Saturday, 07 February 2026

AL-ZAYTUN Melampaui Zamannya:Pendidikan Berasrama dan Pendekatan LSTEAMS Abad XXI

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

lognews.co.id - Sudah lebih dari dua dekade Mahad Al-Zaytun berdiri di Indramayu, Jawa Barat. Namun kisah kelahiran dan gagasan besar di baliknya tidak pernah kehilangan relevansi, terutama ketika bangsa Indonesia menatap cita-cita Indonesia Emas 2045.

Di balik institusi ini berdiri sosok yang dikenal sebagai tokoh pendidik yang visioner: Syaykh Panji Gumilang. Ia kerap menyebut Al-Zaytun bukan sekadar kampus, melainkan Pusat Pendidikan berciri khas “Pesanten spirit but modern system” yaitu suatu kehidupan yang berlandaskan nilai-nilai kemandirian dan kebersamaan, dimaksudkan agar pelajar secara penuh berada pada lingkungan pendidikan sehingga terbentuk pribadi yang mandiri dan bersahaja dengan mengembangkan nilai/prinsip manajemen modern, seperti bersikap berdasarkan ilmu pengetahuan, berorientasi pada program, mengikuti prosedur dalam organisasi, mempunyai etos kerja dan disiplin yang tinggi.

Al-Zaytun juga memiliki model Pendidikan yang berkelanjutan melalui “One Pipe Education System” didalam ligkungan Pendidikan di ekosistem pendidikan yang tidak terputus untuk 1.000 tahun ke depan.

Dari Gontor ke Gantar

Perjalanan Panji Gumilang bermula dari Pondok Modern Darussalam Gontor, almamater yang menempanya dalam disiplin, kemandirian, dan wawasan keislaman. Namun pada titik tertentu, Ia memiliki pengalaman kurang menyenangkan ketika menempuh Pendidikan kemudian berbagai kekurangan tersebut dengan sentuhan sensifitas kemudian Syaykh melihat perlunya lompatan baru dengan cara membuat model Pendidikan untuk perbaikan kualitas pendidikan ummat ..

Langkah besar itu membawanya dari Gontor ke sebuah desa bernama Gantar di Indramayu. Di atas lahan yang luas, ia mulai membangun mimpi besar yang kemudian dikenal dengan nama Mahad Al-Zaytun .

“Berbuat maka kamu ada. Tidak berbuat maka kamu tidak ada. Itulah hukum kehidupan,” ungkapnya dalam berbagai kesempatan, merangkum filosofi kerja keras yang ia tanamkan.

Al-Zaytun : Kampus, Pesantren, dan Model percontohan untuk dunia

Sejak awal berdirinya, Al-Zaytun bukan dimaksudkan sebagai kampus biasa. Konsepnya adalah pendidikan berasrama yang menyatu dengan alam dan teknologi. Anak-anak tidak hanya belajar teori di kelas, tetapi juga praktik langsung di sawah, perkayuan, perkapalan dan praktik untuk hidup sesama dengan lingkup mini Indonesia dengan bervariasinya budaya asal pelajar dari berbagai daerah hingga berbagai negara.

Setiap unsur kehidupan di Ma’had menjadi bagian dari proses belajar yang tidak terputus. Dari petani yang mengolah lahan, koki yang menyiapkan makanan, hingga tenaga keamanan semua disebut sebagai “pelaku didik”.

“Setiap orang adalah guru, setiap tempat adalah sekolah,” demikian Panji Gumilang sering menegaskan, mengutip prinsip Ki Hajar Dewantara lalu menerapkannya secara menyeluruh.

Tak heran, banyak pengamat menyebut Al-Zaytun sebagai perwujudan model pendidikan yang mandiri: memiliki pertanian, peternakan, perikanan, energi, hingga sistem pendidikan yang terintegrasi.

Revolusi Pendidikan: Dari Moral Knowing ke Moral Action

Berbeda dengan model pendidikan formal yang cenderung menekankan ujian dan hafalan, Al-Zaytun menekankan pembentukan karakter lewat pengalaman langsung.

Anak-anak tidak hanya diajarkan tentang etika, tapi dilibatkan dalam praktik nyata: menanam padi, merawat ayam, membersihkan lingkungan, hingga memimpin kegiatan.

“Ini bukan sekadar moral knowing, melainkan sudah moral action. Anak-anak hidup dalam nilai yang mereka jalankan setiap hari,” jelas Prof. Sutisna Wibawa, salah satu akademisi yang pernah menyaksikan langsung sistem di Al–Zaytun.

Mandiri dan Berjiwa Pancasila

Salah satu ciri utama gagasan Panji Gumilang adalah kemandirian. Ia menolak ketergantungan berlebihan pada negara atau pihak luar. Bagi Panji, kemandirian ekonomi adalah pondasi kemandirian bangsa.

Prinsip itu tidak berdiri sendiri, melainkan berpadu dengan komitmen kuat terhadap Pancasila. Dalam banyak forum, ia menegaskan bahwa Al-Zaytun adalah pesantren yang mandiri, nasionalis, dan berjiwa Pancasila.

“Cinta rupiah, cinta republik,” katanya suatu ketika, merangkum semangat nasionalisme ala Al-Zaytun.

Mimpi 500 Titik Pendidikan

Visi terbesar Panji Gumilang adalah mereplikasi model Al-Zaytun ke seluruh Indonesia. Ia pernah menyebut target 500 titik ekosistem pendidikan di berbagai daerah, masing-masing dengan lahan ribuan hektar dan sistem kemandirian penuh.

Jika terwujud, konsep ini bukan hanya melahirkan kampus, tetapi juga pusat-pusat peradaban baru yang mengintegrasikan ilmu, agama, dan ekonomi.

“Kalau tiap kabupaten punya satu sekolah berasrama dengan ekosistem pendidikan lengkap, itu akan jadi lompatan luar biasa. Inilah transformasi revolusioner yang kita butuhkan,” kata Prof. Sutrisna dalam refleksinya.

Warisan Gagasan

Kini, di tengah berbagai dinamika dan kritik yang mengiringi perjalanan Panji Gumilang, gagasan besar itu tetap menjadi bahan renungan: bisakah Indonesia membangun model pendidikan yang berdaya, mandiri, dan berjangka panjang seperti yang diimpikan Al-Zaytun?

Apapun jawabannya, kisah Panji Gumilang dari Gontor ke Gantar menunjukan satu hal: pendidikan tidak cukup hanya melahirkan lulusan, tapi harus menyiapkan generasi yang mampu berdiri tegak, memimpin, dan menghidupi bangsanya. (Sahil untuk Indonesia)