lognews.co.id, Indramayu – Pendiri kelompok Suku Dayak Bumi Segandu atau Dayak Losarang, Takmad, meninggal dunia pada Sabtu (28/3/2026) sekitar pukul 16.30 WIB di kediamannya di Desa Krimun, Kecamatan Losarang. Tokoh karismatik yang dikenal sebagai sesepuh ajaran Bumi Segandu itu wafat pada usia yang diperkirakan lebih dari 100 tahun setelah mengalami penurunan kesehatan selama setahun terakhir. (29/3/26)
Menurut sang istri, Kartini atau Bule, almarhum sempat menyampaikan pesan tersirat beberapa jam sebelum meninggal. Takmad meminta “pangkal jambu batu untuk pegangan”, yang oleh keluarga dimaknai sebagai simbol waktu atau isyarat perpisahan. Selama ini, pesan-pesan Takmad kerap disampaikan dengan bahasa metafor yang diterjemahkan oleh istri, anak, dan cucunya.
Bule bercerita, selama sepuluh hari terakhir ia kerap melihat jam di ponselnya menunjukkan angka yang serasi fenomena yang kemudian ia yakini sebagai pertanda menjelang wafatnya sang suami. Kecemasan itu makin kuat karena kesehatan Takmad terus menurun menjelang Lebaran, termasuk pesan khusus agar Bule menjaga anak dan cucu.
“Bapak bilang, ‘bapak sudah enggak kuat, sakit, mau balik’,” ujar Bule sambil menangis. Takmad wafat dalam dekapannya saat hujan deras melanda wilayah Krimun pada Sabtu sore, momen yang membuat keluarga menyebut kepergian sang tetua sebagai “jalan sulit”.
Meskipun dalam administratif umum usia Takmad dikenal sekitar 95 tahun, keluarga menyebut usianya telah melewati satu abad lebih karena almarhum tidak memiliki dokumen kependudukan yang mencatat tahun kelahirannya secara resmi.
Jenazah Takmad dimakamkan pada Minggu pagi (29/3/2026) di area padepokan dekat rumahnya, berdampingan dengan makam istri pertamanya. Warga dan pengikut ajaran Bumi Segandu hadir memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang selama puluhan tahun menjadi figur sentral komunitas Dayak Losarang.
(Amry-untuk Indonesia)



