lognews.co.id, Teheran – Pemerintah Iran mengusulkan perubahan signifikan dalam mekanisme pembayaran biaya transit di Selat Hormuz, dengan mendorong penggunaan mata uang nasional rial sebagai alat pembayaran utama. Kebijakan ini dinilai sebagai langkah strategis untuk mengurangi dominasi Amerika Serikat dalam sistem keuangan global. (10/4/26)
Usulan tersebut disampaikan oleh Kepala Komisi Keamanan Nasional Parlemen Iran dan dipublikasikan melalui pernyataan resmi yang diunggah oleh konsulat jenderal Iran di Mumbai pada Jumat (10/4/2026).
Langkah ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan, khususnya pasca konflik yang melibatkan Iran, AS, dan Israel. Dalam situasi tersebut, Iran sempat memberlakukan kebijakan pungutan transit de facto selama periode blokade Selat Hormuz.
Sejumlah laporan menyebutkan bahwa selama fase tersebut, kapal-kapal komersial dikenakan biaya transit dalam mata uang yuan China. Bahkan, setidaknya dua kapal dilaporkan telah melakukan pembayaran menggunakan yuan pada 25 Maret 2026, berdasarkan data Lloyd’s List.
Para analis menilai langkah Iran sejalan dengan upaya bersama antara Teheran dan China untuk melemahkan dominasi dolar AS dalam perdagangan internasional, khususnya di sektor energi dan jalur logistik strategis.
Sementara itu, dinamika diplomasi terus bergerak. Wakil Presiden AS, JD Vance, menyatakan bahwa peluang negosiasi dengan Iran masih terbuka. Ia menyebut Presiden Donald Trump telah memberikan arahan jelas terkait pendekatan diplomatik terhadap Teheran.
Vance juga mengonfirmasi rencananya menuju Islamabad, Pakistan, untuk membahas perkembangan terbaru dengan pihak Iran. Ia menilai bahwa potensi dialog masih dapat menghasilkan hasil yang positif, meskipun tetap disertai peringatan terhadap kemungkinan sikap tidak kooperatif dari Teheran.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar sepertiga distribusi minyak dunia. Setiap perubahan kebijakan di kawasan ini berpotensi memicu dampak luas terhadap stabilitas energi global dan sistem perdagangan internasional.
Dengan usulan penggunaan rial, Iran tidak hanya mengubah mekanisme teknis pembayaran, tetapi juga mengirim sinyal kuat terkait pergeseran lanskap geopolitik dan ekonomi global yang tengah berlangsung. (Amri-untuk Indonesia)



