Wednesday, 08 April 2026

Harga Plastik di Haurgeulis Melonjak, Pedagang Haurgeulis Minta Solusi Pemerintah

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

INDRAMAYU, lognews.co.id – Harga plastik di Indonesia mengalami lonjakan tajam sepanjang April 2026, bahkan disebut naik hingga 30 hingga 70 persen. Kenaikan ini tidak hanya terjadi di tingkat global seperti China, Thailand, dan Korea Selatan akibat terganggunya rantai pasok bahan baku impor karena konflik di Timur Tengah, tetapi juga sudah berdampak langsung di pasar domestik Indonesia. Konflik tersebut memicu kenaikan harga nafta, bahan baku utama pembuatan plastik, sementara Indonesia sendiri masih sangat bergantung pada impor biji plastik, yang mencapai sekitar 60 persen dari kebutuhan nasional. Kondisi inilah yang kini mulai dirasakan pedagang kecil hingga pelaku usaha rumahan di berbagai daerah, termasuk di Haurgeulis, Kabupaten Indramayu.

Salah satu pedagang warung di Babakan Plaza, Ade, mengaku terpaksa menyesuaikan harga jual karena biaya kemasan ikut naik.

“Kalau tidak ada plastik, orang tidak mau. Jadi mau tidak mau tetap beli, walaupun harganya naik,” ujarnya.

Ade menyebut, plastik ukuran kecil yang sebelumnya dibeli sekitar Rp7.000, kini melonjak menjadi Rp15.000. Dampaknya, harga minuman yang dijual di warung pun ikut naik, dari Rp1.000 menjadi Rp1.500, dan dari Rp2.000 menjadi Rp2.500.

Keluhan serupa juga datang dari Toko Nurdin, salah satu penjual plastik di Haurgeulis. Menurutnya, kenaikan harga kali ini tergolong ekstrem.

“Itu bukan sekadar naik harga, tapi sudah ganti harga,” kata penjual di Toko Nurdin.

Ia menjelaskan, harga plastik jenis PP yang sebelumnya berada di kisaran Rp31.000 per kilogram, kini melonjak menjadi Rp52.000 hingga Rp53.000 per kilogram. Sementara plastik PE juga naik dari kisaran Rp31.000 sampai Rp34.000, menjadi Rp51.000 hingga Rp55.000 per kilogram.

Tak hanya plastik lembaran, kenaikan juga terjadi pada produk turunan seperti cup, sedotan, mika, HD, OPP, dan twin wall.

Kondisi ini berdampak langsung pada para pelaku UMKM, terutama usaha makanan dan minuman yang sangat bergantung pada kemasan plastik.

Salah satunya adalah Nuraida, pedagang kerupuk rumahan asal Lebak Manggungan, Haurgeulis. Ia mengaku biaya produksi kini semakin berat karena kenaikan terjadi bersamaan dengan mahalnya harga kebutuhan lain, termasuk minyak goreng.

“Minyak mahal, sekarang plastik juga mahal. Modal jadi dua kali lipat,” ujarnya.

Nuraida menuturkan, plastik yang biasa digunakan untuk membungkus kerupuk kini menguras pengeluaran jauh lebih besar. Jika sebelumnya pembelian 4 kilogram plastik hanya menghabiskan sekitar Rp120 ribuan hingga Rp150 ribuan, kini ia harus merogoh Rp232.000.

Akibatnya, keuntungan yang diperoleh menjadi semakin tipis. Meski demikian, ia tetap memilih bertahan berjualan.

“Keuntungan jadi tipis banget, tapi kita tetap jualan karena memang harus jalan,” katanya.

Para pedagang berharap ada perhatian dan solusi dari pemerintah agar lonjakan harga bahan penunjang usaha, termasuk plastik, tidak terus membebani masyarakat kecil.

“Tolong kami, masyarakat kecil ini pusing. Harga-harga naik semua,” ucap Nuraida. (Saheel untuk Indonesia)