lognews.co.id, Beijing - Hubungan strategis Rusia dan China kembali menguat melalui kerja sama sektor energi nuklir dan teknologi masa depan. Perusahaan nuklir milik negara Rusia, Rosatom, dikabarkan menyiapkan tiga nota kesepahaman atau memorandum of understanding (MoU) baru dengan China dalam kunjungan Presiden Rusia ke Beijing pada pekan ini. (20/5/26)
Salah satu kerja sama utama yang menjadi sorotan adalah pengembangan riset energi termonuklir atau fusion energy. Teknologi tersebut selama ini disebut sebagai energi masa depan karena mampu menghasilkan energi sangat besar dengan tingkat emisi karbon rendah.
Selain riset energi termonuklir, kerja sama juga mencakup pengembangan sumber daya manusia sektor energi nuklir. Kedua negara disebut akan memperkuat kolaborasi teknologi dan penelitian strategis jangka panjang.
Pihak Rosatom menyebut seluruh dokumen kerja sama telah disiapkan untuk ditandatangani dalam agenda kunjungan kenegaraan Rusia ke China.
Kerja sama tersebut memperlihatkan hubungan Rusia dan China kini tidak hanya terbatas pada sektor perdagangan maupun politik internasional. Kedua negara mulai memperluas kolaborasi ke bidang teknologi strategis, energi masa depan, hingga pengembangan kawasan Arktik.
China juga disebut semakin tertarik bekerja sama dalam pengembangan Jalur Laut Utara atau Northern Sea Route, jalur pelayaran strategis Rusia di kawasan Arktik yang dinilai memiliki potensi besar bagi perdagangan global.
Kunjungan Rusia ke China kali ini turut membawa delegasi besar yang terdiri dari pejabat pemerintahan, pimpinan perusahaan negara, hingga otoritas sektor ekonomi dan energi.
Penguatan kerja sama tersebut terjadi di tengah meningkatnya dinamika geopolitik global. Rusia dan China dalam beberapa tahun terakhir terlihat semakin kompak dalam berbagai isu internasional, termasuk perdagangan, keamanan energi, dan pengembangan teknologi strategis.
Kolaborasi energi termonuklir juga dinilai menjadi langkah penting dalam persaingan penguasaan teknologi energi masa depan. Sejumlah negara besar saat ini berlomba mengembangkan teknologi fusion sebagai alternatif energi bersih pengganti bahan bakar fosil.
Jika berhasil dikembangkan secara komersial, teknologi tersebut diperkirakan mampu menjadi sumber energi berkapasitas besar dengan tingkat limbah dan emisi yang jauh lebih rendah dibanding energi konvensional. (Amri-untuk Indonesia)



