Sunday, 29 March 2026

China Diproyeksi Jadi Penggerak Inovasi Teknologi Industri Masa Depan

Star InactiveStar InactiveStar InactiveStar InactiveStar Inactive
 

lognews.co.id – China semakin memantapkan diri sebagai salah satu pusat inovasi teknologi paling progresif di dunia. Pernyataan itu ditegaskan Chairman 48 Group, Jack Perry, dalam sesi wawancara di sela Forum Boao untuk Asia (BFA) di Provinsi Hainan. Menurutnya, percepatan riset dan inovasi China secara simultan mendorong kemajuan robotika, energi hijau, kecerdasan buatan, dan manufaktur canggih, yang menjadi fondasi industri masa depan. (26/3/26)

Perry menilai strategi pembangunan China berbasis produktivitas berkualitas tinggi telah mengubah negara itu dari latecomer menjadi aktor utama dalam ekosistem teknologi global. Transformasi ini tercermin dari meningkatnya kapasitas manufaktur kelas atas, penguasaan rantai pasok, serta tingginya minat investasi asing yang melihat stabilitas dan pertumbuhan jangka panjang China.

Ia menekankan bahwa konsep “Made in China” kini telah bergerak menuju model baru: “Created in China, cultivated in China, sold by China.” Pergeseran paradigma itu membuat berbagai inovasi lahir, dikembangkan, dan dikomersialisasikan langsung dari China, memberikan kontrol yang lebih kuat terhadap pasar akhir maupun arsitektur rantai pasokan global.

Dalam wawancara itu, Perry memuji ambisi China membangun kemampuan kelas dunia pada sektor strategis mulai dari energi terbarukan, otomasi industri, hingga teknologi hijau. Di kawasan seperti Zona Nol Karbon Boao, China memamerkan implementasi langsung teknologi rendah emisi yang menjadi acuan negara lain dalam transisi energi.

Perry juga menyoroti isu tata kelola kecerdasan buatan (AI). Menurutnya, AI menembus batas geografis dan membawa sensitivitas tinggi terkait data, privasi, aset digital, hingga sektor keuangan. Ia menyatakan dukungan terhadap Inisiatif Tata Kelola AI Global yang dipromosikan China, dan menilai kerja sama multilateral diperlukan untuk mencegah penyalahgunaan dan menciptakan ekosistem AI yang aman.

Selain menyoroti peran China, Perry melihat Asia sebagai pusat dinamika ekonomi global. Klaster industri, kedekatan geografis, dan pasar yang tumbuh cepat membuat Asia menjadi magnet investasi. Ia mendorong penguatan integrasi ekonomi kawasan melalui mekanisme seperti RCEP untuk mengurangi hambatan perdagangan serta meredam dampak proteksionisme global.

Di tengah ketidakpastian geopolitik, Perry menyebut China sebagai negara yang konsisten mendorong multilateralisme dan stabilitas ekonomi global. Menurutnya, kerja sama internasional—bukan kompetisi menang-kalah—merupakan kunci membangun tatanan ekonomi masa depan yang inklusif dan berkelanjutan.

Perry menutup pernyataan dengan optimisme bahwa inovasi dan keterbukaan China akan menjadi motor penggerak industri global di dekade mendatang, sekaligus membuka ruang kemitraan yang lebih luas bagi negara-negara di Asia dan dunia.

(Amri-untuk Indonesia)