Friday, 06 March 2026

Obrog Ramadan: Tradisi Musik Keliling Khas Pantura Jawa Barat

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Indramayu – Menjelang Hari Raya Idul Fitri, suasana malam di sejumlah daerah Pantura Jawa Barat seperti Indramayu, Cirebon, dan Kuningan biasanya diramaikan oleh kemunculan obrog-obrog. Tradisi ini merupakan pertunjukan musik keliling yang digelar masyarakat pada malam-malam bulan Ramadan sebagai hiburan rakyat sekaligus penanda semakin dekatnya Hari Raya Idul Fitri.

Bagi warga Pantura, obrog bukan sekadar hiburan jalanan. Tradisi ini telah menjadi bagian dari budaya lokal yang diwariskan turun-temurun. Kelompok obrog biasanya berkeliling kampung pada malam hari sambil memainkan berbagai alat musik dan menampilkan karakter atau maskot tertentu.

Musik Keliling yang Jadi Hiburan Ramadan

Setiap kelompok obrog umumnya terdiri dari beberapa orang dengan tugas berbeda. Ada yang memainkan alat musik, ada yang bernyanyi, sementara sebagian lainnya mengenakan kostum atau topeng karakter yang menjadi daya tarik utama.

Alat musik yang digunakan cukup beragam, mulai dari yang sederhana hingga modern, seperti:

  • Gendang
  • Kecrek
  • Ember bekas yang dijadikan perkusi
  • Gitar atau organ elektrik
  • Perangkat sound system

Perpaduan alat musik tersebut menciptakan irama khas yang membuat suasana malam Ramadan menjadi meriah. Tidak jarang warga keluar rumah untuk menonton, memberi saweran, atau sekadar menikmati pertunjukan yang melintas di jalan kampung.

Maskot “Buta-buta” Jadi Daya Tarik

Salah satu ciri khas obrog adalah kemunculan maskot berbentuk makhluk mitologi seperti buta-buta atau sosok raksasa. Karakter ini biasanya mengenakan topeng besar dan kostum mencolok.

Bagi anak-anak, sosok ini sering menjadi pengalaman yang campur aduk antara takut dan penasaran. Dalam banyak pertunjukan, tokoh buta-buta bahkan sengaja mengejar anak-anak yang menonton sebagai bagian dari hiburan yang memancing tawa warga.

Selain raksasa, beberapa kelompok obrog juga menampilkan karakter lain seperti tuyul atau figur wayang yang digerakkan oleh para pemain.

Tradisi Menjelang Lebaran

Kemunculan obrog biasanya mulai terlihat saat Ramadan memasuki pertengahan bulan. Bagi masyarakat Pantura, hal ini menjadi pertanda bahwa suasana Lebaran sudah semakin dekat.

Selain sebagai hiburan malam Ramadan, obrog juga memiliki makna sosial. Tradisi ini sering dimanfaatkan masyarakat untuk mempererat kebersamaan warga serta menjadi sarana ekspresi budaya lokal.

Dalam beberapa catatan budaya, bentuk pertunjukan obrog juga berkaitan dengan tradisi wayang wong, yakni pertunjukan wayang yang dimainkan manusia dengan kostum dan topeng menyerupai tokoh pewayangan dari kisah Mahabharata dan Ramayana.

Mulai Berkurang

Meski masih bertahan di beberapa wilayah, sebagian masyarakat menilai tradisi obrog kini mulai berkurang dibandingkan masa lalu. Perubahan gaya hidup serta berkurangnya minat generasi muda disebut menjadi salah satu faktor penyebabnya.

Padahal bagi warga yang pernah merasakan masa kejayaan obrog, tradisi ini menyimpan banyak kenangan. Dulu, anak-anak hingga orang dewasa ikut mengarak rombongan obrog keliling kampung hingga larut malam.

Karena hanya muncul setahun sekali pada bulan Ramadan, obrog tetap menjadi hiburan yang dinanti masyarakat Pantura sebagai bagian dari kekayaan budaya lokal Jawa Barat.

(Amri-untuk Indonesia)