Sunday, 29 March 2026

Pesan Syaykh Al Zaytun: Menata Hidup Pasca Shaum Ramadhan

User Rating: 5 / 5

Star ActiveStar ActiveStar ActiveStar ActiveStar Active
 

(Disarikan dari Dzikir Jumat Syaykh Al Zaytun) Oleh : Ali Aminulloh

lognews.co.id - Selesai Shalat Jumat, 27 Maret 2026, Syaykh AS Panji Gumilang menyampaikan taushiyah Dzikir Jumat. Suasana terasa lebih khidmat dari biasanya. Beliau menyampaikan pesan-pesan kehidupan yang menembus kesadaran yang tidak sekadar menyentuh aspek ibadah, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang bagaimana manusia harus hidup di tengah tantangan zaman.

Setelah Idul Fitri, manusia hanya diberi satu hari kebebasan penuh untuk makan dan menikmati hidangan. Namun setelah itu, kembali diajak berpuasa selama enam hari di bulan Syawal. Sebuah pola yang jika direnungkan, bukan sekadar sunnah, tetapi latihan kehidupan. Bahwa manusia tidak boleh larut dalam kenyamanan terlalu lama. Harus ada kendali, harus ada ritme, harus ada kesadaran.

Puasa dalam pandangan ini tidak berhenti pada rutinitas dari Subuh hingga Maghrib. Syaykh mengajak jamaah untuk memahami lebih dalam makna ayat:

“... tsumma atimmus shiyama ilallail ...”
“… kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai malam …” (QS. Al Baqarah: 187)

Kata “ilallail” menjadi titik refleksi. Selama ini sering dimaknai hingga Maghrib, padahal “lail” adalah bermakna malam, seperti halnya shalat "lail" . Di beberapa wilayah, seperti Iran bahkan dipahami hingga setelah Isya. Dari sinilah muncul gagasan pola makan teratur dalam waktu terbatas, yang hari ini dikenal sebagai intermittent fasting. Sebuah konsep yang tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi juga menjadi solusi menghadapi krisis pangan global.

Bahkan lebih jauh, pola hidup ini diarahkan untuk efisiensi dan ketahanan. Makan tidak berlebihan, tetapi cukup. Siswa tetap dijaga kebutuhan nutrisinya, dengan pola makan besar di siang hari dan tambahan makanan sederhana seperti singkong atau ubi. Sebuah pendekatan sederhana, namun sarat makna: hidup secukupnya, tetapi tetap kuat.

Namun taushiyah itu tidak berhenti pada pola makan. Ia bergerak ke isu yang lebih besar: krisis pupuk dan ketahanan pangan. Dunia selama ini bergantung pada negara-negara seperti Ukraina, Rusia, dan kawasan Teluk. Ketika pasokan terganggu, banyak yang panik. Tetapi di sinilah Syaykh mengajak berpikir berbeda.

Solusinya bukan mengeluh, tetapi mencipta.

Dari lingkungan sekitar, dari hal-hal yang sering dianggap remeh, seperti ikan laut, tulang ikan, rumput laut, kulit durian, ampas kopi, cocopeat, hingga kulit udang, semuanya bisa diolah menjadi pupuk organik. Bahkan tidak berhenti di situ, tetapi ditingkatkan hingga berbasis teknologi nano. Sebuah lompatan pemikiran yang menggabungkan kearifan lokal dengan inovasi masa depan.

Pesan itu kemudian ditegaskan dengan ayat Al-Qur’an yang menjadi landasan kekuatan:

وَأَعِدُّوا لَهُم مَّا اسْتَطَعْتُم مِّن قُوَّةٍ وَمِن رِّبَاطِ الْخَيْلِ تُرْهِبُونَ بِهِ عَدُوَّ اللَّهِ وَعَدُوَّكُمْ وَآخَرِينَ مِن دُونِهِمْ لَا تَعْلَمُونَهُمُ اللَّهُ يَعْلَمُهُمْ ۚ وَمَا تُنفِقُوا مِن شَيْءٍ فِي سَبِيلِ اللَّهِ يُوَفَّ إِلَيْكُمْ وَأَنتُمْ لَا تُظْلَمُونَ

Artinya:
“Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah, musuhmu, dan orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; Allah mengetahuinya. Apa saja yang kamu infakkan di jalan Allah, niscaya akan dibalas dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dizalimi.”

(QS. Al-Anfal: 60)

Ayat ini menjadi pengingat bahwa kekuatan tidak selalu berarti senjata. Kekuatan bisa berupa ilmu, strategi, kemandirian pangan, hingga kemampuan mengelola sumber daya. Semua yang dimiliki harus disiapkan semaksimal mungkin.

Dan pada akhirnya, sikap menjadi penentu.

“Idfa’ billati hiya ahsan” (hadapi dengan cara yang terbaik).

Bukan dengan emosi, bukan dengan keluhan, tetapi dengan kecerdasan dan ketenangan. Setiap masalah dibaca, dipetakan, lalu diselesaikan satu per satu. Tidak panik, tidak reaktif, tetapi strategis.

Dari Dzikir Jumat itu, satu pesan kuat terasa menggema:
bahwa ibadah sejati bukan hanya ritual, tetapi cara hidup.

Cara berpikir.
Cara bersikap.
Cara menghadapi masa depan.

Dan mungkin, di situlah letak perubahan besar itu bermula, yaitu
dari kesadaran kecil yang benar-benar dijalankan.

Oleh : Ali Aminulloh