lognews.co.id, Indramayu – Kabupaten Indramayu dikenal sebagai salah satu daerah penghasil batik pesisir dengan karakter motif yang khas dan berbeda dari batik pedalaman Jawa. Batik tulis Indramayu banyak menampilkan unsur flora dan fauna laut yang merefleksikan kehidupan masyarakat nelayan dan petani di wilayah Pantai Utara Jawa. (14/5/26)
Motif batik Indramayu umumnya menggambarkan ikan, udang, cumi-cumi, bunga, daun, akar hingga aneka jenis burung seperti motif Lokcan yang bermakna “sutera biru”. Karakter visualnya didominasi susunan motif non-geometris yang menyebar dinamis memenuhi bidang kain.
Beberapa motif yang cukup populer di antaranya Kembang Srengenge, Jati Rombeng, Jahe Srimpang, Manuk Tetingkring, Jarot Asem, Teluki, Pring Sedapur, Kembang Karang, Lasem Urang hingga Dara Kipu.
Secara artistik, batik Indramayu memiliki ciri penggunaan garis lengkung dan garis runcing yang disebut ririan dengan latar penuh titik-titik kecil atau cocohan. Teknik isen-isen banyak memakai garis pendek halus yang dikenal sebagai sawut.
Warna yang digunakan umumnya berupa kombinasi merah marun, biru tua, dan latar terang. Kombinasi tersebut memperkuat identitas batik pesisir yang tegas namun tetap atraktif.
Budayawan batik menyebut kemunculan ragam motif Indramayu dipengaruhi kondisi geografis, adat istiadat, kepercayaan masyarakat, serta hubungan perdagangan antardaerah pembatikan di pesisir utara Jawa.
Kehidupan masyarakat nelayan dan petani menjadi inspirasi utama para pembatik dalam menciptakan motif. Karena itu, banyak ornamen menggambarkan laut, tumbuhan pantai, hingga aktivitas masyarakat pesisir.
Beberapa motif memiliki makna sosial tersendiri. Motif Ganggeng misalnya menggambarkan rumput laut khas pesisir utara Jawa. Penggunaan warnanya juga dibedakan berdasarkan usia dan kondisi sosial pemakai.
Warna merah terang dipakai perempuan muda, merah-biru digunakan perempuan yang telah memiliki anak, merah keunguan dipakai perempuan lanjut usia, sedangkan warna hitam lazim digunakan dalam tradisi penutup jenazah.
Selain itu terdapat motif Etong yang menggambarkan satwa laut seperti ikan, udang dan kepiting, motif Kapal Terdampar yang terinspirasi kapal nelayan, hingga motif Swastika yang lahir pada masa pendudukan Jepang sebagai simbol situasi keras kala itu.
Motif Merak Ngibing menampilkan keindahan burung merak, sementara Kereta Kencana menggambarkan aktivitas Raja Wiralodra di lingkungan keraton.
Dalam perkembangannya, batik Indramayu mengalami transformasi dari sisi desain, warna, dan fungsi. Kini banyak motif memadukan unsur tradisional dengan gaya modern dan abstrak menyesuaikan selera pasar.
Meski demikian, identitas utama batik Indramayu sebagai batik pesisir yang kaya unsur alam dan budaya lokal tetap dipertahankan sebagai bagian dari warisan budaya masyarakat Pantura Jawa Barat. (Amri-untuk Indonesia)



