lognews.co.id, Kabupaten Nunukan – Aksi seorang siswa SMP di wilayah perbatasan Indonesia–Malaysia menjadi perhatian publik setelah video orasinya di tengah jalan berlumpur tanpa alas kaki viral di media sosial. Peristiwa tersebut terjadi pada Sabtu (31/1/2025), saat siswa itu menyampaikan aspirasi terkait kondisi infrastruktur jalan di Krayan Timur, Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, yang dinilai menghambat aktivitas pendidikan.
Siswa bernama Gilbert Christian (13), kelas II SMP Negeri 1 Krayan Timur, menyampaikan bahwa kerusakan jalan, khususnya saat musim hujan, kerap menyulitkan pelajar menuju sekolah. Meski dirinya tinggal di Desa Long Umung yang relatif dekat, ia menyaksikan sejumlah temannya dari desa lain harus menempuh perjalanan lebih berat dengan risiko kendaraan tergelincir hingga pakaian kotor oleh lumpur.
Menurut penuturannya kepada media, kondisi jalan yang buruk membuat waktu tempuh menuju sekolah meningkat signifikan. Dalam kondisi normal perjalanan dapat ditempuh sekitar satu jam, namun saat hujan dapat bertambah hingga dua kali lipat. Situasi tersebut, kata Gilbert, tidak jarang membuat siswa enggan masuk kelas karena sepatu atau seragam tidak layak pakai.
Di tengah keterbatasan fasilitas, Gilbert dikenal sebagai siswa berprestasi dan mandiri. Ia mengaku konsisten meraih peringkat teratas di kelas sejak sekolah dasar. Di luar kegiatan belajar, Gilbert memiliki minat di bidang kuliner dan bercita-cita menjadi juru masak profesional. Ia juga terbiasa menyiapkan bekal sekolah secara mandiri sebagai latihan keterampilan memasak di rumah.
Terkait orasi yang menyinggung program Makan Bergizi Gratis (MBG), Gilbert menegaskan bahwa kebutuhan paling mendesak bagi pelajar di wilayahnya adalah perbaikan infrastruktur jalan dan fasilitas pendidikan. Selain akses jalan, keterbatasan buku perpustakaan dan jaringan internet turut menjadi kendala proses belajar.
Hingga kini belum terdapat pernyataan resmi dari otoritas pemerintah daerah mengenai tindak lanjut aspirasi tersebut. Peristiwa ini kembali memunculkan diskursus publik mengenai prioritas pembangunan di wilayah perbatasan dan daerah 3T, khususnya sektor infrastruktur dasar serta akses pendidikan. (Amri-untuk Indonesia)


