lognews.co.id, Jakarta - Ikatan Dokter Anak Indonesia mengingatkan orang tua untuk mewaspadai risiko heat stroke pada anak di tengah cuaca panas ekstrem selama musim kemarau yang dipicu fenomena El Nino. (20/5/26)
Ketua Satgas Kesehatan Lingkungan dan Perubahan Iklim IDAI, Darmawan Budi Setyanto, mengatakan pengaturan aktivitas luar ruangan dan pemenuhan cairan menjadi langkah penting untuk mencegah heat stroke pada anak.
Menurutnya, heat stroke merupakan kondisi ketika suhu tubuh meningkat drastis akibat gangguan sistem pengatur suhu tubuh atau hipertermia.
“Yang perlu ditekankan adalah kebiasaan minum. Ditekankan pada anak-anak untuk membawa bekal air minum dan sering-sering minum,” kata Darmawan dalam seminar daring terkait dampak El Nino terhadap kesehatan anak.
Ia menjelaskan, cuaca panas berkepanjangan dapat memicu dehidrasi, terutama saat anak banyak beraktivitas di luar ruangan. Anak sering kali tidak segera minum karena belum merasa haus, padahal tubuh tetap membutuhkan cairan untuk menjaga metabolisme dan suhu tubuh tetap stabil.
Selain memperbanyak minum air putih, orang tua juga diminta membiasakan anak mengonsumsi air hangat dan tidak mudah tergoda minuman dingin.
“Kita ubah jargon dari dingin lebih nikmat jadi hangat lebih nikmat dan sehat,” ujarnya.
IDAI juga menyarankan anak menggunakan pelindung kepala seperti topi saat beraktivitas di bawah terik matahari untuk mengurangi paparan panas langsung.
Darmawan mengingatkan orang tua agar mengenali gejala awal heat stroke pada anak. Beberapa tanda yang perlu diwaspadai antara lain suhu tubuh meningkat cepat hingga lebih dari 40 derajat Celsius, kulit panas namun tidak berkeringat, napas cepat dan dangkal, hingga gangguan kesadaran.
Ia mengatakan kondisi tersebut terjadi karena tubuh gagal mengeluarkan panas melalui keringat sehingga suhu tubuh meningkat secara drastis.
Pada kondisi berat, heat stroke dapat menyebabkan gangguan fungsi otak, kejang, hingga kehilangan kesadaran apabila tidak segera ditangani.
Fenomena El Nino yang diperkirakan berlangsung dalam intensitas tinggi tahun ini dinilai meningkatkan risiko gangguan kesehatan pada anak, termasuk dehidrasi dan heat stroke akibat suhu lingkungan yang semakin panas. (Amri-untuk Indonesia)



