lognews.co.id, Indramayu — Pindang Gombyang, hidangan khas berbahan kepala ikan manyung, terus menjadi primadona kuliner pesisir Indramayu. Sajian yang awalnya dianggap limbah dari industri pengolahan jambal roti kini berkembang menjadi komoditas bernilai ekonomi dan daya tarik utama wisata kuliner Pantura. (19/8/26)
Hidangan ini dikenal memiliki kuah kuning bercita rasa asam-gurih yang berasal dari perpaduan kunyit, jahe, asam jawa, dan rempah pesisir. Proses pengukusan terlebih dahulu membuat tekstur daging kepala manyung tetap lembut dan tidak hancur, menjadikan cita rasa Pindang Gombyang kaya, segar, dan berlapis.
Harga per porsi berada pada kisaran Rp50.000–Rp75.000, bergantung ukuran kepala ikan. Nilai tersebut menunjukkan keberhasilan masyarakat pesisir mengoptimalkan bagian ikan yang dulu kurang dihargai menjadi hidangan dengan nilai tambah tinggi dan diminati wisatawan.
Di sejumlah sentra kuliner, produksi Pindang Gombyang dapat mencapai puluhan hingga ratusan porsi per hari. Pasokan kepala manyung diperoleh langsung dari nelayan setempat, memastikan kontinuitas bahan baku serta mendorong perputaran ekonomi lokal.
Popularitas Pindang Gombyang juga mendorong tumbuhnya varian menu pendamping, seperti sambal pesisir, nasi pulen, dan rempah lokal yang memperkaya pengalaman kuliner wisatawan. Konsistensi rasa dan karakter kuah kuning yang khas membuat sajian ini selalu diburu, terutama oleh pelancong yang singgah setelah menikmati wisata bahari di Karangsong dan wilayah pesisir lain.
Transformasi Pindang Gombyang dari limbah menjadi kuliner unggulan membuktikan kapasitas inovasi masyarakat Indramayu dalam memaksimalkan potensi maritim. Seiring berkembangnya sektor wisata, Pindang Gombyang membuka peluang ekonomi kreatif sekaligus memperkuat identitas gastronomi Kabupaten Indramayu sebagai pusat kuliner pesisir Jawa Barat.
(Amri-untuk Indonesia)



