Thursday, 05 March 2026

Pengiriman Minyak Lewat Selat Hormuz Turun 86 Persen, Lebih dari 700 Kapal Tanker Mengantre

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id – Lalu lintas kapal tanker minyak yang melintasi Selat Hormuz dilaporkan menurun tajam setelah meningkatnya risiko keamanan di kawasan tersebut. Situasi ini membuat aktivitas pelayaran hampir terhenti, sementara lebih dari 700 kapal tanker kini menunggu di kedua sisi jalur pelayaran strategis itu.

Selat Hormuz yang terletak di mulut Teluk Persia merupakan jalur utama distribusi energi dunia. Jalur ini menghubungkan produksi minyak dan gas alam cair dari kawasan Timur Tengah ke pasar global melalui Teluk Oman dan Samudra Hindia. Sekitar 20 persen konsumsi minyak harian dunia, atau sekitar 20 juta barel per hari, melintasi koridor vital tersebut.

Penurunan lalu lintas kapal terjadi setelah meningkatnya ketegangan geopolitik menyusul serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran pada akhir Februari 2026. Situasi keamanan yang memburuk membuat banyak operator kapal menghentikan pelayaran karena lonjakan biaya asuransi serta meningkatnya risiko serangan.

Berdasarkan analisis perusahaan penyedia data pelayaran Kpler, pada 27 Februari 2026 sekitar 21 juta barel minyak diangkut oleh 15 kapal tanker melalui Selat Hormuz. Angka tersebut meningkat pada 28 Februari menjadi 21,6 juta barel oleh 18 kapal tanker.

Namun, pada 1 Maret 2026, jumlah kapal yang melintas anjlok drastis. Hanya tiga kapal tanker yang berhasil melintasi selat dengan total muatan sekitar 2,8 juta barel minyak.

Jika dibandingkan dengan rata-rata pengiriman minyak sepanjang tahun ini yang mencapai 19,8 juta barel per hari, maka angka pada 1 Maret menunjukkan penurunan sekitar 86 persen.

Penurunan tajam tersebut mengindikasikan bahwa sejumlah pengiriman minyak sempat dipercepat sebelum risiko keamanan meningkat. Setelah situasi memburuk, aktivitas penyeberangan hampir berhenti sepenuhnya.

Data terbaru juga menunjukkan terdapat 706 kapal tanker non-Iran yang kini menunggu untuk melintasi jalur tersebut. Rinciannya meliputi 334 kapal tanker minyak mentah, 109 kapal pengangkut produk minyak kotor, dan 263 kapal pengangkut produk minyak bersih.

Kapal-kapal tersebut tersebar di berbagai titik, mulai dari Teluk Persia di sisi barat Selat Hormuz, Teluk Oman di sisi timur, hingga Laut Arab.

Meskipun aktivitas pemuatan minyak mentah di dalam kawasan Teluk masih berlangsung, berkurangnya jumlah kapal yang berangkat ke arah timur melalui selat serta meningkatnya waktu tunggu diperkirakan akan menunda kedatangan kargo ke berbagai negara tujuan.

Kondisi ini juga berpotensi mengganggu rantai pasok energi global serta mendorong kenaikan biaya transportasi minyak.

Sejumlah laporan juga menyebutkan bahwa Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) mengirim pesan kepada kapal-kapal yang hendak melintas di Selat Hormuz bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melintasi jalur tersebut. Pesan tersebut dilaporkan disiarkan melalui frekuensi darurat internasional VHF Channel 16 yang digunakan oleh kapal-kapal di kawasan Teluk Persia.

Meski demikian, hingga kini belum ada pengumuman resmi yang menyatakan bahwa Selat Hormuz ditutup secara formal.

Namun sejumlah media Iran mengklaim bahwa selat tersebut secara efektif telah ditutup karena meningkatnya risiko keamanan di kawasan.

Situasi ini juga membuat sejumlah kapal kontainer memilih berbalik arah untuk menghindari perairan tersebut. Beberapa perusahaan pelayaran internasional bahkan dilaporkan menghentikan sementara operasi mereka melalui jalur Selat Hormuz.

Sementara itu, United Kingdom Maritime Trade Operations (UKMTO) menyatakan tingkat keamanan maritim di kawasan tersebut telah dinaikkan ke level kritis, kategori risiko tertinggi.

Langkah itu diambil setelah terjadi beberapa serangan terhadap kapal komersial pada akhir pekan di Teluk Oman, dekat wilayah Musandam, serta di perairan pesisir Uni Emirat Arab (UEA).

Kondisi ini mempertegas bahwa ketegangan geopolitik di Timur Tengah kini tidak hanya berdampak pada stabilitas regional, tetapi juga berpotensi memicu gangguan serius terhadap pasokan energi global.

(Amri-untuk Indonesia)