lognews.co.id, Jakarta — Fenomena Bulan Purnama bertajuk Pink Moon akan menghiasi langit pada 1–2 April 2026. Meski bernama “Pink Moon”, Bulan tidak berubah menjadi merah muda. Penamaan ini berasal dari tradisi lama Amerika Utara yang merujuk pada mekarnya bunga liar Phlox subulata atau moss pink yang biasanya muncul pada awal musim semi. (30/3/26)
Dalam astronomi, Bulan Purnama terjadi pada satu momen spesifik, tetapi secara visual tampak penuh selama kurang lebih satu hari sebelum dan sesudah fase puncaknya. Di wilayah Indonesia, termasuk Jakarta, puncak purnama jatuh pada Kamis (2/4) sekitar pukul 09.00 WIB. Dengan demikian, masyarakat dapat mengamati Pink Moon sejak Rabu (1/4) malam hingga jelang fajar keesokan harinya.
Secara umum, piringan Bulan akan muncul dari arah timur saat Matahari terbenam, bergerak ke posisi tertinggi sekitar tengah malam, lalu turun ke arah barat menjelang Matahari terbit. Waktu terbit-tenggelam dapat berbeda antar lokasi, tetapi pola pergerakannya tetap konsisten untuk seluruh wilayah Indonesia.
Selain nama Pink Moon, fase Bulan Purnama di April memiliki sejumlah sebutan tradisional dari berbagai suku asli Amerika Utara. Nama-nama tersebut menggambarkan perubahan alam pada awal musim semi, seperti mencairnya es, suburnya tunas tanaman, hingga kembalinya berbagai satwa ke habitat masing-masing. Di antaranya Breaking Ice Moon, Bulan Rumput Merah Muncul, Bulan Saat Bebek Kembali, hingga Bulan Katak. Ada pula Bulan Ikan Sucker yang menandai masa ikan melakukan perjalanan ke sungai dangkal untuk bertelur, sebuah momentum penting bagi komunitas Anishinaabe.
Fenomena Pink Moon menjadi salah satu fase Bulan yang paling mudah diamati karena berlangsung sepanjang malam dan tidak memerlukan alat bantu khusus. Lokasi minim polusi cahaya serta langit cerah akan memberikan pengalaman observasi terbaik.
(Amry-untuk Indonesia)



