Friday, 28 August 2026

Jual Setandan Pisang, Beli Sepotong Pisang Goreng, Sindiran tentang Mentalitas Ekonomi dan Nilai Tambah

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, - Ungkapan "jual setandan pisang, beli sepotong pisang goreng" dinilai dapat menjadi gambaran sederhana tentang persoalan mentalitas ekonomi, baik pada tingkat individu maupun dalam skala nasional.

Dinn Wahyudin dalam tulisannya menjelaskan, pisang yang tumbuh di kebun memiliki potensi ekonomi yang jauh lebih besar apabila tidak sekadar dijual sebagai bahan mentah.

Menurutnya, menjual setandan pisang kemudian menggunakan hasil penjualannya untuk membeli sepotong pisang goreng menggambarkan pola pikir jangka pendek. Pisang yang sebenarnya dapat diolah menjadi berbagai produk justru dijual mentah, sementara produk olahannya dibeli kembali dengan harga lebih tinggi.

"Pisang yang sama, tetapi cara berpikirnya berbeda, menghasilkan nilai yang berbeda," demikian gagasan utama yang disampaikan dalam tulisan tersebut.

Pisang dapat diolah menjadi pisang goreng, keripik, sale, kolak, tepung, maupun berbagai produk makanan lainnya. Dengan pengolahan, nilai ekonomi komoditas dapat meningkat sekaligus membuka peluang usaha dan lapangan pekerjaan.

Dinn  juga mengaitkan gagasan tersebut dengan ungkapan Sunda, "Ulah ngadahar siki nu rék jadi tangkal", yang berarti jangan memakan biji yang seharusnya ditanam menjadi pohon.

Ungkapan tersebut mengandung pesan agar seseorang tidak menghabiskan sesuatu yang sebenarnya dapat dikembangkan menjadi sumber kehidupan dan manfaat yang lebih besar.

Persoalan yang sama, menurut Dinn, dapat dilihat dalam konteks perekonomian nasional. Indonesia memiliki berbagai sumber daya alam, mulai dari minyak, batu bara, nikel, bauksit, tembaga hingga bijih besi.

Jika kekayaan tersebut hanya diekspor dalam bentuk bahan mentah atau komoditas dengan nilai tambah rendah, Indonesia berisiko berada dalam posisi sebagai pemasok bahan baku sekaligus konsumen produk jadi.

Dalam analogi tersebut, Indonesia menjual "pisangnya", kemudian membeli "pisang gorengnya" dengan harga yang jauh lebih mahal.

Dinn menilai, tantangan utama bukan hanya bagaimana meningkatkan produksi sumber daya alam, tetapi bagaimana membangun kemampuan untuk mengolahnya menjadi produk bernilai tambah tinggi.

Penguasaan teknologi, inovasi, keterampilan, industri pengolahan, desain, standardisasi hingga pemasaran menjadi bagian penting dalam membangun rantai nilai ekonomi dari hulu hingga hilir.

Dengan demikian, ukuran keberhasilan pengelolaan sumber daya alam tidak semata-mata dilihat dari berapa banyak komoditas yang berhasil diekspor. Lebih jauh, perlu dilihat berapa besar nilai tambah, lapangan kerja, transfer teknologi dan devisa yang dapat diciptakan melalui proses industrialisasi.

Gagasan tersebut sejalan dengan konsep value added, bahwa daya saing ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kepemilikan sumber daya, tetapi juga kemampuan mengolahnya melalui teknologi dan inovasi sehingga menghasilkan nilai ekonomi yang lebih tinggi.

Dinn juga mengingatkan agar masyarakat dan bangsa tidak terjebak pada pola pikir "asal cepat dapat uang".

Menurutnya, hasil yang diperoleh hari ini seharusnya dapat menjadi modal untuk menciptakan manfaat yang lebih besar pada masa mendatang.

Pada tingkat individu, masyarakat dapat mulai mengembangkan produk dari sumber daya yang tersedia di sekitarnya. Sementara pada tingkat nasional, pemerintah dan pelaku industri perlu memperkuat ekosistem pengolahan, riset, teknologi, manufaktur dan pemasaran agar Indonesia tidak terus bergantung pada ekspor komoditas mentah.

"Jual mentah, beli matang" pada akhirnya bukan sekadar persoalan perdagangan. Ungkapan tersebut menjadi kritik terhadap cara pandang yang hanya mengejar keuntungan sesaat tanpa membangun kapasitas ekonomi jangka panjang.

Kekayaan alam merupakan modal, teknologi menjadi pengungkit, industri menjadi mesin nilai tambah, sedangkan manusia kreatif menjadi penggeraknya.

Karena itu, Indonesia dinilai perlu mengubah cara pandang dari sekadar menjual sumber daya menjadi menciptakan nilai dari sumber daya tersebut.

Jangan sampai bangsa ini terus menjual setandan pisang untuk kemudian membeli sepotong pisang goreng. Saatnya mengolah "pisang" menjadi industri, mengubah sumber daya menjadi nilai tambah, dan menjadikan kreativitas sebagai salah satu jalan menuju kemandirian ekonomi bangsa.