharap pelaksanaan Nadran ke depan dapat terus berkembang dengan tetap menjaga keamanan, ketertiban, serta nilai-nilai tradisi yang telah diwariskan oleh generasi sebelumnya.

"Mudah-mudahan ke depannya kita lebih baik lagi, terutama kita menjaga keamanan, ketertiban. Acara-acara ini terus akan berkembang dan sesuai tradisi turun-temurun dari nenek moyang kita untuk selalu menjaga kelestarian budaya ini sampai turun-temurun," tegasnya.

Pesta Nadran Eretan Kulon 2026 pun menjadi salah satu ruang bagi masyarakat pesisir untuk berkumpul, mempererat kebersamaan, sekaligus mempertahankan tradisi yang telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat nelayan Eretan Kulon. (Saheel untuk Indonesia)