Thursday, 02 April 2026

Dalam Japan Business Forum, Prabowo Akui Micromanagement dan Minta Maaf ke Menteri-Menterinya

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta — Presiden Prabowo Subianto kembali menyinggung gaya kepemimpinannya yang sangat terlibat dalam urusan teknis kementerian. Dalam forum Indonesia–Japan Business Forum di Tokyo, Senin, Prabowo secara terbuka mengakui dirinya menerapkan micromanagement dan merasa bersalah karena tekanan kerja itu berdampak pada kesehatan para menterinya. (30/3/26)

Prabowo menyebut dirinya tipe pemimpin yang memonitor detail operasional pemerintah dari level strategis hingga teknis harian. Ia mengaku sering menghubungi jajaran kabinet pada dini hari untuk menanyakan informasi spesifik, termasuk perkembangan harga pangan. Prabowo mengatakan pola itu membuat beberapa menterinya kelelahan hingga beberapa kali pingsan di hadapan publik.

Dalam kesempatan tersebut, Prabowo menyampaikan permintaan maaf kepada jajaran kabinet Merah Putih. Ia menilai kecenderungan micromanage menyebabkan mereka bekerja dalam tekanan berulang, bahkan memicu beberapa pejabat senior harus menjalani perawatan medis akibat gangguan jantung.

Penjelasan senada pernah disampaikan Prabowo dalam rapat kabinet virtual akhir Maret. Ia mengakui bahwa kebiasaannya bertanya detail operasional sejak dini hari memengaruhi beban kerja para menteri. Prabowo mengatakan penyesalan itu muncul setelah menerima laporan kesehatan menterinya yang menurun.

Konteks micromanagement juga ditegaskan dalam data Kementerian Keuangan yang mendefinisikan praktik tersebut sebagai pola kepemimpinan dengan kontrol berlebihan dan campur tangan langsung dalam tugas yang telah didelegasikan. Model itu biasanya mengikis ruang keputusan bawahan, menekan produktivitas, dan menciptakan ekosistem kerja tidak sehat. Dalam organisasi besar, micromanagement dikategorikan sebagai indikator risiko tata kelola.

Prabowo menyebut akan mengevaluasi intensitas komunikasi dan supervisinya agar roda pemerintahan tetap berjalan efektif tanpa menambah beban fisik bagi para pejabat negara. Ia menekankan komitmen untuk menjaga kinerja kabinet tetap optimal sambil memastikan keseimbangan antara kontrol dan delegasi.

(Amri-untuk Indonesia)