lognews.co.id, Indramayu – Suasana haru menyelimuti rumah keluarga Alfianto Agus Sulistiyo (20) di Kelurahan Paoman, Kecamatan Indramayu, Senin (2/3/2026). Alfianto menjadi satu dari dua anak buah kapal (ABK) KM Almujib yang selamat setelah kapal 6 GT tersebut karam ditabrak tongkang bernomor lambung 3009 di perairan Pulau Biawak, Sabtu (28/2/2026) sekitar pukul 22.00 WIB.
Peristiwa bermula saat Alfianto dan rekan-rekannya selesai menebar jaring dan hendak beristirahat. Suara bising kapal besar yang mendekat membuatnya terbangun dan menyadari adanya bahaya. Ia segera membangunkan kru lain sebelum tabrakan terjadi dan kapal tenggelam di tengah gelapnya malam.
Di tengah laut, Alfianto bertahan hidup hanya dengan sepotong gabus sebagai pelampung. Ia bersama Carudin (48) dan Asep Agustina (24) berjuang melawan gelombang. Namun Asep tak mampu bertahan dan tenggelam. Menjelang fajar, sekitar pukul 04.30 WIB, keduanya berhasil dievakuasi kapal nelayan KM Sri Mulya yang melintas.
Sang ibu, Wahyuni (50), mengaku sempat mengalami firasat buruk pada malam kejadian. Ia bermimpi melihat anaknya tenggelam dan terbangun sekitar pukul 02.30 WIB dalam kondisi gelisah. Beberapa jam kemudian, kabar kecelakaan kapal sampai kepadanya. Rasa cemas berubah menjadi syukur setelah mendapat informasi bahwa putranya termasuk korban selamat.
Ayah Alfianto, Tumino (60), yang baru kembali dari Solo usai berobat, turut mengungkapkan rasa syukur. Meski bukan berasal dari keluarga nelayan, Alfianto telah melaut sejak lulus sekolah dasar dan menjadi ABK untuk membantu ekonomi keluarga.
Tragedi tenggelamnya KM Almujib menelan korban jiwa. Nakhoda Jupri alias Kempot (35) dan Wandi (39) ditemukan meninggal dunia. Sementara empat lainnya, yakni Ari Wibowo (23), Mas’ud (38), Ono (50), dan Asep Agustina (24), masih dalam pencarian Tim SAR Gabungan.
Peristiwa ini menjadi pengingat pentingnya keselamatan pelayaran serta pengawasan jalur laut agar insiden serupa tidak kembali terjadi di perairan Indramayu.
(Amri-untuk Indonesia)



