Wednesday, 08 April 2026

Kinerja Bongkar Muat Jabar Timpang, Indramayu Tertekan Saat Patimban dan Cirebon Melonjak

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Bandung — Aktivitas bongkar muat barang dan peti kemas di Jawa Barat pada Februari 2026 menunjukkan kesenjangan tajam antarwilayah. Saat sejumlah pelabuhan utama mencatat lonjakan signifikan, Pelabuhan Indramayu justru mengalami kontraksi, baik secara bulanan maupun tahunan. Data Badan Pusat Statistik (BPS) Jawa Barat mencatat total volume muat domestik mencapai 234.361 ton, melonjak 223,83 persen dibanding Januari 2026. Namun peningkatan tersebut tidak merata di seluruh pelabuhan. (3/4/26)

Kepala BPS Jawa Barat Margaretha Ari Anggorowati menyampaikan bahwa lonjakan tersebut terutama ditopang Pelabuhan Patimban dan Pelabuhan Cirebon, sementara Indramayu menjadi satu-satunya pelabuhan yang mencatat penurunan. Pada segmen domestik, tiga pelabuhan aktif yaitu Indramayu, Cirebon, dan Patimban. Dari ketiganya, Indramayu anjlok 48,02 persen secara bulanan. Sebaliknya, Patimban melesat 1.710,87 persen, dan Cirebon tumbuh 183,11 persen.

Tren tahunan memperlihatkan pola serupa. Total muat domestik Jawa Barat naik 63,23 persen dari 143.550 ton pada Februari 2025 menjadi 234.360 ton pada Februari 2026. Namun volume dari Indramayu—mencakup Balongan dan Eretan—merosot tajam dari 128.660 ton menjadi hanya 31.111 ton, berbanding terbalik dengan pertumbuhan agresif yang dicatat Patimban dan Cirebon.

Margaretha menjelaskan dinamika ini mengindikasikan adanya pergeseran arus barang ke pelabuhan yang lebih modern dan strategis, terutama Patimban yang kini mengambil peran sebagai hub logistik baru. Sementara pelabuhan lama seperti Indramayu mengalami tekanan yang semakin besar. Secara kumulatif tahun berjalan, volume muat domestik masih tumbuh 19,83 persen, namun kontribusi Indramayu terus menyusut.

Pada muatan internasional, situasi Indramayu kembali tertinggal. Total volume internasional pada Februari 2026 tercatat 12.770 ton, turun 71,71 persen dibanding Januari yang mencapai 45.130 ton. Penurunan tajam ini dipicu oleh nihilnya aktivitas ekspor dari Indramayu pada Februari. Aktivitas internasional hanya terjadi di Patimban, meski turun tipis 8,23 persen secara bulanan. Secara tahunan, muatan internasional Jawa Barat juga turun 70,23 persen, kembali disebabkan berhentinya ekspor dari Indramayu, sedangkan Patimban justru tumbuh 20,99 persen dibanding Februari 2025.

Secara kumulatif, total muat internasional awal 2026 mencapai 57.900 ton, turun 33,40 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya. Margaretha menilai disparitas kinerja ini menjadi sinyal kuat perlunya optimalisasi infrastruktur dan distribusi logistik secara lebih merata agar gap antarpelabuhan tidak semakin melebar.

(Amri-untuk Indonesia)