lognews.co.id, Jakarta — Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan bahwa pemerintah telah mendapatkan investor yang siap membangun fasilitas penyimpanan bahan bakar minyak (BBM) baru di Indonesia. Pembangunan storage ini bertujuan meningkatkan kapasitas cadangan energi nasional hingga mampu menampung kebutuhan minyak selama tiga bulan.
Saat ini kapasitas penyimpanan minyak nasional masih relatif terbatas, yakni hanya mampu mencukupi kebutuhan sekitar 21 hingga 25 hari. Pemerintah menilai kondisi tersebut belum memenuhi standar ketahanan energi internasional sehingga perlu dilakukan peningkatan kapasitas cadangan strategis.
Bahlil menjelaskan pembangunan tangki penyimpanan minyak tersebut tidak akan bergantung pada anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN). Pemerintah justru mendorong keterlibatan sektor swasta untuk berinvestasi dalam proyek tersebut.
Menurutnya, kontribusi APBN terhadap keseluruhan aktivitas perekonomian nasional hanya sekitar 16 persen, sedangkan sebagian besar pergerakan ekonomi berasal dari sektor swasta. Oleh karena itu, pemerintah membuka peluang investasi agar pembangunan infrastruktur energi dapat berjalan lebih cepat.
Dalam skema yang direncanakan, perusahaan seperti Pertamina maupun perusahaan lain yang membutuhkan pasokan minyak untuk kilang dapat mengambil minyak dari fasilitas storage yang baru dibangun tersebut.
Transaksi pembelian minyak dari storage tersebut direncanakan menggunakan rupiah. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap valuta asing sekaligus menjaga cadangan devisa negara agar tidak terus mengalir ke luar negeri.
Pemerintah juga memberikan fleksibilitas kepada investor swasta yang membangun storage untuk membeli minyak mentah dari pasar internasional. Minyak tersebut nantinya disimpan dan dipasarkan untuk memenuhi kebutuhan energi dalam negeri yang diperkirakan mencapai sekitar satu juta barel per hari.
Selain proyek storage minyak, Bahlil juga mengungkapkan terdapat 18 proyek hilirisasi dan ketahanan energi yang telah masuk tahap studi pra-kelayakan. Proyek tersebut merupakan bagian dari agenda penguatan industri nasional yang disiapkan pemerintah bersama BPI Danantara.
Total nilai investasi dari proyek-proyek tersebut mencapai sekitar 38,63 miliar dolar AS atau setara Rp618,3 triliun. Proyek tersebut mencakup delapan proyek hilirisasi mineral dan batu bara, dua proyek hilirisasi energi, dua proyek ketahanan energi, tiga proyek hilirisasi pertanian, serta tiga proyek hilirisasi sektor kelautan dan perikanan.
Pemerintah menilai pembangunan storage minyak berkapasitas tiga bulan menjadi langkah penting dalam memperkuat ketahanan energi nasional sekaligus memastikan stabilitas pasokan BBM di tengah dinamika pasar energi global. (Amri-untuk Indonesia)



