lognews.co.id, DIY - Pedagang kaki lima yang biasa dengan mudah dijumpai kini tidak nampak di lokasi Jl. Malioboro setelah relokasi pedagang kaki lima (PKL) dimulai pada Selasa 1 Februari 2022.
Dengan posisinya yang strategis, yaitu dipinggir jalan, memudahkan para wisatawan untuk belanja mata (melihat lihat) barang atau makanan yang khas untuk bisa dibeli dan langsung dinikmati ditempat itu juga sambil menikmati suasana hilir mudik kesibukan Jl. Malioboro.
Mirip dengan luar negri yang kawasan trotoar atau pedestrian (jalur pejalan kaki) tertata cantik dan ramah untuk pejalan kaki, kini dengan adanya kebijakan baru tanpa pedagang kaki lima, terbukti trotoar kawasan Malioboro tampak bersih.
Diketahui PKL Malioboro dilarang melakukan aktivitas ekonomi di sepanjang jalan Malioboro sejak 1 Februari 2022. Dasar pelarangan tersebut adalah Surat Edaran (SE) yang dikeluarkan Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta. SE itu berlandaskan pada SE Gubernur Nomor 3 tentang Penataan Kawasan Khusus Pedestrian di Jalan Malioboro dan Jalan Margo Mulyo, serta Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 13 tahun 2022 tentang Pencabutan Peraturan Walikota Yogyakarta Nomor 37 Tahun 2010 tentang Penataan Pedagang Kaki Lima Kawasan Khusus Malioboro – A. Yani.
Setelah Pemerintah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta (Pemprov DIY) melakukan penataan Jalan Malioboro yang merupakan bagian dari agenda pendaftaran Sumbu Filosofis sebagai Warisan Budaya Tak Benda ke UNESCO.
Para pedagang tersebut tidak digusur begitu saja namun diberikan tempat (relokasi) yaitu Tempat pertama adalah Teras Malioboro I di bekas lahan Gedung Bioskop Indra, dan tempat lainnya adalah Teras Malioboro II di lahan bekas kantor Dinas Pariwisata DIY.
Kepala Dinas Koperasi UKM DIY Srie Nurkyatsiwi mengatakan, relokasi itu dilakukan secara bertahap hingga Senin (7/2/2022). Oleh karena itu, para PKL diberi waktu untuk memindahkan barang dagangan hingga tanggal tersebut. Relokasi dilakukan bertahap karena jumlah PKL yang dipindah cukup banyak, yakni 1.836 orang.
Terkesan beda dengan saat sebelumnya yang mempunyai kenangan bercerita dan membayangkan dulu bisa berbelanja oleh oleh dan jajan, nongkrong di emperan jalan warung kaki lima. Kini lebih luas dan terang, sehingga para wisatawan dan masyarakat bisa lebih nyaman saat menyusuri trotoar di Jl Malioboro Jogjakarta. (Jumali)



