Wednesday, 29 April 2026

China Dinilai Berpeluang Jadi Penengah Saat Perundingan AS-Iran Alami Kebuntuan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id, Jakarta - China disebut semakin dilirik untuk memainkan peran lebih besar dalam meredakan konflik nuklir Iran di tengah mandeknya perundingan antara Teheran dan United States. Sejumlah pihak menilai Beijing memiliki posisi strategis untuk menjadi mediator baru dalam krisis tersebut. (29/4/26)

Filantropis sekaligus pengusaha yang dekat dengan negosiator Iran, Mohamed Amersi, menyebut Teheran berharap China dapat mengambil peran utama, termasuk kemungkinan menampung uranium Iran yang telah diperkaya tinggi.

Menurut dia, apabila China ingin diakui sebagai kekuatan global yang sedang naik daun, maka Beijing perlu mengambil langkah nyata dengan berbicara kepada Iran maupun Amerika Serikat dari posisi saling percaya.

Meski gencatan senjata telah tercapai dalam konflik yang sempat mengguncang ekonomi global akibat terganggunya ekspor minyak Timur Tengah, pembicaraan antara Washington dan Teheran masih menemui jalan buntu.

Pemerintahan Presiden Donald Trump disebut menekan Iran agar menghentikan pengayaan uranium, membatasi program rudal, serta menghentikan dukungan terhadap kelompok proksi.

Sebaliknya, Iran menuntut kompensasi atas serangan militer Amerika Serikat dan Israel sejak konflik pecah pada 28 Februari lalu.

Di tengah kebuntuan itu, China disebut telah bergerak di balik layar dalam mendorong tercapainya gencatan senjata. Kondisi ini dinilai memperkuat posisi diplomatik Beijing di tengah rivalitas global dengan Washington.

Amersi menilai salah satu langkah strategis yang dapat diambil China adalah mengambil alih uranium Iran yang telah diperkaya tinggi guna menekan risiko pengembangan senjata nuklir.

Selain itu, Beijing juga dapat menawarkan kerangka kerja baru terkait program nuklir Iran, sembari mengaitkan investasi ekonomi yang dibutuhkan Teheran dengan upaya de-eskalasi konflik.

Pendiri Center for China and Globalization, Henry Huiyao Wang, menilai peluang China menjadi mediator cukup terbuka apabila kedua pihak sama-sama menginginkan penurunan ketegangan.

Namun demikian, akademisi Beijing Language and Culture University, Shou Huisheng, mengingatkan Beijing tetap akan berhitung cermat agar tidak mengganggu hubungan strategis dengan Amerika Serikat.

Di sisi lain, konflik Iran juga menyentuh kepentingan energi China. Meski menjadi salah satu pembeli utama minyak Iran, Beijing dinilai masih memiliki sumber pasokan alternatif, cadangan energi memadai, serta percepatan penggunaan kendaraan listrik di dalam negeri.

Dengan dinamika tersebut, isu Iran diperkirakan menjadi salah satu agenda utama dalam pertemuan mendatang antara Trump dan Presiden Xi Jinping, selain pembahasan soal Ukraina, Taiwan, perdagangan, dan teknologi. (Amri-untuk Indonesia)