lognews.co.id - Sudah lebih dari tiga bulan berlalu sejak Mahad Al-Zaytun menyelenggarakan Pelatihan Pelaku Didik bertepatan dengan Hari Lahir Pancasila, 1 Juni 2025. Namun gema acara itu masih terasa hingga kini, terutama karena gagasan besar yang mengemuka: transformasi revolusioner pendidikan.
Pada kesempatan perdana itu, hadir Prof. Sutisna Wibawa, M.Pd, guru besar Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) sekaligus Ketua Dewan Pendidikan DIY. Ia menilai apa yang dibangun Syaykh Panji Gumilang di Al - Zaytun merupakan wujud nyata transformational leadership kepemimpinan yang mengubah arah peradaban pendidikan.
“Syaykh itu seorang transformational leader. Beliau mampu membawa yang dipimpinnya keluar dari zona nyaman menuju level tertinggi,” ujar Sutisna kala itu.
Dari Jalmo Utomo ke Lead by Example
Sutrisna mengaitkan konsep kepemimpinan Syaykh dengan filosofi Jawa “Jalmo Utomo”, yang sejajar dengan triloka Ki Hajar Dewantara: ing ngarso sung tulodo (di depan memberi teladan).
“Memimpin itu dengan contoh. Dalam Islam kita mengenalnya sebagai uswatun hasanah. Itu yang saya saksikan di Mahad,” katanya.
Semua Orang adalah Guru
Yang membuatnya terkesan, pelatihan ini tidak hanya menghadirkan guru atau dosen, tetapi juga melibatkan tukang masak, petugas pertanian, hingga penjaga keamanan.
“Ki Hajar mengatakan setiap orang adalah guru dan setiap tempat adalah sekolah. Di sini saya menyaksikan itu nyata. Tukang potong ayam, petani, sampai pengamanan semua ikut membangun ekosistem pendidikan,” jelasnya.
Konsep ini sejalan dengan teori community learning yang oleh Syaykh Panji Gumilang diformulasikan sebagai ekosistem pendidikan yang tidak terputus.
Jalan Menuju Indonesia Emas
Relevansi gagasan tersebut semakin terasa ketika Indonesia tengah menatap Visi 2045. Menurut Sutisna, sistem pendidikan integratif berasrama seperti di Al - Zaytun menjadi salah satu kunci melahirkan generasi emas.
“Pendidikan di Al - Zaytun 24 jam. Integrasi ilmu agama dan ilmu kehidupan. Inilah yang menyiapkan anak-anak menuju generasi emas,” ucapnya.
Sutisna menekankan bahwa pendidikan jauh lebih strategis dibanding bantuan sesaat untuk mengatasi kemiskinan.
500 Titik Ekosistem Pendidikan
Ia juga mengingat gagasan besar Syaykh membangun 500 titik ekosistem pendidikan di seluruh Nusantara, lengkap dengan pertanian, peternakan, dan industri.
“Kalau tiap kabupaten punya satu sekolah berasrama dengan ekosistem pendidikan lengkap, itu akan jadi lompatan luar biasa. Itulah transformasi revolusioner perubahan mendasar, bukan sekadar berubah,” tandasnya.
Dari Moral Knowing ke Moral Action
Selama kunjungan, Sutisna menyaksikan langsung anak-anak Al - Zaytun bukan hanya belajar teori, melainkan langsung praktik: menanam padi, memelihara ikan, hingga merawat ayam.
“Ini bukan sekadar moral knowing, tapi sudah moral action. Anak-anak benar-benar hidup dalam pendidikan yang mereka jalani,” ungkapnya.
Optimisme yang Masih Relevan
Meski acara itu telah berlangsung awal Juni lalu, pesan-pesan yang disampaikan masih relevan. Menurut Sutisna, meski jumlah pelajar di Al - Zaytun hanya sebagian kecil dari masyarakat Indonesia, mereka akan menjadi “emas” yang memberi dampak luas.
“Berapapun yang dididik di sini, mereka adalah emas-emas yang akan jadi pelopor di masyarakat. Sinergi pendidikan antara pemerintah dan masyarakat harus diwujudkan, bukan hanya di atas kata, tetapi lewat aksi nyata,” pungkasnya. (Sahil untuk Indonesia)


