lognews.co.id, Jakarta — Inovasi kesehatan sederhana bernama Iron Lucky Fish atau “ikan besi” menjadi sorotan sebagai alternatif untuk membantu mencegah Anemia, khususnya di wilayah dengan keterbatasan akses nutrisi.
Metode ini digunakan dengan cara memasukkan potongan logam berbentuk ikan ke dalam air atau masakan berkuah saat proses memasak. Selama pemanasan, sebagian zat besi dari logam akan larut dan ikut terkonsumsi bersama makanan.
Secara ilmiah, prinsip ini bukan hal baru. Penggunaan peralatan masak berbahan besi telah lama diketahui dapat meningkatkan kandungan zat besi dalam makanan. Hal ini juga diperkuat oleh sejumlah studi, termasuk publikasi di Journal of Food Science, yang menyebutkan bahwa zat besi dapat berpindah ke makanan selama proses memasak, terutama dalam kondisi asam.
Zat besi yang dihasilkan dari metode ini termasuk jenis non-heme, yakni bentuk yang banyak ditemukan pada sumber nabati. Meski tingkat penyerapannya lebih rendah dibanding zat besi heme dari produk hewani, efektivitasnya dapat ditingkatkan dengan tambahan vitamin C, seperti dari jeruk atau tomat.
Dalam praktiknya, penggunaan Iron Lucky Fish biasanya dilakukan dengan merebusnya selama sekitar 10 menit dalam air atau makanan berkuah. Proses ini membantu pelepasan zat besi secara bertahap, bukan dalam jumlah besar secara instan.
Meski memiliki dasar ilmiah, para ahli menilai Iron Lucky Fish lebih tepat sebagai solusi pelengkap, bukan pengganti penanganan medis. Efektivitasnya sangat bergantung pada pola makan secara keseluruhan, cara penggunaan, serta kondisi kesehatan individu.
Dengan demikian, Iron Lucky Fish dapat menjadi opsi praktis untuk meningkatkan asupan zat besi, terutama bagi masyarakat dengan risiko kekurangan zat besi. Namun, pendekatan ini tetap perlu diimbangi dengan konsumsi makanan bergizi seimbang dan konsultasi medis jika diperlukan. (Amri-untuk Indonesia)



