Monday, 11 May 2026

Memanen Kristal Putih di Pesisir Indramayu, Harapan Baru Petani Garam Menuju Swasembada

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu — Terik matahari yang menyengat di pesisir Desa Juntinyuat, Kecamatan Juntinyuat, Kabupaten Indramayu, justru menjadi berkah bagi para petani garam yang kini mulai menikmati hasil panen kristal putih berkualitas tinggi dari teknologi tunnel garam modern. (10/5/26)

Di balik hamparan geomembran hitam dan plastik tunnel yang membentang di kawasan pesisir, para petani tampak sibuk menyerok kristal garam putih bersih yang menjadi harapan baru ekonomi masyarakat pesisir Indramayu.

Kilauan kristal garam memantulkan cahaya matahari dari sela-sela plastik tunnel, menciptakan pemandangan menyerupai ladang kristal di tengah panasnya kawasan pantai utara Jawa Barat.

Salah satu petani garam setempat, Sujitno, mengatakan usaha produksi garam modern tersebut baru mulai dikembangkan beberapa bulan terakhir bersama sejumlah rekannya.

Sebelumnya, ia lebih banyak menggantungkan hidup dari bertani padi dan beternak. Namun potensi besar wilayah pesisir Juntinyuat membuat dirinya mulai melirik sektor pergaraman sebagai sumber penghasilan baru.

“Kawasan Juntinyuat itu bagus. Ada sawah, ada laut, ada peternak juga bisa,” ujar Sujitno saat ditemui di lokasi produksi garam.

Menurutnya, pembangunan satu unit tunnel garam membutuhkan waktu sekitar tiga bulan dengan biaya mencapai Rp40 juta. Proses pengerjaan dilakukan bertahap karena para petani juga masih harus mengurus lahan pertanian mereka.

Meski tergolong baru, hasil produksi awal dinilai cukup menjanjikan. Dalam masa panen perdana selama sekitar setengah bulan, kelompok petani tersebut berhasil menghasilkan sekitar lima kuintal garam atau setara 10 karung.

Garam yang diproduksi menggunakan sistem tunnel dinilai memiliki kualitas lebih baik dibanding metode tradisional. Warna garam tampak lebih putih dan bersih sehingga mulai diminati untuk kebutuhan konsumsi.

Sujitno menyebut sejumlah pengolah ikan teri nasi di kawasan Dadap, Indramayu, mulai tertarik menggunakan garam produksi mereka karena dinilai mampu menjaga warna ikan tetap cerah.

Selain meningkatkan kualitas hasil produksi, teknologi tunnel garam juga dianggap lebih adaptif terhadap perubahan cuaca yang semakin sulit diprediksi.

Para petani pesisir kini melihat usaha garam sebagai peluang ekonomi jangka panjang di tengah meningkatnya biaya pertanian dan ketidakpastian musim tanam.

Pengembangan sektor garam di Indramayu sendiri sejalan dengan upaya pemerintah mendorong swasembada garam nasional. Wilayah pesisir utara Jawa Barat dinilai memiliki potensi besar untuk mendukung kebutuhan garam konsumsi maupun industri dalam negeri.

Petani berharap dukungan pemerintah terhadap teknologi produksi garam modern terus diperkuat, mulai dari akses permodalan, pelatihan, hingga pemasaran hasil produksi agar usaha garam rakyat mampu berkembang lebih luas.

Dengan potensi alam yang dimiliki, kawasan pesisir Indramayu dinilai berpeluang menjadi salah satu sentra produksi garam berkualitas di Indonesia sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan ekonomi masyarakat pesisir. (Amri-untuk Indonesia)