lognews.co.id, Sukagumiwang – Masjid Sapu Angin, atau yang dikenal dengan Masjid Kuno Bondan di Desa Bondan, Kecamatan Sukagumiwang, Indramayu, menyimpan sejarah besar sebagai pusat penyebaran Islam tertua di wilayah Ciayumajakuning. Dibangun sekitar tahun 1414 Masehi oleh Syekh Datul Kahfi atau Syekh Nurjati, guru dari Sunan Gunung Jati, masjid ini konon berdiri hanya dalam waktu satu malam. Hebatnya, meski telah berusia lebih dari enam abad, bangunan utama masjid yang seluruhnya terbuat dari kayu jati mulai dari lantai, dinding, hingga atap masih berdiri sangat kokoh dan telah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh BPCB Banten.
Secara arsitektur, Masjid Sapu Angin memiliki keunikan berupa bentuk panggung dengan ukuran ruang utama sekitar 9x9 meter. Di bagian depan masjid, terdapat lubang angin berbentuk bintang yang melambangkan lima rukun Islam, sementara sisi dindingnya dilengkapi jendela kayu sederhana tanpa kaca. Meskipun bagian depan masjid telah mengalami renovasi menjadi bangunan tembok beton pada tahun 1965, 1979, dan 1992, bagian utama masjid tetap dipertahankan keasliannya guna menjaga nilai historis dari era sebelum berdirinya Kerajaan Cirebon dan Indramayu.
Legenda masjid ini juga menceritakan tentang keberadaan bedug dari kayu Sidaguri buatan Syekh Nurjati yang konon suaranya mampu terdengar hingga wilayah Cirebon saat ditabuh. Hingga saat ini, Masjid Sapu Angin tetap menjadi magnet bagi para peziarah dan pelancong dari berbagai daerah seperti Sumatera hingga Kalimantan, terutama selama bulan Ramadan untuk berburu keberkahan malam Lailatul Qadar. Keberadaan masjid ini menjadi bukti nyata bahwa nilai pengabdian dan keteguhan iman yang diajarkan oleh para wali tetap abadi melampaui batas waktu dan zaman.



