Monday, 27 April 2026

Festival Budaya di Indramayu Tampilkan Tari Berokan hingga Sintren

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu - Ribuan warga memadati Lapangan Bola Desa Kenanga, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, saat Festival Budaya digelar pada Minggu siang. Antusiasme masyarakat terlihat tinggi untuk menyaksikan beragam kesenian tradisional yang ditampilkan di panggung sederhana di tengah lapangan. (27/4/26).

Sejumlah kesenian khas Indramayu ditampilkan secara bergantian, mulai dari Tari Serimpi, Tari Sintren, Tari Berokan, Tari Topeng Samba, Tari Topeng Kelana, hingga Tari Jaipong Balaganjur. Para penampil berasal dari warga desa yang sebelumnya telah berlatih untuk memeriahkan festival tersebut.

Kegiatan itu digagas Yayasan Selendang Puan Dharma Ayu, organisasi yang bergerak di bidang perlindungan perempuan dan anak. Ketua yayasan, Yuyun Khoerunnisa, mengatakan festival budaya telah rutin dilaksanakan sejak 2021 dengan konsep berkeliling ke desa-desa.

“Kami ingin memperkenalkan kekayaan budaya Indramayu, khususnya kepada generasi muda. Kegiatan ini sudah konsisten kami lakukan sejak 2021,” kata Yuyun.

Menurutnya, festival budaya bertujuan menjaga kesenian lokal agar tidak hilang tergerus perkembangan zaman. Ia menilai anak muda saat ini lebih banyak mengenal budaya luar dibanding budaya daerah sendiri.

“Padahal Indramayu punya kebudayaan yang tidak kalah menarik. Kami ingin menumbuhkan rasa bangga agar generasi muda mencintai budayanya sendiri,” ujarnya.

Salah satu penampilan yang paling menyita perhatian yakni Tari Berokan. Penonton tampak antusias, bahkan banyak yang mengabadikan momen tersebut dengan ponsel.

Tari Berokan dikenal sebagai kesenian khas masyarakat pesisir Indramayu. Penarinya mengenakan kostum hewan mitologi menyerupai macan. Selain sebagai hiburan, tarian ini juga memiliki nilai ritual, seperti tolak bala dan bersih desa.

Menariknya, dalam festival ini Tari Berokan dibawakan oleh penari perempuan, yang biasanya identik dengan penari laki-laki.

“Kami bangga karena perempuan juga bisa melestarikan kesenian Berokan,” kata Yuyun.

Suasana semakin meriah saat Tari Sintren dipentaskan. Tarian ini dikenal memiliki unsur magis, di mana penarinya dipercaya mengalami kesurupan saat pertunjukan berlangsung.

Dalam prosesi, penari dimasukkan ke dalam kurungan, kemudian pawang membacakan mantra. Setelah itu, penari keluar dan menari dalam kondisi tidak sadar. Saat penonton melempar saweran, penari akan pingsan.

Aksi tersebut membuat penonton terpukau. Bahkan, banyak yang naik ke panggung untuk ikut memberikan saweran.

Yuyun menegaskan, kegiatan ini tidak hanya bertujuan melestarikan budaya, tetapi juga sebagai upaya pemberdayaan masyarakat, khususnya anak muda.

“Kami ingin memberi alternatif kegiatan positif. Daripada melakukan hal negatif, lebih baik menikmati dan belajar budaya sendiri,” ujarnya.

Antusiasme warga menjadi bukti bahwa kesenian lokal Indramayu masih memiliki tempat di hati masyarakat. Dengan dukungan berbagai pihak, kesenian seperti Berokan dan Sintren diharapkan terus hidup dan kembali berjaya. (Amri-untuk Indonesia)