lognews.co.id, Jakarta – akademisi dan pengamat pertahanan serta hubungan internasional Connie Rahakundini Bakrie meminta Presiden Prabowo Subianto mempertimbangkan langkah keluar dari Board of Peace (BoP). Menurutnya, forum yang digagas Presiden Amerika Serikat Donald Trump itu dinilai tidak lagi relevan sebagai wadah perdamaian setelah memanasnya konflik di kawasan Timur Tengah.
Pernyataan tersebut disampaikan Connie menyusul eskalasi konflik yang melibatkan Iran serta serangan yang disebut didukung Amerika Serikat dan Israel. Ia menilai situasi tersebut justru menunjukkan bahwa forum yang diberi nama Dewan Perdamaian itu tidak lagi berfungsi sebagaimana tujuan awalnya.
“Dengan segala hormat, ini adalah kesempatan bagi Indonesia untuk keluar dari Board of Peace. Karena BoP ini sudah bukan lagi Board of Peace, tetapi sudah menjadi Board of War dengan kejadian di Iran ini,” kata Connie dalam pernyataan video di kanal youtube berita yang beredar kepada wartawan di Jakarta, Selasa (3/3/2026).
Menurut Connie, keterlibatan negara-negara yang dianggap memiliki kepentingan geopolitik besar dalam konflik Timur Tengah membuat keberadaan BoP dipertanyakan netralitasnya. Ia menilai forum tersebut berpotensi menyeret Indonesia dalam dinamika konflik global yang tidak sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia.
“ Anda lihat saja, saya baru dapat berita, ternyata yang duduk dalam rapat-rapat dengan Israel untuk menyerang Iran itu ada tokoh BOP. Jadi artinya sekarang BOP itu sudah bukan board of Peace tapi sudah Board of War. Jangan sampai Indonesia itu menghilangkan posisi strategik non alignment-nya atau bebas aktifnya hanya karena bergabung di BOP” terangnya.
Connie menegaskan Indonesia seharusnya kembali meneguhkan posisi sebagai negara non-blok yang menjunjung tinggi prinsip politik luar negeri bebas dan aktif. Dengan posisi tersebut, Indonesia dinilai lebih leluasa memainkan peran diplomasi perdamaian tanpa harus terikat pada blok kekuatan tertentu.
“Indonesia sejak awal dikenal sebagai negara inisiator gerakan non-blok. Posisi itu justru membuat kita lebih kuat dan independen dalam membawa isu perdamaian, termasuk persoalan Gaza di Palestina,” ujarnya.
Ia juga menilai bahwa sejak awal pembentukan BoP telah menimbulkan sejumlah pertanyaan, terutama karena forum tersebut dibentuk di luar mekanisme resmi Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB). Kondisi ini, menurutnya, membuat legitimasi forum tersebut tidak sekuat lembaga internasional yang telah diakui secara global.
Connie menilai Indonesia seharusnya berhati-hati dalam mengambil keputusan strategis terkait forum internasional yang berpotensi mempengaruhi posisi geopolitik negara. Ia menekankan bahwa langkah keluar dari BoP dapat menjadi jalan untuk mengembalikan posisi Indonesia pada prinsip netralitas yang selama ini menjadi fondasi diplomasi nasional.
“Sekali lagi, mundur dari Board of Peace yang kini berubah menjadi Board of War, dan kembali ke posisi non-alignment,” kata Connie.
Ia menambahkan, BOP akan memberatkan posisi Indonesia yang memiliki akar yang kuat dalam menjaga posisi non-blok dan tetap berperan aktif dalam mendorong penyelesaian konflik internasional.
(Amri-untuk Indonesia)



