الخميس، 07 أيار 2026

Prabowo Restui 7 Strategi Bank Indonesia Perkuat Rupiah

تعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجومتعطيل النجوم
 

lognews.co.id, Jakarta – Presiden Prabowo Subianto merestui tujuh strategi yang disiapkan Bank Indonesia (BI) untuk memperkuat nilai tukar rupiah di tengah tekanan pelemahan dalam beberapa hari terakhir. (06/5/26)

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan tujuh strategi tersebut dalam jumpa pers di pelataran Istana Merdeka, Jakarta, Selasa (5/5/2026) malam, usai rapat terbatas bersama Presiden dan Komite Stabilitas Sistem Keuangan.

“Presiden merestui dan memberikan penguatan terhadap tujuh langkah penting yang ditempuh untuk menjaga stabilitas rupiah,” ujar Perry.

Strategi pertama difokuskan pada penguatan intervensi di pasar valuta asing, baik domestik maupun offshore. BI memastikan cadangan devisa dalam kondisi memadai untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Langkah kedua dan ketiga menitikberatkan pada penguatan arus modal masuk serta koordinasi erat antara kebijakan fiskal dan moneter. BI mengoptimalkan instrumen Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) guna menjaga keseimbangan aliran modal asing, sekaligus melakukan pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder yang hingga kini telah mencapai Rp123,1 triliun.

Strategi keempat adalah menjaga likuiditas perbankan dan pasar uang tetap longgar. Kondisi ini tercermin dari pertumbuhan uang primer yang berada di level dua digit, terakhir tercatat sebesar 14,1 persen.

Pada strategi kelima, BI menerapkan pembatasan pembelian dolar AS di pasar domestik. Batas maksimal yang sebelumnya sebesar 100.000 dolar AS diturunkan menjadi 50.000 dolar AS per orang per bulan, dengan rencana pengetatan lanjutan hingga 25.000 dolar AS bagi transaksi tanpa underlying aset.

Langkah keenam mencakup penguatan intervensi di pasar offshore melalui skema Non-Deliverable Forward (NDF), termasuk membuka ruang bagi bank domestik untuk berpartisipasi guna menambah pasokan valas.

Sementara strategi ketujuh menitikberatkan pada penguatan pengawasan sektor keuangan, khususnya aktivitas perbankan dan korporasi yang memiliki eksposur tinggi terhadap pembelian dolar. Pengawasan ini dilakukan melalui koordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan.

Perry menegaskan, seluruh langkah tersebut dirancang untuk menjaga stabilitas sistem keuangan nasional sekaligus memperkuat fundamental rupiah di tengah dinamika global yang masih bergejolak.

(Amri-untuk Indonesia)